Archive for November 2014
Tanpa Judul
“Apa artinya sebuah jabatan atau cap unggulan dari
banyak orang? Kalau itu hanya membuatmu lupa dengan dirimu sendiri”
Sesosok wanita yang berada di depan kelas mengingatkanku
akan seseorang, Aaah… aku merindukannya. Kuingat terakhir kali ia memelukku
satu tahun yang lalu, saat ia berhasil lolos test anggota Pengurus Organisasi
Siswa Cerdas Olimpiade atau disingkat POSCO. Organisasi tergengsi di sekolah
kami. Kewenangannya diatas OSIS dan tepat di bawah kepala sekolah. Anggotanya
juga bukan siswa sembarangan. Siswa dengan IQ diatas tara-rata, cerdas, pandai,
rajin dan berasal dari keluarga menengah ke atas. Termasuk perempuan yang
sedang kurindukan.
Namaku Vega, aku siswa SMA Bangsa. Sekolah unggulan di
pulau ini. Aku siswa kelas XI. Aku cucu dari mantan kepala sekolah di sini, Mr.
Evan. Beliau sangat dihormati. Bagaimana tidak, kakekku lah yang membuat
sekolah ini menjadi salah satu sekolah favorit di Indonesia. Tapi sayang beliau
meminta pihak sekolah untuk meletakkanku di kelas reguler ditahun pertama dan
tidak memanjakanku. Beliau ingin aku giat untuk meraih apa yang aku impikan,
terbukti ditahun keduaku di sini aku dapat kelas unggulan dengan membopong
banyak prestasi. Tentang POSCO, bukannya kau tak ingin ikut tapi aku mengingat
kata-kata seseorang.
Kini aku benar-benar rindu padanya. Dia, sahabatku telah
termakan oleh kata-katanya. Dia lupa denganku, ia bahkan menjadi sombong
setelah bergabung dengan wanita-wanita yang dulu dibencinya.
Wanita yang berdiri di ambang pintu itu benar-benar dia,
Rigel wanita yang kurindukan.
“Hai!” sapa Rigel
“Hmmm hai!” sapaku balik
Hai Rigel, kau tau aku sangat merindukanmu.
Aku gugup bicara dengannya.
“Aku ingin memberikan ini” Katanya “Kau butuh satu tahun
untuk dapat menyamai kemampuanku satu tahun yang lalu”
“Formulir POSCO? Aku tidak akan pernah mau begabung dengan
organisasi itu!” kataku
“Huh? Benar kata mereka . .”
“Kata siapa? Wanita-wanita yang dulunya kau benci? Bahkan
sekarang kau sudah mempercayai mereka”
Rigel hanya diam, ia menatapku dengan tatapan kosong.
“Lagi pula ada seseorang yang bilang ‘apa artinya sebuah
jabatan atau cap unggulan dari banyak orang? Kalau itu hanya membuatmu lupa
dengan dirimu sendiri’ dan kini aku melihat bukti nyata. Tepat di hadapanku“
kataku.
Lagi-lagi ia menatapku dengan tatapan kosong, kemudian
pergi melaluiku.
Angin dari Bukit
Sejauh mataku memandang, sejauh aku memikir, tak sebuah jua pun mengada. Semuanya mengabur, seperti semua tak pernah ada. Tapi angin dari gunung itu berembus juga. Dan seperti angin itu juga semuanya lewat tiada berkesan. Dan aku merasa diriku tiada. Dan dia berkata lagi. Lebih lemah kini, “Kau punya istri sekarang, anak juga. Kau berbahagia tentu.”
“Aku sendiri sedang bertanya.”
“Tentu. Karena tiap orang tak tahu
kebahagiaannya. Orang cuma tahu
kesukarannya saja.”
Dan dia diam lagi. Kami diam. Angin dari
gunung datang lagi menerpa mukaku. Dan
kemudian dia berkata lagi. “Sudah lima
tahun, ya? Ya. Lima tahun kawin dan punya
anak.”
Aku masih tinggal dalam diamku. Aku kira
dia bicara lagi.
“Kau cinta pada istrimu tentu.”
“Anakku sudah dua.”
“Ya. Sudah dua. Kau tentu sayang pada
mereka. Mereka juga tentunya. Dan kau
tentu bahagia.”
Dia berhenti lagi. Lalang yang ditiup angin
bergelombang menuju kami. Lalu angin
menerpa mukaku lagi. Dan aku merasa
ketiadaanku pula. Angin pergi.
“Kau ingat, Har?”
“Apa?” kutanya dia dengan gaya
suaranya.
“Sembilan tahun yang lalu.”
“Ya. Aku masih ingat. Tapi itu sudah
lama lampaunya.”
“Ya. Sudah lama. Aku tak pernah mau
mengingatnya. Tapi kini aku ingat lagi.” Dia
diam lagi. Dan memandang jauh ke arah
gunung itu. “Ketika itu seperti macam
sekarang. Kita duduk seperti ini juga. Tapi
tempatnya bukan di sini. Aku masih ingat,
sekali kau menggenggam jariku erat sekali.
Aku biarkan dia tergenggam. Dan dalam
tekanan genggamanmu, aku tahu kau mau
bicara. Dan aku menunggunya. Tapi kau tak
berkata apa-apa.”
“Masa itu, masa kanak-kanak kita,”
kataku. Tapi cepat kemudian aku jadi
menyesal telah mengatakannya.
“Ya,” katanya dengan suara tak acuh.
“Jari-jariku itu sudah tak ada lagi kini.
Kedua tanganku ini, kaulihat? Buntung
karena perang. Dan aku tak lagi dapat
merasa bahagia seperti dulu. Biar kau
menggenggamnya kembali. Mulanya aku
suka menangis. Menangisi segala yang
sudah hilang. Tapi kini aku tak menangis
lagi. Tak ada gunanya menangisi masa
lampau. Buat apa?”
Aku jadi sentimental dan hatiku berteriak,
meneriakkan seribu kenangan yang datang
mengharu biru. Kucoba membuang segala
kesenduan, tapi aku menjadi tambah
tenggelam olehnya. Dan angin meniup lebih
syahdu terasa. Serasa ada nyanyian iba
besertanya.
“Tak ada gunanya,” katanya lama
kemudian. Dan aku menunggu dia bicara
lagi. Tapi itu saja yang dikatakannya. Tak
diteruskannya. Kedua tangannya yang
buntung itu diacungkannya ke depan,
disilangkan, lalu digesek-gesekannya.
Melihat itu, aku mau tersedu. Tersedu
seperti ketika pusara Ibu mau ditimbuni.
“Kau punya anak, punya istri. Dari itu kau
punya pegangan hidup, punya tujuan
minimal. Tapi yang terpenting kau punya
tangan. Hingga kau dapat mencapai apa saja
yang kaumaui. Sebagai suami, sebagai ayah,
sebagai laki-laki, sebagai manusia juga,
seperti yang kita omongkan dulu, kau dapat
mencapai sesuatu yang kauinginkan.
Alangkah indahnya hidup ini, kalau kita
mampu berbuat apa yang kita inginkan. Tapi
kini aku tentu saja tak dapat berbuat apa
yang kuinginkan. Masa mudaku habis sudah
ditelan kebuntungan ini.”
