- Back to Home »
- Bebas »
- Tidak Tau
Posted by : Unknown
Sunday, November 23, 2014
Apalagi yang luput untuk diceritakan? Gelas-gelas kosong,
isak tangis surut, pelayat beringsut meninggalkan rumah duka dan ayat-ayat suci
menguap di udara. Jenazah masih berbaring kaku, asing dari keajaiban.
Suasana berkabung dengan air mata dan doa-doanya terlalu
menyedihkan. Aku memandang Togar, teman lamaku sejak kecil, dari kejauhan. Dia
setengah mati menahan diri untuk tidak menangis. Padahal dia berhak untuk itu.
Kami berdua dan adiknya; Ranto, yang menjadi jenazah sekarang, tak pernah luput
satu sama lain semenjak kecil. Aku pun mestinya menangis, tapi tidak. Tuhan—dan
Anda juga nanti—tahu aku adalah orang yang menyedihkan. Tidak perlu air mata
untuk membuktikan itu.
Para pelayat mulai surut; tinggal keluarga inti, beberapa
kerabat dekat dan kekasih yang ditinggal pergi. Aku meminta diri. Togar
mengerti lalu mengantar sampai ke pintu. Jabat tangan kami berlanjut jadi
pelukan erat. Aku merasakan cairan hangat merembes di punggungku. Samar sebuah
isak lolos dari pengawasannya, kemudian dia melepas lengannya dariku dengan
wajah seperti yang selalu kulihat: air muka keras dengan keangkuhan yang khas
serta segaris senyum yang jarang luput dipasang. ”Sering-sering main ke sini,”
katanya. ”Pasti,” jawabku. Kami saling bertukar salam dan dia kembali
menyelinap dalam kesedihannya.
Aku berbalik menelusuri jalan pulang. Pukul dua. Fajar
tinggal beberapa jam lagi. Purnama masih bergelayut di mana dia semestinya
berada. Begitu pucat, begitu pasi. Begitu mati. Aku terus melangkah tanpa
menoleh ke arah rumah duka untuk terakhir kalinya. Aku tidak bisa kembali
melihat kesedihan itu. Tidak setelah air mata Togar merembes di punggungku. Aku
tidak pernah menyambanginya lagi setelah malam itu.
Mungkin kematian bukanlah hal yang menyenangkan untuk
memulai sebuah cerita, tapi sebuah cerita tetap harus dimulai dengan cara apa
pun itu. Yang barusan kau baca bukanlah kematian pertama dan, aku bisa
memastikan, bukanlah yang terakhir yang pernah bersentuhan denganku. Enam bulan
setelahnya, kakek meninggal. Nenek benar-benar terpukul dan nampak kehilangan
sebagian besar porsi kehidupannya. Satu tahun kemudian, beliau menyusul.
Sebelum kusadari, aku mulai menandai waktu dengan kepergian orang-orang di
sekelilingku. Mungkin aku terkesan terlalu muram; terlalu melebih-lebihkan,
tapi seperti sudah kubilang sejak awal, pada dasarnya aku memang orang yang
menyedihkan.
***
Selepas kuliah aku mulai mengendus rupiah sebagai freelance
graphic designer. Nama yang kedengarannya cukup upbeat—mungkin karena ditulis
dalam cetak miring—tapi biar aku luruskan terlebih dahulu: kemilau graphic
design nyaris hanya sebatas nama. Sebagian lulusan sekolah graphic design
terdampar menjadi pengusaha jasa printing kelas menengah dan sebagian besar
ilmu yang dibayar dengan harga mahal tersesat tak tersalurkan. Sebagian lain
bekerja mati-matian untuk memenuhi tuntutan industri kemasan sekaligus harus
berhadapan dengan klien keras kepala, pesaing picik dan perlombaan dengan
waktu.
Lama-kelamaan kau akan kelelahan dan ketika rasa lelah itu
merongrong batok tengkorakmu, fakta yang tak terelakkan menendang bokongmu:
kreativitas yang awalnya kau harapkan akan membantu mendaki tangga karier tak membawamu
ke mana-mana. Kreativitas hanya kemampuan membongkar-pasang idiom-idiom klise
lawas dari tempat sampah untuk menghasilkan sesuatu yang—nampaknya—baru. Yang
benar-benar kau butuhkan adalah kecerdasan sosial.
Secara finansial mungkin pekerjaan ini tidak terlalu
memuaskan, tapi tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Aku juga butuh makan dan
orangtuaku tidak bisa terus-terusan memanggul tanggung jawab itu. Bekerja
adalah hal yang semestinya dilakukan selepas kuliah. Untuk itulah orang rela
membuang uang demi pendidikan. Semua orang tahu: lahir, sekolah, kerja,
menikah, punya anak, kerja lagi, dan akhirnya, mati.
