Posted by : Unknown Tuesday, November 18, 2014

Selalu Begitu
            Selalu saja begitu, kau akan menangis saat bercerita tentang teman priamu yang menyebalkan itu. Dan selalu saja begitu, aku tak hentinya mengejekmu hingga tangismu kian menjadi, dan akhirnya kau berlari ke kamar sambil membanting pintu. Namun akhirnya, aku mengejarmu dan membujuk agar kau keluar dari kamar. Dan pasti, kau akan keluar dengan memasang wajah yang semrawut, dan aku paling tahu bagaimana cara mengatasinya—chocolate ice cream.
            Karena kau selalu saja begitu.
***
            Paginya, kau bangun dengan mata merah karena menangis semalaman. Tak nafsu makan, dan berangkat kuliah dengan lunglai, tanpa menyapaku. Saat itu, aku hanya memandangimu dengan heran tanpa berkomentar apapun. Dan selalu saja, beberapa menit kemudian kau akan berlari-lari kembali menuju kosan, mengambil makalah yang tertinggal. Dan selalu saja, aku tertawa puas melihat tingkahmu dan berkomentar dengan bangga, bahwa kau kekanakan dan akulah yang bersikap dewasa. Setelah itu, aku berangkat ke kampus sambil menahan tawa.
***
            Malam harinya, kau kembali bercerita tentang teman priamu itu. Dan tak ada perubahan tentang komentarku mengenai ceritamu itu.
Kubilang “Jangan terlalu berharap lebih pada seseorang karena mereka tidak dapat seratus persen dipercaya.”.
Dan jawabanmu selalu sama “Kau berkata seperti itu karena tidak pernah menyukai seseorang.”.
Dan pastinya aku tidak mau kalah, “Tidak ada cinta sejati, tidak ada sahabat sejati, tidak ada keluarga sejati. Yang ada hanyalah kepentingan sejati.”
Saat aku memulai ceramahku, selalu saja kau terlelap bagai bayi.
            Entah mengapa kita bisa sangat akrab dengan segala perbedaan. Kau yang kekanakkan selalu saja bercerita tentang hal-hal yang menurutku tak terlalu penting. Dan aku yang kau sebut ‘si nenek tua’, selalu bercerita masalah-masalah berat menyangkut politik, agama, HAM dan yang lainnya. Kita akan berebut tv saat jam lima sore. Kau menyembunyikan remote karena tak ingin acara drama koreamu terganggu, dan aku tak kalah ide, berusaha mengganti channel ke acara berita politik. Dan selalu saja begitu, kau akhirnya menjulurkan lidah jika aku tak berhasil menemukan remote tv.
            Karena kau, selalu saja begitu.
***
            Hingga saat menginjak semester lima perkuliahan, kita harus terpisah karena keadaan. Beasiswamu dicabut!. Kau sangat bingung saat itu, aku juga tak kalah bingung. Jelas tak ada harapan lagi jika beasiswa itu benar-benar dicabut, keluargamu tak akan mampu membiayai. Aku sangat tahu itu. Selalu saja begitu, kau menangis selama dua hari dan tak ingin makan. Kali ini tak ada komentar dariku. Ini masalah besar, masa depanmu dipertaruhkan. Aku tahu benar, betapa beratnya menceritakan kenyataan ini pada emak bapakmu di kampung. Mereka terlalu berharap besar, dan kau pun terlanjur bermimpi besar.
            Kau pergi ke kampung halamanmu di tanah Minang sana. Meninggalkan segala kenangan di kota hujan ini, kau berjanji akan sering menelpon dan berkirim email padaku. Dan selalu saja begitu, kau pergi dengan mata merah karena menangis semalaman. Sebelum itu, kau mengeluarkan remote tv yang seminggu lalu kau sembunyikan. Kita pun tertawa berdua.
***
            Setiap hari aku menelponmu, dan setiap hari pula kau berkirim email padaku. Kau bercerita sangat banyak melalui surat elektronik itu, dan akupun membalas tak kalah panjang di sana. Selang beberapa bulan, kau bilang handphone-mu tidak aktif dan kita hanya bisa berkomunikasi lewat email. Dunia nyata kita kini pudar, dan yang ada hanyalah dunia maya di depan mata. Kau menandai foto terbarumu lewat facebook,dan aku pun menandai foto kosan kita, karena kau bilang ingin melihatnya.
            Kudengar, kau telah bekerja di sana dan memiliki penghasilan yang lumayan, walau kau tak pernah bercerita tentang hal itu kepadaku—aku mendengarnya dari Dina, teman sekampungmu. Tak dapat diceritakan semuanya jika hanya lewat email, aku maklum. Dari ceritamu, kau hanya bilang sedang mengumpulkan uang agar bisa kuliah lagi. Kau bertanya padaku bagaimana cara mendapat uang yang cepat sekarang ini, dan aku menjawabnya dengan gurauan. Kita pun tertawa di tempat yang berbeda. Aku tak peka saat itu, bahwa kau benar-benar sedang sangat membutuhkan uang.