Dan tangan itu diturunkannya lagi. Dia
memandang lebih jauh melampaui balik
gunung dari mana angin meniup. Kala itu
aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya.
Sebuah ucapan yang indah dan memberi
semangat seperti dulu sering kuucapkan
untuk anak buahku di front Barat. Tapi
bagaimana aku dapat mengatakan, kalau
semangat itu sendiri telah kulemparkan jauhjauh
pada suatu ketika.
“Dulu aku cantik juga, bukan?” katanya
pula. “Bahkan tercantik di front Barat itu.
Aku tahu semua orang mau menarik
perhatianku. Semuanya mau mati-matian
dan bekerja berat di depanku. Semuanya
mau berjuang membunuh musuh demi
mendekatiku. Tapi keitika musuh datang,
aku kebetulan tak ada disana, mereka habis
lari kehilangan keberanian.
Kalau pemimpin yang datang di front, di
waktu tak ada perempuan, aku menjadi
sibuk. Aku diminta mengatur tempat tidur
mereka. Dan ketika mereka mau pergi,
dicarinya aku dulu. Dijabatnya tanganku
erat-erat. Dan di ucapkannya kata-kata yang
indah berisi keharuan. ‘Kami atas nama
pemerintah dan seluruh pemimpin
perjuangan revolusi kemerdekaan
mengucapkan terima kasih kepada Saudari.
Kami sangat merasa bangga dengan adanya
patriot wanita seperti Saudari, yang
selamanya menyediakan waktu untuk
memberi semangat kepada prajurit kita.
Kami juga yakin, kalau Saudari tak di sini,
tentu front ini sudah lama di duduki musuh.’
Begitulah. Kalau ada orang sakit, aku juga
yang merawatnya. Dan di waktu malammalam
yang damai, mereka minta hiburan.
Aku bernyanyi. Mereka memetik gitar. Dan
mereka dapat melupakan segala hal-hal yang
menekan. Dan waktu itu, aku sering merasa
jumlah tanganku yang masih kurang. Aku
mau tanganku lebih banyak lagi. Kalau
boleh sebanyak jari ini.
Tapi sekali pernah juga aku berpikir-pikir,
bahwa hidup seperti itu tidaklah akan
selamanya berlangsung. Suatu masa kelak
akan berakhir juga. Dan kalau perang sudah
selesai, aku ingin bersekolah lagi. Sekolah
apa? aku tak tahu. Yang aku tahu Cuma,
tambah banyak ilmu, tambah banyak yang
dapat diperbuat. Ya, itulah semua.”
Satu demi satu ucapannya bercekauan
dalam hatiku. Dan kini kumandangnya lebih
menyayat terasa, lebih menusuk. Aku jadi
tak berani mengangkat kepalaku. Makin
lama kian terkulai keseluruhan adaku di
dekatnya.
Matahari ketika itu sangat cerahnya.
Bayangan pohon manggis bertelau-telau
pada rumput hijau. Dan di kiriku dia duduk
mengunjurkan kakinya. Kaki itu kaki yang
dulu juga. Kaki yang pernah menggodaku.
Sekarang kaki itu terhampar begitu saja. Dan
aku tak dapat memandangnya lama-lama,
karena kaki itu tidak berbicara apa-apa lagi
bagiku kini. Dan perasaanku tidak seperti
dulu lagi. Justru itulah yang menyebabkan
aku merasa dipilukan perasaanku sendiri.
Hendak kuelus hatinya, hendak kuceritakan
sejarah hidup Helen Keller. Bahkan hendak
kukatakan juga, bahwa aku mau
memeliharanya. Memelihara dia? Tidak.
Dan aku sudah punya dua anak. Agus dan
Hafni. Ketika aku sadar jalan itu buntu, aku
menyesali diriku sendiri. Juga menyesali
segala yang sudah terjadi. Dan aku tak bisa
berdoa untuknya. Doa serasa tak berharga
kini. Tiap-tiap orang punya doa. Dan doa
sekadar doa, tak ada gunanya. Maka aku
merasa segalanya jadi terbang.
“Apa yang kaupikirkan?” tanyanya tibatiba.
Aku jadi gugup dan tersentak dari
keterbanan perasaanku. Dan aku katakan,
bahwa aku sedang memikirkannya.
“Masa dipikirkan lagi,” katanya. “Apa
perlunya? Semua sudah sewajarnya, bukan?”
“Apa?” tanyaku ragu-ragu.
“Kau memikirkan aku, kan?”
“Tidak setepat itu benar. Aku sedang
memikirkan apa yang hendak kulakukan.”
“Untuk apa?”
“Untukmu.”
“Sia-sia saja.”
Tiba-tiba kuingat pada pusat rehabilitasi di
Solo. Dan lalu kukatakan kepadanya. Lama
ia terdiam, dan matanya seperti melangkaui
segala apa yang dapat dilihatnya.
“Bagaimana? Setuju? Kalau kau setuju
jangan kaupikir apa-apa. Aku yang uruskan
semua.”
Tapi dia masih tiada memberi reaksi. Dan
aku mendesak lagi.
“Kalau perlu …Ah, tidak, Aku sendiri
yang akan mengantarkan kau. Barangkali
tidak lama kau di sana, kau sudah bisa
pulang lagi. Dan selanjutnya kau sudah bisa
berbuat sesuatu lagi, seperti dulu.”
Lalu ia memandang padaku. Dan
tersenyum. Tapi senyumnya ini menusuk
hatiku. Aku jadi gugup.
“Mengapa kau tersenyum?” tanyaku
dalam kehilangan keseimbangan diriku.
“Mungkinkah orang seperti aku ini dapat
berbuat sesuatu?” tanyanya dengan suara
yang lain sekali bunyinya. Begitu pahit.
Dan aku jadi ragu-ragu untuk
meyakinkannya lagi. Lalu aku pura-pura tak
mendengarkan apa katanya. Aku beri dia
semangat yang bernyala-nyala, yang aku
sendiri pada dasarnya sudah tak percaya
akan semangatku sendiri. Dan dia tahu itu
rupanya. “Kau sendiri tak yakin dengan
ucapanmu. Bagaimana mungkin aku
meyakinkannya?” katanya.
“Tapi sedikitnya, kau lebih bisa berbuat
banyak nantinya.”
“Ya. Tentu saja. Seperti juga dulu, kan?
Seperti dulu, seolah-olah kalau tidak ada
aku, semuanya seperti tidak akan sempurna,
semua pekerjaan seolah takkan selesai.
Semua orang memerlukan tenagaku. Semua
orang jatuh cinta padaku. Semua orang haus
akan segala yang ada padaku. Tapi setelah
itu, setelah itu apa lagi?”
Aku tak merasa terpaan angin dari gunung
itu lagi. Yang kurasakan terpaan ucapannya
pada mukaku, karena terasa sebagai
umpatan yang pahit tapi dicelup dengan
tengguli.
“Kau kasihan padaku, bukan?”
“Kenapa tidak?”
“Ya. Tentu saja kau kasihan padaku.
Karena kau merasa berdiri di tempat yang
sangat tinggi, sedang aku jauh di bawahmu.
Lalu dari tempat yang itu, kau memandang
kepadaku, ‘Oh, alangkah kecilnya kau, Nun,
katamu’.”
