- Back to Home »
- Bebas »
- Sobat, Maafkan Aku
Posted by : Unknown
Monday, November 10, 2014
Gedung – gedung pencakar langit berjajar, macet dan tugu
monas. Yaa… siapa yang tidak tahu tempat itu, Benar… Jakarta , ibu kota Negara
kita yang tercinta ini. Kenalkan namaku Alya Ramadhani. Aku lahir di bandung
tapi aku tinggal di Jakarta sejak umur 7 bulan. Dan ketika aku beranjak umur 5
tahun, ayah dan bunda membawa aku pulan ke kampong halaman yaitu ke Bandung.
Sehari – hari aku bermain dengan anak – anak kampong. Mereka semua baik dan
ramah. Hal itulah yang membuat aku nyaman dan betah di sini.
Hari ini adalah hari pertamaku sebagai generasi putih biru.
Aku begitu bahagia, karena tak lama lagi aku mendapat teman baru. Jam dinding
sudah menunjukka pukul 06.30 saatnya untuk aku berangkat ke sekolah. Aku
berangkat ke sekolah bersama ayah dengan menggunakan mobil. Dan tak lama
kemudian kami pun sampai. SMP Negeri 01 Bandung tulisa itu terlihat jelas di
gerbang sekolah.
“ ayah.., alya pamit yaa .. , Assalamualaikum “ pamit ku
pada ayah sambil mencium tangannya
“ iyaa nak.. ! belajarlah yang rajin “ jawab ayahku dengan
lembut.
Perlahan aku pun mmemasuki sekolah baruku itu. kelas 7C itu
adalah kelasku sekarang. Akupun masuk kedalam dan duduk di deretan paling
depan. Aku berkenalan dengan seorang gadis sebayaku. Dia bernama Elma. Dia
sangat baik dan ramah padaku.
Hari semakin hari , pertemanan kita semakin akrab. Atau
bias dibilang kami sudah menjadi sahabat. Susah senang kami lalui bersama. Jam
istirahat pun tiba. Semua siswa berhamburan keluar kelas, termasuk aku dan
sahabatku, kami memutuskan untuk pergi ke kantin.
@Kantin
“ Al , kamu mau pesen apa? Biar aku yang pesenin “ ucap
Elma padaku
“ aku pesen bakso sama es teh manis aja deh .. ! “ jawabku
“ Okee.. !! aku pesenin dulu yaa “ ucap Elma sambil
beranjak pergi dan memesan makanan.
Tak
lama Elma pun datang denga 2 mangkuk bakso dan 2 gelas es teh manis. Tanpa basa
basi pun aku segera melahapnya. Sedangkan Elma hanya terdiam dan memainkan
sendok dan garpu yang dia pegang.
“ El kamu kenapa ? kok gak dimakan ?? “ tanyaku pada Elma
“ Gak Al.., aku gapapa. “ ucap Elma sambil tersenyum
Saat aku perhatikan , wajah elma pucat. Tapi setelah aku
Tanya lagi dia hanya menjawab bahwa dia tidak apa – apa. Bel tanda masuk kelas
pun berbunyi, aku mengajak Elma untuk ke
kelas. Tiba – tiba Elma jatuh pingsan dengan darah segar yang mengalir dari
hidungnya. Yaa Tuhann… ada apa dengan sahabatku ?
Semua temanku di kantin,membantu membopong Elma. Pak guru
menyerahkan agar Elma di bawa kerumah sakit. Segera kami membawa elma ke rumah
sakit sambil berlari dengan mendorong ranjang pasien, Aku terus saja menangis
dan berdo’a berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Elma, sahabatku.
Cukup lama Dokter memeriksa Elma. Kami semua menunggu
harap- harap cemas. Ayah dan Ibu Elma juga ada di rumah sakit. Tak lama
kemudian dokter keluar dari ruang UGD.
“Dok…..,bagaimana keadaan anak saya?”. Tanya ayah Elma pada
Dokter.
“Begini pak, anak
Bapak menderita penyakit Leukimia stadium tiga”. Jelas Dokter.
Deg…………….!! “Ya Tuhan ada apa dengan sahabatku Elma.
Mengapa bisa secepat ini.Aku saja tidak tahu bahwa dia menderita penyakit
separah ini”. Semua orang disana hanya terdiam. Mereka begitu kaget atas apa
yang menimpa Elma.
Singkat cerita, Aku dan Elma kini sudah duduk di bangku
kelas tiga, selama itu pula Elma sering bolak balik masuk Rumah sakit.Keadaan
tubuh Elma jug semakin kurus,rambut panjangnya perlahan mulai rontok, sungguh
hatiku tidak tega melihat dia seperti ini. Ujian Nasional pun sudah ada di
depan mata.
Sore hari di rumah. Aku sedang membaca buku di Kamar,
tiba-tiba hp ku berbunyi, dan tertera nama Ibu Elma di layarnya. Aku pun
mengangkat telefon nya , seketika air mataku jatuh setelah aku tahu bahwa
penyakit Elma semakin parah.Dan dia akan di bawa ke Rumah sakit di Singapore.
Aku pun segera bangkit dan berlari untuk pergi ke Rumah Elma.Aku ingin ada di
sampingnya,aku inin terus bersamanya.
Namun, saat aku hendak keluar Rumah , Bunda menahan langkah
kakiku.Bunda tidak memperbolehkan Aku kesana. Karena Rumah sakit tempat Elma
dirawat jauh dari Rumah dan lagi besok Aku akan menghadapi Ujian Nasional.
Bunda menyuruh aku untuk tetap berada di Rumah, dengan terpaksa Aku menuruti
ucapan Bunda.
Di dalam Kamar. Aku tidak bias berkonsentrasi untuk
belajar. Aku terus saja menangis dan memikirkan bagaimana keadaan Elma di sana,
pikiran dan hatiku pun tidak tenang. Namun di kegelisahanku Aku terus saja
berdo’a kepada Allah Tuhanku.
Esok pagipun tiba. Hari ini aku bersiap berangkat sekolah
dan hari ini pertama Ujian Nasional. Tiba-tiba hp ku berbunyi, Aku pun
mengangkatnya dan ternyata telephone dari Ibu Elma. Seketika Hp yang Aku pegang
jatuh ke lantai saat Aku tahu bahwa Elma sudah tidak ada. Dia sudah
meninggal,butiran Kristal bening mengalir deras si pipiku. Aku masih belum
percaya bahwa Sahabat karibku pergi meninggalkan Aku untuk selamanya. Bahkan
saat hembusan nafasnya yang terakhir Aku tidak bias disampingnya.
“Elmaaa……!!!!!!, maafin Aku,Aku tidak bias ada disampingmu
bahkan disaat hembusan nafasmu yang terakhir,hiks..!!, Aku memang Sahabat yang
tidak berguna, hiks…!, maafin aku Elma……”. Isakku.
“Ya Tuhan,mengapa
kau ambil Sahabatku begitu cepat. Aku sangat menyesal tidak berada
disampingnya. Aku terus saja menyalahkan diriku sendiri.” Elma sahabatku semoga
kamu bahagia di sana, Aku disini selalu mendoakanmu, Aku tidak akan melupakan
semua kenanganku bersamamu, Wahai Sahabat
baikku……”