***
            Dua tahun terlewati, dan kita tak pernah putus komunikasi. Walaupun hanya dunia maya, aku tak peduli, karena bagiku sahabatku begitu nyata. Pernah kuminta nomor handphone-mu saat ini, karena sudah hampir dua tahun tidak mendengar suaramu.
Tapi kau bilang “Aku tidak punya uang untuk membeli handphone.”,
Aku mengernyitkan dahi membaca alasanmu itu. Bagaimana tidak? Teman sekampungmu yang kuliah di kota hujan ini mengatakan bahwa kau telah mendapat pekerjaan yang mapan. Kau berhasil membeli mobil, dan menyulap rumah reyod emak bapakmu menjadi bangunan layak huni berlantai dua, juga kau berniat untuk menaikkan haji emak bapakmu tahun ini. Aku turut senang mendengar keberhasilanmu, walau agak mengherankan. Pekerjaan apa yang kau dapatkan, dengan hanya berbekal ijazah SMA, hingga dapat berlimpah harta seperti ini? dalam waktu kurang dari dua tahun pula.
            Kupendam segala pertanyaan ini, tak banyak yang bisa diharapkan dari surat dunia maya ini.
***
            Sebulan kemudian, kau mengatakan tidak akan berkirim email dulu. Aku menanyakan alasannya, tapi tak ada jawaban. Kau selalu saja begitu, berdiam diri saat memiliki masalah. Pikirku, apa mungkin sekarang kau sedang mengurung diri di kamar?
***
            Pada senja yang berwarna jingga, aku berangkat ke tanah Minang untuk menemuimu. Aku masih menyimpan alamat lengkapmu. Sepanjang perjalanan, bayangan masa kuliah selalu saja muncul. Tak ada yang menyembunyikan remote lagi sekarang ini. Seberkas senyuman hadir kembali setiap kuingat masa itu.
***
            Terjadi kerusuhan di tanah Minang saat ini, sepanjang jalan dipenuhi oleh mobil patrol polisi. Menurut kabar, sedang terjadi penggrebekkan gudang narkoba di daerah sini, dan Bandar narkobanya belum juga ditemukan. Aku terpaku sesaat, kudengar nama “Soraya” disebut-sebut sebagai Bandar narkoba itu. Dia seorang gadis muda, umurnya kurang lebih dua puluh empat tahun. Ciri-ciri fisiknya, tinggi 166 cm, berkulit putih, berwajah oriental, dan memiliki tahi lalat di atas alis sebelah kanan.
            Soraya? Pikiranku tertuju pada sahabatku itu. Nama yang sama, ciri-ciri fisik yang sama. Soraya sahabatku memang berwajah oriental, karena ayahnya adalah keturunan Tionghoa sedangkan ibunya darah Minang asli.
Ah, bukankah banyak sekali orang bernama soraya di Indonesia ini. Aku melanjutkan langkahku, walau dengan hati tak menentu.
***
            Tiba-tiba terdengar suara tembakan, sangat dekat. Aku berbalik ke belakang, kudapati para polisi berjejer radius empat meter di depanku. Dan betapa kagetnya aku, saat kudapati seseorang yang terkulai lemah di tengah jalan.
Wajah itu—perasaanku mulai tak karuan. Wanita yang terkena tembakan peringatan di kaki kirinya itu mengangkat wajah. Mata merah itu memandangiku, menatap nanar ke arahku. Mata merah itu, persis sama seperti dua tahun lalu.
            Tak terasa mataku basah, mata merah itu memang sama, sahabatku.
Nyatakah ini?
Ataukah masih di dunia maya?
Ya, mungkin ini hanya fantasi dunia maya. Bukankah kita sedang berkirim email?
Aku terus membuat alibi bagi sahabatku.
***
Besoknya, di senja yang berwarna jingga, kukirimkan sebuah pesan ke email-mu. Entah kapan kau akan membacanya. Kupikir untuk waktu yang lama kita memang tidak akan berkomunikasi lagi, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
            Mesin terbang ini mulai meluncur, meninggalkan tanah Minang.
            Sementara itu, dibalik jeruji besi, di tempat lain di tanah Minang ini, dua bola mata merah memandang nanar. Mata yang memang sama.
            Kau selalu saja begitu kekanakkan, kau selalu saja begitu. Kau memang pemilik mata merah itu, sahabatku.

***

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Translate This Blog

Visitors

Follow Me On Facebook

Powered by Blogger.

Copyright © 2014 - 2015 Amir Sayonara - All rights reserved. | Powered by Blogger