Aku mau membantah. Tapi sebelum aku
dapat memilih kata, dia berkata lagi.
“Seperti tadi saja. Kalau bukan aku yang
menyapamu, kau takkan tahu siapa aku,
bukan? Sedang mata pertamamu melihat aku
tadi, kau seolah melihat pengemis yang
dijijiki. Alangkah cepatnya segalanya
berubah. Dan lebih cepat lagi seseorang
melupakan seseorang lainnya, meski pernah
orang itu dicintanya.”
Aku ingin memandangnya tepat, hendak
mencoba menyatakan bahwa segalanya
mempunyai alasan-alasan tertentu. Ingin aku
menentang matanya, hendak
meyakinkannya, seperti pernah kulakukan
dulu kepadanya.
“Meski bagaimana, aku tahu kau baik,”
katanya lagi.
“Ni Nun, Uni Nuuun,” tiba-tiba seorang
gadis kecil memanggil-manggil. Dan
panggilan yang tiba-tiba itu mencairkan
impitan yang memberat antara kami.
“Ke mana Uni Nun? Melalar saja. Tidak
tahu dibuntung awak,” gadis kecil berkata
lagi sambil memandang padaku dengan
curiga dan kebencian. Aku jadi kaget, kalau
gadis kecil semanis ini bisa bertingkah begitu
terhadap Nun. Inikah lingkungan hidup
Nun, pikirku. Di mana sedari kecil anakanak
telah memandang Nun sebagai
manusia tak berguna, manusia yang sial.
Kupandang wajah Nun yang berubah-ubah.
Tapi cepat-cepat disembunyikannya
wajahnya itu dari pandanganku.
“Nenek memanggil. Cepatlah!” gadis itu
memamer lagi.
“Tolong tegakkan aku. Aku mau ke
Nenek,” Nun berkata padaku dengan suara
dalam lehernya. Dan kutolong dia berdiri.
Tapi waktu itu aku jadi sentimental lagi,
melebihi tadi.
“Nenek sudah tua benar. Sudah lupa
segalanya. Selain aku. Dan kalau aku tak di
dekatnya, Nenek merasa kehilangan
nyawa,” katanya pula dan lalu pergi
meninggalkan aku yang tercenung. Ketika ia
mau membelok ke arah jalan raya, dia
membalikkan badannya lagi ke arahku dan
berkata pula. “Nenek tak bisa berpisah
denganku. Antara kami berdua ada
perpaduan nasib. Dan Nenek ingin hidup
lebih lama, karena dia tak hendak
membiarkan aku hidup sendirian.”
Dia melangkah lagi. Tapi sebentar
kemudian dia memaling lagi dan berkata,
“Tapi kalau Nenek sudah tak ada lagi, aku
juga tidak memerlukan apa-apa pula.”
Lalu dia melangkah. Tapi sebelum dia
hilang di balik belukar yang bergoyang ria
ditiup angin dari gunung itu, kukatakan
kepadanya, “Besok aku datang lagi ke sini,
Nun.”
Tapi dia tidak menoleh lagi. Hilang di
balik belukar itu. Dan belukar itu bertambah
ria menari ditiup angin dari gunung. Angin
dari gunung yang meniup belukar hingga
bergoyang dan menari ria itu, angin itu juga
yang meniup aku, meniup Nun, dan meniup
gadis kecil itu.
***
Tidak Tau
Apalagi yang luput untuk diceritakan? Gelas-gelas kosong,
isak tangis surut, pelayat beringsut meninggalkan rumah duka dan ayat-ayat suci
menguap di udara. Jenazah masih berbaring kaku, asing dari keajaiban.
Suasana berkabung dengan air mata dan doa-doanya terlalu
menyedihkan. Aku memandang Togar, teman lamaku sejak kecil, dari kejauhan. Dia
setengah mati menahan diri untuk tidak menangis. Padahal dia berhak untuk itu.
Kami berdua dan adiknya; Ranto, yang menjadi jenazah sekarang, tak pernah luput
satu sama lain semenjak kecil. Aku pun mestinya menangis, tapi tidak. Tuhan—dan
Anda juga nanti—tahu aku adalah orang yang menyedihkan. Tidak perlu air mata
untuk membuktikan itu.
Para pelayat mulai surut; tinggal keluarga inti, beberapa
kerabat dekat dan kekasih yang ditinggal pergi. Aku meminta diri. Togar
mengerti lalu mengantar sampai ke pintu. Jabat tangan kami berlanjut jadi
pelukan erat. Aku merasakan cairan hangat merembes di punggungku. Samar sebuah
isak lolos dari pengawasannya, kemudian dia melepas lengannya dariku dengan
wajah seperti yang selalu kulihat: air muka keras dengan keangkuhan yang khas
serta segaris senyum yang jarang luput dipasang. ”Sering-sering main ke sini,”
katanya. ”Pasti,” jawabku. Kami saling bertukar salam dan dia kembali
menyelinap dalam kesedihannya.
Aku berbalik menelusuri jalan pulang. Pukul dua. Fajar
tinggal beberapa jam lagi. Purnama masih bergelayut di mana dia semestinya
berada. Begitu pucat, begitu pasi. Begitu mati. Aku terus melangkah tanpa
menoleh ke arah rumah duka untuk terakhir kalinya. Aku tidak bisa kembali
melihat kesedihan itu. Tidak setelah air mata Togar merembes di punggungku. Aku
tidak pernah menyambanginya lagi setelah malam itu.
Mungkin kematian bukanlah hal yang menyenangkan untuk
memulai sebuah cerita, tapi sebuah cerita tetap harus dimulai dengan cara apa
pun itu. Yang barusan kau baca bukanlah kematian pertama dan, aku bisa
memastikan, bukanlah yang terakhir yang pernah bersentuhan denganku. Enam bulan
setelahnya, kakek meninggal. Nenek benar-benar terpukul dan nampak kehilangan
sebagian besar porsi kehidupannya. Satu tahun kemudian, beliau menyusul.
Sebelum kusadari, aku mulai menandai waktu dengan kepergian orang-orang di
sekelilingku. Mungkin aku terkesan terlalu muram; terlalu melebih-lebihkan,
tapi seperti sudah kubilang sejak awal, pada dasarnya aku memang orang yang
menyedihkan.
***
Selepas kuliah aku mulai mengendus rupiah sebagai freelance
graphic designer. Nama yang kedengarannya cukup upbeat—mungkin karena ditulis
dalam cetak miring—tapi biar aku luruskan terlebih dahulu: kemilau graphic
design nyaris hanya sebatas nama. Sebagian lulusan sekolah graphic design
terdampar menjadi pengusaha jasa printing kelas menengah dan sebagian besar
ilmu yang dibayar dengan harga mahal tersesat tak tersalurkan. Sebagian lain
bekerja mati-matian untuk memenuhi tuntutan industri kemasan sekaligus harus
berhadapan dengan klien keras kepala, pesaing picik dan perlombaan dengan
waktu.
Lama-kelamaan kau akan kelelahan dan ketika rasa lelah itu
merongrong batok tengkorakmu, fakta yang tak terelakkan menendang bokongmu:
kreativitas yang awalnya kau harapkan akan membantu mendaki tangga karier tak membawamu
ke mana-mana. Kreativitas hanya kemampuan membongkar-pasang idiom-idiom klise
lawas dari tempat sampah untuk menghasilkan sesuatu yang—nampaknya—baru. Yang
benar-benar kau butuhkan adalah kecerdasan sosial.
