- Back to Home »
- Cerpen »
- Sepasang Kaos Kaki
Posted by : Unknown
Tuesday, November 4, 2014
“Kita ini sepasang kos kaki, aku kaos aki bermotif kamu
kaos kaki polos, kita memang berbeda tetapi kita adalah pasangan”
Aku rindu kamu, saat kamu mengatakan kalimat manis itu,
senyum yang kamu selipkan begitu istimewa. Sangant jelas, ingatan itu melekat
di dalam pikiranku. Air dari langit itu menerjangku serta anginnnya yang
menususk kurasakan seperti waktu itu dimana kalimat itu terlahir dari mulut
manismu. Kamu sebagai sahabat.
Andai dari dulu kamu katakan semuanya aku akan menghargai
waktuku saat bersamamu kawan. Seorang pria yang saat itu tersesat mencari
kelasnya, yah siswa baru. Wajah polos dengan mata yang lebar berwarna cokelat
terang tanpa imut ditambah bibir yang merah dan suara lembut yang
bahkanmengalahi suara wanita pada umumnya. Melihatnya saja aku merasa nyaman
sekali, dia pria ideal dari segi fisik dan hati dia yang sempurna. Dia siswa
baru saat itu, juga teman baru untuk kelas kami, aku beruntung mengenalnya
bahkan menjadi sahabatnya. Entahlah, aku tak pernah bahwa dia mengatakan kalau
aku ini sahabatnya tapi aku anggap dia sahabatku. Dia selalu bercerita tentang
kehidupannya padaku. Aku merasa, aku adalah orang yang tau semua tentangnya.
Keluarga, sahabat, teman sampai wanita yang pernah disukainya dia ceritakan padaku.
Aku sangat menyayanginya. Aku takut kehilangan dirinya.
Sampai akhirnya ketakutanku menyerang, dia menghilang
seakan lenyap ditelan bumi. Tak satupun kabar burung kudengar, ia benar-benar
menghilang tanpa jejak. Saat aku beranjak tidak memikirkan kepergiannya aku
melihat sosok seperti dia, pria tinggi yang mengenakan T-shirt hitam putih dan
Jeans di depan gerbang sekolah dikerumuni beberapa siswa, itu benar-benar dia.
Tapi kenapa dia tidak mengenakan seragam?
Dia menghampiriku, saat aku terpaku melihat keberadaannya,
wajahnya pucat, pandangannya layuh dan . ., kenapa suaranya tak semerdu dulu?
“Hai, sahabat!”. Dia . . . dia . . .
mengatakannya dia menganggapku sahabat, aku senang. Rasanya aku ingin menangis
tapi tidak, aku takkan menangis! Tidak sekarang!. “Maaf untuk kepergianku,
harusnya aku pamit lebih awal!” Apa maksudnya? “Aku harus pergi! Hmmm . . .
Kamu tau? Senang rasanya berbagi cerita dengan teman sekaligus sahabat baru”
Katanya, ia tersenyum. Aku sengaja bercerita semuanya padamu, karena kamu
terlihat istimewa, tak ada yang harus ditutupi dari hidup ini, biarkan dunia
tau! Iyakan?” Aku hanya mengangguk sedih, apa naksudnya “Harusnya aku ikuti
prinsipmu dari dulu, maaf! Aku baru bisa membiarkan dunia tau, tapi sebelum
dunia mengetahui, aku ingin kamu tau lebih dulu” Ia tersenyum lagi, senyum ini
sangat manis.
“Besok aku harus pergi untuk operasi! Do’akan berhasil
yah?” katanya dengan tersenyum. “Kamu sakit apa?” Tanyaku kaget yang sebenarnya
dari tadi terdiam “Entahlah, namanya terlalu panjang dan ribet, intinya
penyakit jahat yang bersarang di kepalaku, penyakit ini penyakit langka,
gara-gara dia aku pernah lupa dengan segalanya tentang hidupku termasuk kamu!
Tapi kurasa Tuhan terlalu sayang kepadaku kemudian mengembalikan ingatanku!
Hmmm . . . Maaf yah? Ini terlalu terlambat untuk kuceritakan” Aku tidak tahan,
air mata yang dari awal kubendung kini membasahi pipiku dan saat itu pula
langit ikut menangis. Semua orang menepi untuk berteduh kecuali aku dan dia.
“Lalu? Apakah setelah itu kau akan kembali?” Tanyaku sambil tereduh, dia hanya
tersenyum sambil menaikkan pundak dan menurunkannya lagi.
Tangisanku semakin jadi, aku menunduk dan menutup mulutku
dengan kedua tanganku, aku tak ingin dia mendengar tangisanku. “Ini buat
hadiah” katanya sambil menyodorkan sebuah kotak yang dibalut dengan kantung
plastik, ia meraih tanganku kemudian diletakkan kotak itu di telapak tangan
mungilku dan digenggamnya seraya berkata.
“Kita ini sepasang kaos kaki, aku kaos kaki bermotif kamu
kaos kaki polos, kita memang berbeda tetapi kita adalah pasangan”
Air mataku kini meraung, terimakasih Tuhan telah membiarkan
langit ikut menangis. Ku coba menatap matanya, matanya seindah dulu tapi agak
layu, yah aku tau ia sedang sakit. Perlahan ia menjauh , menjauh, dan menjauh,
kini aku menatap punggungnya, punggung pria ideal, sahabatku.
Berbulan-bulan tak kudengar kabarnya hari setelah kejadian
itu, hari dimana air mata pertamaku untuknya mengalir merupakan hari yang cukup
berat, aku menatap kaos kaki pemberiannya, yah seperti yang dikatakannya kaos
kaki bermotif dan kaos kaki polos, disetiap kaos kaki itu terdapat sepasang
mata boneka dan mulutnya nampak manis.
Sampai pada suatu hari kudengar kabar burung bahwa engkau
telah kembali teapi tanpa ingatan masa lalumu termasuk aku. Sahabat
perjuanganmu untuk membiarkan dunia tahu tentang apa adanya dirimu saja itu
lebih dari hal yang luar biasa. Aku akan menunggu ingatanmu kembali sampai
salah satu dari kita telah tiada.
Aku cinta kamu, kaos kaki bermotif.