Hari-hari berlalu. Banyak cerita yang luput. Lima tahun
setelah pemakaman Ranto aku berusia dua puluh enam dengan pekerjaan tetap dalam
media massa. Wanita datang-pergi, dua tahun ini bernama Asri. Satu tahun lebih
muda, cerdas, manis, dan punya senyum menawan ala iklan pasta gigi.
***
Kematian menghadang suatu pagi. Tak diduga dan tak dikenal,
bergelimpang begitu saja di tengah jalan dengan sayur-mayur, tangis bocah dan
sepeda motor tua. Sebuah truk melanggar sebuah keluarga kecil yang berboncengan
di atas motor di perempatan. Sang ibu hanya luka kecil, begitu juga dengan
kedua anaknya—bocah laki-laki sekitar lima tahun dan gadis cilik selisih
beberapa tahun lebih tua, keduanya berseragam SD. Namun tidak dengan sang
bapak. Wajahnya rusak terhantam trotoar dan tubuhnya remuk tergilas roda truk.
Dia tewas seketika. Puluhan orang mengerubung, polisi merapikan lalu lintas
yang kusut. Beberapa orang ditagih keterangan. Sopir truk bermata merah
diamankan. Aku urung bekerja hari itu.
Ibu terkejut melihat kepulanganku, hari masih pagi dan aku
sudah pulang dengan awan hitam menggantung di atas ubun-ubun. Aku bilang
sedikit tidak enak badan, dia percaya lalu pergi ke kamar mandi. Di atas kasur
aku mereka ulang kejadian; bapak menjemput ibu di pasar lalu mengantar kedua
anaknya bersekolah. Lampu lalu lintas berubah merah, tapi kedua anaknya sudah
hampir terlambat. Tak ada kendaraan lewat di depan. Dia tancap gas. Lalu sopir
truk: pertengkaran dengan istri membuatnya tak bisa tidur semalaman, matanya
berat meski segelas kopi kental sudah disikat. Lampu kuning, dia mengusap mata
dan menggeleng keras mengusir kantuk. Gas diinjak dalam karena kecepatan bisa
membuatnya tetap terjaga. Sepeda motor melengang dengan suara terbatuk. Kantuk
diusir panik. Rem sempat diinjak, tapi terlambat tetap terlambat.
***
Keputusan itu datang begitu saja. Mendadak menelusup masuk
ke kepalaku ketika ia terpelanting di atas bantal. Aku harus keluar dari tempat
ini, sangkar yang menjadi tempatku kembali sampai sekarang. Memalukan, kata
orang, masih tinggal bersama orangtua. Tapi bukan itu yang jadi alasan.
Kejadian di jalan beberapa hari lalu terus menghantui kepalaku. Darah di jalan,
anak-anak menangisi kematian ayah di dekapan ibu mereka—begitu intim. Begitu
tragis.
Seperti foto di dinding: ibu—dengan gaun merah dan rambut
disisir ke belakang—di sebelah kiri; memangku adik yang tidak sempat bersiap
untuk difoto, ayah mengenakan jas hitam dan sebuah kumis tipis berdiri kaku di
samping ibu, aku di depannya, tujuh tahun, dengan setelan kemeja putih dan tawa
lebar. Waktu membuat foto itu usang. Kenangan di dalamnya terasa berjarak. Di
dalam bingkai itu aku menemukan sebuah keluarga. Begitu intim. Ketika aku
mendapati diriku sendirian di meja makan untuk makan malam: begitu tragis.
Tidak ada drama ketika aku pergi karena aku tidak pergi
jauh. Rumahku hanya empat puluh lima menit dari rumah. Ibu masih tertidur waktu
aku mengangkut barang terakhir, adik sudah pergi kuliah sedari pagi dan ayah
pun tak ada di rumah. Tempat tinggal baruku benar-benar sederhana. Satu ruang
tamu, dua kamar tidur, satu kamar mandi dan satu dapur. Sedikit perabotan…
paling tidak aku bisa menyebutnya rumah.
Dua tahun kemudian aku dan Asri menikah.
Hari-hari yang baru menunggu di depan sana. Aku mencintai
Asri dan mungkin dia juga begitu. Kebahagiaan-kebahagiaan kecil terus menyisip
dari balik selimut, kopi pagi, dan telepon di jam istirahat.
***
Suatu malam aku terbangun dengan keringat dingin. Mimpiku
pasti buruk sekali, mujur aku lupa ketika terjaga. Mimpi itu masih menyisakan
teror yang merayap di balik kulit. Merobek dinding tipis yang memisahkannya
dari realitas dan mengintip dari celah sempit. Mengintai dengan tajam matanya
yang entah, menunggu waktunya tiba. Aku tidak tahu apa. Asri tidur meringkuk
memunggungiku. Tersesat dalam mimpinya sendiri. Saat seperti inilah, pembaca
yang budiman, kesepian nyata-nyata menyelimuti dan kau bisa menggapai tanganmu
untuk merangkulnya.