Secara finansial mungkin pekerjaan ini tidak terlalu
memuaskan, tapi tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Aku juga butuh makan dan
orangtuaku tidak bisa terus-terusan memanggul tanggung jawab itu. Bekerja
adalah hal yang semestinya dilakukan selepas kuliah. Untuk itulah orang rela
membuang uang demi pendidikan. Semua orang tahu: lahir, sekolah, kerja,
menikah, punya anak, kerja lagi, dan akhirnya, mati.
Hari-hari berlalu. Banyak cerita yang luput. Lima tahun
setelah pemakaman Ranto aku berusia dua puluh enam dengan pekerjaan tetap dalam
media massa. Wanita datang-pergi, dua tahun ini bernama Asri. Satu tahun lebih
muda, cerdas, manis, dan punya senyum menawan ala iklan pasta gigi.
***
Kematian menghadang suatu pagi. Tak diduga dan tak dikenal,
bergelimpang begitu saja di tengah jalan dengan sayur-mayur, tangis bocah dan
sepeda motor tua. Sebuah truk melanggar sebuah keluarga kecil yang berboncengan
di atas motor di perempatan. Sang ibu hanya luka kecil, begitu juga dengan
kedua anaknya—bocah laki-laki sekitar lima tahun dan gadis cilik selisih
beberapa tahun lebih tua, keduanya berseragam SD. Namun tidak dengan sang
bapak. Wajahnya rusak terhantam trotoar dan tubuhnya remuk tergilas roda truk.
Dia tewas seketika. Puluhan orang mengerubung, polisi merapikan lalu lintas
yang kusut. Beberapa orang ditagih keterangan. Sopir truk bermata merah
diamankan. Aku urung bekerja hari itu.
Ibu terkejut melihat kepulanganku, hari masih pagi dan aku
sudah pulang dengan awan hitam menggantung di atas ubun-ubun. Aku bilang
sedikit tidak enak badan, dia percaya lalu pergi ke kamar mandi. Di atas kasur
aku mereka ulang kejadian; bapak menjemput ibu di pasar lalu mengantar kedua
anaknya bersekolah. Lampu lalu lintas berubah merah, tapi kedua anaknya sudah
hampir terlambat. Tak ada kendaraan lewat di depan. Dia tancap gas. Lalu sopir
truk: pertengkaran dengan istri membuatnya tak bisa tidur semalaman, matanya
berat meski segelas kopi kental sudah disikat. Lampu kuning, dia mengusap mata
dan menggeleng keras mengusir kantuk. Gas diinjak dalam karena kecepatan bisa
membuatnya tetap terjaga. Sepeda motor melengang dengan suara terbatuk. Kantuk
diusir panik. Rem sempat diinjak, tapi terlambat tetap terlambat.
***
Keputusan itu datang begitu saja. Mendadak menelusup masuk
ke kepalaku ketika ia terpelanting di atas bantal. Aku harus keluar dari tempat
ini, sangkar yang menjadi tempatku kembali sampai sekarang. Memalukan, kata
orang, masih tinggal bersama orangtua. Tapi bukan itu yang jadi alasan.
Kejadian di jalan beberapa hari lalu terus menghantui kepalaku. Darah di jalan,
anak-anak menangisi kematian ayah di dekapan ibu mereka—begitu intim. Begitu
tragis.
Seperti foto di dinding: ibu—dengan gaun merah dan rambut
disisir ke belakang—di sebelah kiri; memangku adik yang tidak sempat bersiap
untuk difoto, ayah mengenakan jas hitam dan sebuah kumis tipis berdiri kaku di
samping ibu, aku di depannya, tujuh tahun, dengan setelan kemeja putih dan tawa
lebar. Waktu membuat foto itu usang. Kenangan di dalamnya terasa berjarak. Di
dalam bingkai itu aku menemukan sebuah keluarga. Begitu intim. Ketika aku
mendapati diriku sendirian di meja makan untuk makan malam: begitu tragis.
Tidak ada drama ketika aku pergi karena aku tidak pergi
jauh. Rumahku hanya empat puluh lima menit dari rumah. Ibu masih tertidur waktu
aku mengangkut barang terakhir, adik sudah pergi kuliah sedari pagi dan ayah
pun tak ada di rumah. Tempat tinggal baruku benar-benar sederhana. Satu ruang
tamu, dua kamar tidur, satu kamar mandi dan satu dapur. Sedikit perabotan…
paling tidak aku bisa menyebutnya rumah.
Dua tahun kemudian aku dan Asri menikah.
Hari-hari yang baru menunggu di depan sana. Aku mencintai
Asri dan mungkin dia juga begitu. Kebahagiaan-kebahagiaan kecil terus menyisip
dari balik selimut, kopi pagi, dan telepon di jam istirahat.
***
Suatu malam aku terbangun dengan keringat dingin. Mimpiku
pasti buruk sekali, mujur aku lupa ketika terjaga. Mimpi itu masih menyisakan
teror yang merayap di balik kulit. Merobek dinding tipis yang memisahkannya
dari realitas dan mengintip dari celah sempit. Mengintai dengan tajam matanya
yang entah, menunggu waktunya tiba. Aku tidak tahu apa. Asri tidur meringkuk
memunggungiku. Tersesat dalam mimpinya sendiri. Saat seperti inilah, pembaca
yang budiman, kesepian nyata-nyata menyelimuti dan kau bisa menggapai tanganmu
untuk merangkulnya.
”Jatuh tertidur sungguh mengerikan,” celetuk Patricia
Franchini. ”Tidur memisahkan manusia. Meski kau sedang tidur bersama seseorang,
kau tetap sendiri.”
Hey, siapa Patricia Franchini? Apa urusan dia di cerita
ini?
Aku bangkit menuju dapur untuk sekaleng bir lalu duduk di
ruang tamu. Dua pasang mata di dinding memandangiku tanpa berkedip. Tapi bukan
aku benar yang mereka pandang. Tatapan itu terlempar jauh ke depan, menantang
masa depan dan segala kejutan yang disimpannya tanpa bersenjata apa-apa.
Mungkin tanpa senjata sama sekali pun tidak sepenuhnya benar. Keduanya membersitkan
cinta. Kau bisa melihatnya dari mata Asri yang sedikit sembap karena haru. Hari
pernikahan kami benar-benar melepaskan kodratku sebagai makhluk yang—pada
dasarnya—menyedihkan. Sampai sekarang pun aku masih merasa asing di depan foto
pernikahan kami.
Inikah jawabannya—jalan keluar dari kehilangan dan kematian
yang bertubi-tubi? Tiba-tiba aku bertanya-tanya. Cintakah? Kalau benar, apakah
benar aku mengalaminya?
Cintakah Ferdinand dan Mariane, Samsul Bahri dan Siti
Nurbaya—cintakah strangers in the night yang begitu sendu dinyanyikan Frank
Sinatra? Kalau bukan, kenapa aku menitikkan air mata untuk mereka, seperti aku
menitikkan air mata ketika Asri mengatakan ’iya’ untuk lamaranku?
Aku tidak menemukan jawabannya. Cuma ada tanah basah dan
nisan dingin. Kaleng bir lolos dari genggamanku lalu menghantam ilalang. Gila,
hidupku hanya perjalanan dari satu pemakaman ke pemakaman lain. Selalu tentang
kematian dan kehilangan. Pikiran ini sudah cukup untuk menerormu seumur hidup.
Aku bersimpuh di depan nisan kakek. Nenek dan Ranto nampak
tersenyum satu meter di bawah tanah. Dengan pengap dan belatung yang
menggerogoti tubuh bagaimana mereka bisa tersenyum—seperti apa wujud tengkorak
ketika sedang tersenyum?
Aku menemukan diriku terkapar. Peluh merangkak dari ujung
mataku. Tak mengapa. Tak mengapa, tegasku meyakinkan diri sendiri.
Samar lagu mengalun. Sebuah tangan menuntunku untuk
berdiri. Senyum pasta gigi itu menemukan pertahanan terakhirku dan
meremukkannya dengan hangat. Tangan kanannya menyelinap di pinggangku dan
jemari tangan kirinya menyelinap dalam jemariku.
”Sudah lama kita tidak berdansa dengan lagu ini.”
Sudah lama kami tidak berdansa dengan lagu ini. Aku bahkan
sudah lupa bagaimana caranya berdansa, tapi perlahan aku menemukan ingatanku
dalam setiap langkah.
Aku tidak lagi berjalan gontai dari satu pemakaman ke
pemakaman lain. Aku berdansa. Kami adalah dua orang asing yang berdansa tengah
malam di atas alunan strangers in the night Sinatra. Tak jauh dari kami Ferdinand
dan Mariane berdansa, begitu juga Samsul Bahri dan Siti Nurbaya. Tak ada yang
tahu letak cinta, tapi cinta tahu untuk siapa dia ada. Mungkin.
Senyum pasta gigi Asri melumer, tinggal partikel kristal
yang berkilauan di sela deretan giginya. Begitu asing. Setelah sekian lama aku
hanya jadi penonton dalam hidupku sendiri, aku baru sadar aku tidak pernah
sendiri. Selalu ada tangan-tangan yang siap mengangkatku kalau aku jatuh dan
aku tak pernah peduli. Aku selalu penuh dengan diriku sendiri. Aku lebih banyak
menggunakan ’aku’ kalimatku. Aku tak tahu apa pun tentang Asri. Aku tak
menyisakan banyak kalimat untuk menggambarkan betapa cantik senyumnya, molek
kulitnya, bagaimana matanya menyihir kata-kata sampai kehilangan makna. Tentang
kesedihannya, kehilangannya… dia pantas untuk itu. Begitu juga dengan Ranto,
nenek dan kakek. Ayah, ibu, adik, Togar—
Selalu Saja
Selalu
Begitu
Selalu saja begitu, kau akan
menangis saat bercerita tentang teman priamu yang menyebalkan itu. Dan selalu
saja begitu, aku tak hentinya mengejekmu hingga tangismu kian menjadi, dan
akhirnya kau berlari ke kamar sambil membanting pintu. Namun akhirnya, aku
mengejarmu dan membujuk agar kau keluar dari kamar. Dan pasti, kau akan keluar
dengan memasang wajah yang semrawut, dan aku paling tahu bagaimana cara
mengatasinya—chocolate ice cream.
Karena kau selalu saja begitu.
***
Paginya, kau bangun dengan mata merah
karena menangis semalaman. Tak nafsu makan, dan berangkat kuliah dengan
lunglai, tanpa menyapaku. Saat itu, aku hanya memandangimu dengan heran tanpa
berkomentar apapun. Dan selalu saja, beberapa menit kemudian kau akan
berlari-lari kembali menuju kosan, mengambil makalah yang tertinggal. Dan
selalu saja, aku tertawa puas melihat tingkahmu dan berkomentar dengan bangga,
bahwa kau kekanakan dan akulah yang bersikap dewasa. Setelah itu, aku berangkat
ke kampus sambil menahan tawa.
***
Malam harinya, kau kembali
bercerita tentang teman priamu itu. Dan tak ada perubahan tentang komentarku
mengenai ceritamu itu.
Kubilang
“Jangan terlalu berharap lebih pada seseorang karena mereka tidak dapat seratus
persen dipercaya.”.
Dan
jawabanmu selalu sama “Kau berkata seperti itu karena tidak pernah menyukai
seseorang.”.
Dan
pastinya aku tidak mau kalah, “Tidak ada cinta sejati, tidak ada sahabat
sejati, tidak ada keluarga sejati. Yang ada hanyalah kepentingan sejati.”
Saat
aku memulai ceramahku, selalu saja kau terlelap bagai bayi.
Entah mengapa kita bisa sangat
akrab dengan segala perbedaan. Kau yang kekanakkan selalu saja bercerita
tentang hal-hal yang menurutku tak terlalu penting. Dan aku yang kau sebut ‘si
nenek tua’, selalu bercerita masalah-masalah berat menyangkut politik, agama,
HAM dan yang lainnya. Kita akan berebut tv saat jam lima sore. Kau
menyembunyikan remote karena tak ingin acara drama koreamu terganggu, dan aku
tak kalah ide, berusaha mengganti channel ke acara berita politik. Dan selalu
saja begitu, kau akhirnya menjulurkan lidah jika aku tak berhasil menemukan
remote tv.
Karena kau, selalu saja begitu.
***
Hingga saat menginjak semester lima
perkuliahan, kita harus terpisah karena keadaan. Beasiswamu dicabut!. Kau
sangat bingung saat itu, aku juga tak kalah bingung. Jelas tak ada harapan lagi
jika beasiswa itu benar-benar dicabut, keluargamu tak akan mampu membiayai. Aku
sangat tahu itu. Selalu saja begitu, kau menangis selama dua hari dan tak ingin
makan. Kali ini tak ada komentar dariku. Ini masalah besar, masa depanmu
dipertaruhkan. Aku tahu benar, betapa beratnya menceritakan kenyataan ini pada
emak bapakmu di kampung. Mereka terlalu berharap besar, dan kau pun terlanjur
bermimpi besar.
Kau pergi ke kampung halamanmu di
tanah Minang sana. Meninggalkan segala kenangan di kota hujan ini, kau berjanji
akan sering menelpon dan berkirim email padaku. Dan selalu saja begitu, kau
pergi dengan mata merah karena menangis semalaman. Sebelum itu, kau
mengeluarkan remote tv yang seminggu lalu kau sembunyikan. Kita pun tertawa
berdua.
***
Setiap hari aku menelponmu, dan
setiap hari pula kau berkirim email padaku. Kau bercerita sangat banyak melalui
surat elektronik itu, dan akupun membalas tak kalah panjang di sana. Selang
beberapa bulan, kau bilang handphone-mu tidak aktif dan kita hanya bisa
berkomunikasi lewat email. Dunia nyata kita kini pudar, dan yang ada hanyalah
dunia maya di depan mata. Kau menandai foto terbarumu lewat facebook,dan aku
pun menandai foto kosan kita, karena kau bilang ingin melihatnya.