”Jatuh tertidur sungguh mengerikan,” celetuk Patricia
Franchini. ”Tidur memisahkan manusia. Meski kau sedang tidur bersama seseorang,
kau tetap sendiri.”
Hey, siapa Patricia Franchini? Apa urusan dia di cerita
ini?
Aku bangkit menuju dapur untuk sekaleng bir lalu duduk di
ruang tamu. Dua pasang mata di dinding memandangiku tanpa berkedip. Tapi bukan
aku benar yang mereka pandang. Tatapan itu terlempar jauh ke depan, menantang
masa depan dan segala kejutan yang disimpannya tanpa bersenjata apa-apa.
Mungkin tanpa senjata sama sekali pun tidak sepenuhnya benar. Keduanya membersitkan
cinta. Kau bisa melihatnya dari mata Asri yang sedikit sembap karena haru. Hari
pernikahan kami benar-benar melepaskan kodratku sebagai makhluk yang—pada
dasarnya—menyedihkan. Sampai sekarang pun aku masih merasa asing di depan foto
pernikahan kami.
Inikah jawabannya—jalan keluar dari kehilangan dan kematian
yang bertubi-tubi? Tiba-tiba aku bertanya-tanya. Cintakah? Kalau benar, apakah
benar aku mengalaminya?
Cintakah Ferdinand dan Mariane, Samsul Bahri dan Siti
Nurbaya—cintakah strangers in the night yang begitu sendu dinyanyikan Frank
Sinatra? Kalau bukan, kenapa aku menitikkan air mata untuk mereka, seperti aku
menitikkan air mata ketika Asri mengatakan ’iya’ untuk lamaranku?
Aku tidak menemukan jawabannya. Cuma ada tanah basah dan
nisan dingin. Kaleng bir lolos dari genggamanku lalu menghantam ilalang. Gila,
hidupku hanya perjalanan dari satu pemakaman ke pemakaman lain. Selalu tentang
kematian dan kehilangan. Pikiran ini sudah cukup untuk menerormu seumur hidup.
Aku bersimpuh di depan nisan kakek. Nenek dan Ranto nampak
tersenyum satu meter di bawah tanah. Dengan pengap dan belatung yang
menggerogoti tubuh bagaimana mereka bisa tersenyum—seperti apa wujud tengkorak
ketika sedang tersenyum?
Aku menemukan diriku terkapar. Peluh merangkak dari ujung
mataku. Tak mengapa. Tak mengapa, tegasku meyakinkan diri sendiri.
Samar lagu mengalun. Sebuah tangan menuntunku untuk
berdiri. Senyum pasta gigi itu menemukan pertahanan terakhirku dan
meremukkannya dengan hangat. Tangan kanannya menyelinap di pinggangku dan
jemari tangan kirinya menyelinap dalam jemariku.
”Sudah lama kita tidak berdansa dengan lagu ini.”
Sudah lama kami tidak berdansa dengan lagu ini. Aku bahkan
sudah lupa bagaimana caranya berdansa, tapi perlahan aku menemukan ingatanku
dalam setiap langkah.
Aku tidak lagi berjalan gontai dari satu pemakaman ke
pemakaman lain. Aku berdansa. Kami adalah dua orang asing yang berdansa tengah
malam di atas alunan strangers in the night Sinatra. Tak jauh dari kami Ferdinand
dan Mariane berdansa, begitu juga Samsul Bahri dan Siti Nurbaya. Tak ada yang
tahu letak cinta, tapi cinta tahu untuk siapa dia ada. Mungkin.
Senyum pasta gigi Asri melumer, tinggal partikel kristal
yang berkilauan di sela deretan giginya. Begitu asing. Setelah sekian lama aku
hanya jadi penonton dalam hidupku sendiri, aku baru sadar aku tidak pernah
sendiri. Selalu ada tangan-tangan yang siap mengangkatku kalau aku jatuh dan
aku tak pernah peduli. Aku selalu penuh dengan diriku sendiri. Aku lebih banyak
menggunakan ’aku’ kalimatku. Aku tak tahu apa pun tentang Asri. Aku tak
menyisakan banyak kalimat untuk menggambarkan betapa cantik senyumnya, molek
kulitnya, bagaimana matanya menyihir kata-kata sampai kehilangan makna. Tentang
kesedihannya, kehilangannya… dia pantas untuk itu. Begitu juga dengan Ranto,
nenek dan kakek. Ayah, ibu, adik, Togar—