Kudengar, kau telah bekerja di sana
dan memiliki penghasilan yang lumayan, walau kau tak pernah bercerita tentang
hal itu kepadaku—aku mendengarnya dari Dina, teman sekampungmu. Tak dapat
diceritakan semuanya jika hanya lewat email, aku maklum. Dari ceritamu, kau
hanya bilang sedang mengumpulkan uang agar bisa kuliah lagi. Kau bertanya
padaku bagaimana cara mendapat uang yang cepat sekarang ini, dan aku
menjawabnya dengan gurauan. Kita pun tertawa di tempat yang berbeda. Aku tak
peka saat itu, bahwa kau benar-benar sedang sangat membutuhkan uang.
***
Dua tahun terlewati, dan kita tak
pernah putus komunikasi. Walaupun hanya dunia maya, aku tak peduli, karena
bagiku sahabatku begitu nyata. Pernah kuminta nomor handphone-mu saat ini,
karena sudah hampir dua tahun tidak mendengar suaramu.
Tapi
kau bilang “Aku tidak punya uang untuk membeli handphone.”,
Aku
mengernyitkan dahi membaca alasanmu itu. Bagaimana tidak? Teman sekampungmu
yang kuliah di kota hujan ini mengatakan bahwa kau telah mendapat pekerjaan
yang mapan. Kau berhasil membeli mobil, dan menyulap rumah reyod emak bapakmu
menjadi bangunan layak huni berlantai dua, juga kau berniat untuk menaikkan
haji emak bapakmu tahun ini. Aku turut senang mendengar keberhasilanmu, walau
agak mengherankan. Pekerjaan apa yang kau dapatkan, dengan hanya berbekal ijazah
SMA, hingga dapat berlimpah harta seperti ini? dalam waktu kurang dari dua
tahun pula.
Kupendam segala pertanyaan ini, tak
banyak yang bisa diharapkan dari surat dunia maya ini.
***
Sebulan kemudian, kau mengatakan
tidak akan berkirim email dulu. Aku menanyakan alasannya, tapi tak ada jawaban.
Kau selalu saja begitu, berdiam diri saat memiliki masalah. Pikirku, apa
mungkin sekarang kau sedang mengurung diri di kamar?
***
Pada senja yang berwarna jingga,
aku berangkat ke tanah Minang untuk menemuimu. Aku masih menyimpan alamat
lengkapmu. Sepanjang perjalanan, bayangan masa kuliah selalu saja muncul. Tak
ada yang menyembunyikan remote lagi sekarang ini. Seberkas senyuman hadir
kembali setiap kuingat masa itu.
***
Terjadi kerusuhan di tanah Minang
saat ini, sepanjang jalan dipenuhi oleh mobil patrol polisi. Menurut kabar,
sedang terjadi penggrebekkan gudang narkoba di daerah sini, dan Bandar
narkobanya belum juga ditemukan. Aku terpaku sesaat, kudengar nama “Soraya”
disebut-sebut sebagai Bandar narkoba itu. Dia seorang gadis muda, umurnya
kurang lebih dua puluh empat tahun. Ciri-ciri fisiknya, tinggi 166 cm, berkulit
putih, berwajah oriental, dan memiliki tahi lalat di atas alis sebelah kanan.
Soraya? Pikiranku tertuju pada sahabatku
itu. Nama yang sama, ciri-ciri fisik yang sama. Soraya sahabatku memang
berwajah oriental, karena ayahnya adalah keturunan Tionghoa sedangkan ibunya
darah Minang asli.
Ah,
bukankah banyak sekali orang bernama soraya di Indonesia ini. Aku melanjutkan
langkahku, walau dengan hati tak menentu.
***
Tiba-tiba terdengar suara tembakan,
sangat dekat. Aku berbalik ke belakang, kudapati para polisi berjejer radius
empat meter di depanku. Dan betapa kagetnya aku, saat kudapati seseorang yang
terkulai lemah di tengah jalan.
Wajah
itu—perasaanku mulai tak karuan. Wanita yang terkena tembakan peringatan di
kaki kirinya itu mengangkat wajah. Mata merah itu memandangiku, menatap nanar
ke arahku. Mata merah itu, persis sama seperti dua tahun lalu.
Tak terasa mataku basah, mata merah
itu memang sama, sahabatku.
Nyatakah
ini?
Ataukah
masih di dunia maya?
Ya,
mungkin ini hanya fantasi dunia maya. Bukankah kita sedang berkirim email?
Aku
terus membuat alibi bagi sahabatku.
***
Besoknya,
di senja yang berwarna jingga, kukirimkan sebuah pesan ke email-mu. Entah kapan
kau akan membacanya. Kupikir untuk waktu yang lama kita memang tidak akan
berkomunikasi lagi, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Mesin terbang ini mulai meluncur,
meninggalkan tanah Minang.
Sementara itu, dibalik jeruji besi,
di tempat lain di tanah Minang ini, dua bola mata merah memandang nanar. Mata
yang memang sama.
Kau selalu saja begitu kekanakkan,
kau selalu saja begitu. Kau memang pemilik mata merah itu, sahabatku.
***
Kepiluhannya
Terdapat anak yang bernama ravida ,dia bersekolah di salah
satu SMA Negeri Di jakarta .ia biasa di
panggil vida ,ia tidak pintar ,ia
tidaklah pintar tetapi ia berusaha untuk selalu belajar.
Ravida memiliki sahabat yang amat setia menemani nya di
kala suka maupun duka bernama epha.mereka bersahabat dari duduk di bangku
sekolah dasar sampai sekarang ini. Setelah vida duduk di bangku sekolah
menengah atas vida mendapat begitu banyak sahabat salah satunya Dila dan risna.
Tidak hanya mereka yang menjadi sahabatnya tetapi juga tomi. Ia orang yang
humoris, ia juga juara kelas dan ia juga ramah pada setiap orang.
Ravida bersahabat dengannya dari mos awal masuk sekolah
sma. Kesan pertamanys dengan tomi, ia orangnya lucu dan misterius.
Kemisteriusannya itu ia sembunyikan di balik kacamatanya.
Waktu terus bergulir dan hari terus berganti. Awalnyavida
hanya sekedar teman biasa yang memiliki rasa ingin tahu dengan sifatnya. Semua
itu bermula dari tujuh bulan yang lalu tepatnya bulan November. mereka sering
bercerita lewat pesan singkat, banyak cerita duka dan suka yang vida ceritakan
denganya. Banyak pertanyaan yang vida ajukan untuknya.
Dari kesukaanya hingga alasan ia melepas kaca matanya
ketika ia berada di luar kelas dan di rumah. Bahkan dia member vida begitu
banyak nasehat “ jangan merubah diri kamu hanya karena hal yang tidak penting”.
pesannya
Sayangnya ke dekatan dan persahabatian mereka di warnai
gosip dan desas-desus yang menyatakan vida menyukainya, padahal di antara
mereka hanyalah ada sebuah tali persahabatan. Desas desus itu heboh di
kalasnya. Puluhan pesan singkat vida tak mendapat tanggapan darinya. Parahnya
lagi tiap mereka tidak sengaja bertemu tak ada sedikt senyum di wajahnya dan
tak ada sedikit pun kata terucap di bibir manisnya itu. Yang ada hanyalah
tatapan mata yang kosong namun indah.
Ravida binggung dengan apa yang harus ia perbuat.vida sedih
jika selamanya mereka harus begini. Hatinya sakit bagaikan di tusuk seribu
jarum.vida berdo’a “ Aku mohon kepada MU jangan ambil sahabatku. Engkau dapat
mengambil semua yang ku miliki tapi jangan kau ambil sahabatku. Karena sahabat
menurutku amatlah berarti dalam hidup ini .Jika aku boleh meminta pada MU.
kembalikanlah sahabatku seperti dikala pertama kali aku mengenalnya. Aku hanya
ingin jika aku kelak bertemu dengannya aku dapat melihat senyuman manisnya dan
mendengar kata sapaan dari bibirnya yang merah. entah kapan semua itu terjadi
yang jelas aku akan selalu menjadikan ia sahabat terbaikku. aku yakin itu semua
akan terjadi.” Rintihnya.
Jarum jam terus berputar begitu pula harapan vida yang
semakin lama luntur karena prilakunya. Vida menyadari mungkin itu semua terjadi
karena kesalahannya juga. Yang pada
suatu ketika menulis kalimat permohonan maaf dan kata-kata bahwa vida tidak mau memutus tali silaturami di
frendstervida. ia berkata melalui temannya bahwa vida membuat steres dirinya.
bahkan di luar dugaanvida, ia berkata untuk tidak saling menggangu biar
sama-sama enak. padahal di hati kecilku vida hanya ingin menyambung tali
silaturami dengannya. vida sedih dengan perkataannya itu, yang membuat vida
sedih kenapa pertemanan yang diawali dengan baik harus di akhiri seperti ini.
Persahabatan
Suatu hari ada seoranng anak bernama rina.ia melanjutkan
sekolah di smp 01 surabaya. . di smp barunya ia tidak merasakan happy.Karena
disaat pertama masuk SMP, dan di sekian banyak orang yang rina kenal, tidak ada satu orang pun yang rina
kenal di kelas barunya itu.
Tentu saja itu sangat membosankan bagi rina yang tidak
memiliki teman di kelasnya. “huh.. sangat membosankan” gerutu rina dalam
hatinya.Karena rina bosan, akhirnya rina memutuskan untuk berkenalan dengan
teman sebangkunya. Iya, rina memang sangat malu dengan orang yang belum dikenalnya.
Apalagi jika ia harus membuka mulut pertama untuk berkenalan. Tapi, karena rina
sangat bosan, hilanglah semua rasa malunya.
“ Boleh
berkenalan? Namaku RINA. Siapa namamu?” Tanya Rina, kepada teman sebangkunya.
rina memang benar-benar tidak pernah bisa untuk berkenalan ya sepertinya, masa
mau berkenalan saja nanya dulu boleh kenalan apa tidak huh dasar rina rina.
Untung saja teman sebangkunya menjawabnya dengan santai “hey, oh tentu saja
boleh. Namaku via” sambil bersalaman ala berkenalan. Akhirnya rina tidak merasa
bosan lagi, karena via teman barunya terus mengajak rina untuk mengobrol.
Teeett itulah bunyi
bel sekolah rina Bel tersebut menunjukan waktu untuk pulang sekolah. Sesaat bel
pulang sekolah berbunyi,rina langsung bergegas pulang menaiki angkutan umum,
atau sering juga disebut angkot. Karena ini pertama kalinya masuk smp, otomatis
pulang naik angkot sendirian pun, juga pertama kalinya. Sehari sebelum sekolah,
papahnya rina mengajarkannya untuk naik angkot. Papahnya rina bukan ngajarin
nyupir angkot ya, tapi ngajarin naik jurusan apa saja yang harus dilalui rina
dari rumah sampai sekolah. Walaupun ini hari pertamanya rina ke sekolah jauh
dari rumahnya, dan pulang menaiki angkutan umum sendirian, rina berhasil
melakukannya untuk hari pertama. Kalau hari pertama bisa dilalui, berarti
hari-hari selanjutnya juga bisa dilaluinya dengan sangat mudah.
Sesampainya di rumah, rina langsung memasuki kamarnya untuk
berganti baju dan langsung membaca novel. Iya, itu salah satu hobi rina yaitu
membaca novel. Bisa dibilang hobinya itu bukan baca novel, tapi hobi meminjem
novel. Soalnya di sekian banyak novel yang rina baca, tidak ada satu pun novel
yang rina miliki, ada-ada saja ya rina.Keesokan harinya, rina melakukan
kegiatan seperti kemarin. Tapi, untuk hari ini rina jadi memiliki banyak teman
loh. Karena via memilikii banyak teman, jadi rina bisa bergabung dengan
teman-temannya via.
Sudah beberapa bulan rina melakukan aktivitas yang sama.
Dan sampai pada akhirnya, karena via dan rina semakin hari semakin dekat,
mereka pun jadi bersahabatan. via juga punya sahabat di kelas lain, yaitu Sari
dan Hana. Karena via dekat dengan rina, akhirnya rina juga bersahabatan dengan
Sari dan Hana.
Di saat mereka sedang istirahat via juga pernah bercerita
ke rinaa seperti ini “Eh rina. Tau gak via lagi ngeceng seseorang loh” kata via
yang sedang duduk bersama rina didepan kelasnya. “Hah?via punya kecengan? Sejak kapan via ngeceng
cowok? Dikira, via ngecengnya sama cewek lagi. Hahahaha” jawab rina sambil
tertawa terbahak-bahak. “Ah kamu bercanda aja rin, jangan gitu dong. Aku juga
masih normal kali.” Jawab via kesal. “Hahaha iya maaf maaf. Yang mana sih cowok
kecengan via?” jawab rina yang masih cekikikan melihat sahabatnya yang kesal
itu. “itu tuh, yang lagi duduk” jawab Lina sambil menunjuk cowok kecengannya.
“Oh yang itu, biasa aja sih” jawab rina sambil memakan permen yang hampir saja
mau jatuh dari mulutnya. “Aduh. Semua aja dibilang biasa. Terus menurut kamu
siapa yang paling ganteng? Kamu?” jawabvia sambil meledek rina.
Sobat, Maafkan Aku
Gedung – gedung pencakar langit berjajar, macet dan tugu
monas. Yaa… siapa yang tidak tahu tempat itu, Benar… Jakarta , ibu kota Negara
kita yang tercinta ini. Kenalkan namaku Alya Ramadhani. Aku lahir di bandung
tapi aku tinggal di Jakarta sejak umur 7 bulan. Dan ketika aku beranjak umur 5
tahun, ayah dan bunda membawa aku pulan ke kampong halaman yaitu ke Bandung.
Sehari – hari aku bermain dengan anak – anak kampong. Mereka semua baik dan
ramah. Hal itulah yang membuat aku nyaman dan betah di sini.
Hari ini adalah hari pertamaku sebagai generasi putih biru.
Aku begitu bahagia, karena tak lama lagi aku mendapat teman baru. Jam dinding
sudah menunjukka pukul 06.30 saatnya untuk aku berangkat ke sekolah. Aku
berangkat ke sekolah bersama ayah dengan menggunakan mobil. Dan tak lama
kemudian kami pun sampai. SMP Negeri 01 Bandung tulisa itu terlihat jelas di
gerbang sekolah.
“ ayah.., alya pamit yaa .. , Assalamualaikum “ pamit ku
pada ayah sambil mencium tangannya
“ iyaa nak.. ! belajarlah yang rajin “ jawab ayahku dengan
lembut.
Perlahan aku pun mmemasuki sekolah baruku itu. kelas 7C itu
adalah kelasku sekarang. Akupun masuk kedalam dan duduk di deretan paling
depan. Aku berkenalan dengan seorang gadis sebayaku. Dia bernama Elma. Dia
sangat baik dan ramah padaku.
Hari semakin hari , pertemanan kita semakin akrab. Atau
bias dibilang kami sudah menjadi sahabat. Susah senang kami lalui bersama. Jam
istirahat pun tiba. Semua siswa berhamburan keluar kelas, termasuk aku dan
sahabatku, kami memutuskan untuk pergi ke kantin.
@Kantin
“ Al , kamu mau pesen apa? Biar aku yang pesenin “ ucap
Elma padaku
“ aku pesen bakso sama es teh manis aja deh .. ! “ jawabku
“ Okee.. !! aku pesenin dulu yaa “ ucap Elma sambil
beranjak pergi dan memesan makanan.
Tak
lama Elma pun datang denga 2 mangkuk bakso dan 2 gelas es teh manis. Tanpa basa
basi pun aku segera melahapnya. Sedangkan Elma hanya terdiam dan memainkan
sendok dan garpu yang dia pegang.
“ El kamu kenapa ? kok gak dimakan ?? “ tanyaku pada Elma
“ Gak Al.., aku gapapa. “ ucap Elma sambil tersenyum
Saat aku perhatikan , wajah elma pucat. Tapi setelah aku
Tanya lagi dia hanya menjawab bahwa dia tidak apa – apa. Bel tanda masuk kelas
pun berbunyi, aku mengajak Elma untuk ke
kelas. Tiba – tiba Elma jatuh pingsan dengan darah segar yang mengalir dari
hidungnya. Yaa Tuhann… ada apa dengan sahabatku ?
Semua temanku di kantin,membantu membopong Elma. Pak guru
menyerahkan agar Elma di bawa kerumah sakit. Segera kami membawa elma ke rumah
sakit sambil berlari dengan mendorong ranjang pasien, Aku terus saja menangis
dan berdo’a berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Elma, sahabatku.
Cukup lama Dokter memeriksa Elma. Kami semua menunggu
harap- harap cemas. Ayah dan Ibu Elma juga ada di rumah sakit. Tak lama
kemudian dokter keluar dari ruang UGD.
“Dok…..,bagaimana keadaan anak saya?”. Tanya ayah Elma pada
Dokter.
“Begini pak, anak
Bapak menderita penyakit Leukimia stadium tiga”. Jelas Dokter.
Deg…………….!! “Ya Tuhan ada apa dengan sahabatku Elma.
Mengapa bisa secepat ini.Aku saja tidak tahu bahwa dia menderita penyakit
separah ini”. Semua orang disana hanya terdiam. Mereka begitu kaget atas apa
yang menimpa Elma.
Singkat cerita, Aku dan Elma kini sudah duduk di bangku
kelas tiga, selama itu pula Elma sering bolak balik masuk Rumah sakit.Keadaan
tubuh Elma jug semakin kurus,rambut panjangnya perlahan mulai rontok, sungguh
hatiku tidak tega melihat dia seperti ini. Ujian Nasional pun sudah ada di
depan mata.
Sore hari di rumah. Aku sedang membaca buku di Kamar,
tiba-tiba hp ku berbunyi, dan tertera nama Ibu Elma di layarnya. Aku pun
mengangkat telefon nya , seketika air mataku jatuh setelah aku tahu bahwa
penyakit Elma semakin parah.Dan dia akan di bawa ke Rumah sakit di Singapore.
Aku pun segera bangkit dan berlari untuk pergi ke Rumah Elma.Aku ingin ada di
sampingnya,aku inin terus bersamanya.
Namun, saat aku hendak keluar Rumah , Bunda menahan langkah
kakiku.Bunda tidak memperbolehkan Aku kesana. Karena Rumah sakit tempat Elma
dirawat jauh dari Rumah dan lagi besok Aku akan menghadapi Ujian Nasional.
Bunda menyuruh aku untuk tetap berada di Rumah, dengan terpaksa Aku menuruti
ucapan Bunda.
Di dalam Kamar. Aku tidak bias berkonsentrasi untuk
belajar. Aku terus saja menangis dan memikirkan bagaimana keadaan Elma di sana,
pikiran dan hatiku pun tidak tenang. Namun di kegelisahanku Aku terus saja
berdo’a kepada Allah Tuhanku.
Esok pagipun tiba. Hari ini aku bersiap berangkat sekolah
dan hari ini pertama Ujian Nasional. Tiba-tiba hp ku berbunyi, Aku pun
mengangkatnya dan ternyata telephone dari Ibu Elma. Seketika Hp yang Aku pegang
jatuh ke lantai saat Aku tahu bahwa Elma sudah tidak ada. Dia sudah
meninggal,butiran Kristal bening mengalir deras si pipiku. Aku masih belum
percaya bahwa Sahabat karibku pergi meninggalkan Aku untuk selamanya. Bahkan
saat hembusan nafasnya yang terakhir Aku tidak bias disampingnya.
“Elmaaa……!!!!!!, maafin Aku,Aku tidak bias ada disampingmu
bahkan disaat hembusan nafasmu yang terakhir,hiks..!!, Aku memang Sahabat yang
tidak berguna, hiks…!, maafin aku Elma……”. Isakku.
“Ya Tuhan,mengapa
kau ambil Sahabatku begitu cepat. Aku sangat menyesal tidak berada
disampingnya. Aku terus saja menyalahkan diriku sendiri.” Elma sahabatku semoga
kamu bahagia di sana, Aku disini selalu mendoakanmu, Aku tidak akan melupakan
semua kenanganku bersamamu, Wahai Sahabat
baikku……”
Tidak Disangka
Sebuah keluarga dengan lima orang anak beserta kakek
neneknya tinggal di suatu rumah dengan
kehidupan yang aman tentram,sejahtera,dan
bahagia. Mereka adalah keluarga yang terkenal kerukunanya oleh tetangga
nya, sehingga tetangganya banyak
menyukainya,keluaga itu terkenal
keluarga yaang ramah,baik,sopan bersahabat dan suka menolong. Anak dari
keluarga tersebut yang cowok ganteng dan yang cewek cantik,yaa wajar saja orang
tuanya kan serasi sama sama cakep.
Pasangan itu bernama angel dan alex dan di karunia lima
orang anak,3 anak cowok dan 2 anak
cewek,meskipun angel sudah berkepala lima,namun ia masih terlihat awet muda
lhooo,,,masih terlihat seperti berusia dua puluan gitu deehhhh,, anak
pertamanya itu cowok,namanya dani,wiihhhh ini adalah anak angel dan alex yang
paling ganteng di antara saudara saudaranya,kaum hawa pada ngejar ngejar
si dani. Anak keduanya itu perempuan.nah
ini adalah anak yang paling cantik.pokoknya anak yang pertama dan kedua itu
pasti cakep cakep deh. Eitzz tapi bukan berarti yang lain gak cakep. Anak anak
mereka sama sama ganteng dan cantik kok.
Anak ketiganya itu bernama kevin,nah ini adalah anak yang
super nakal bandel ,suka bikin onar lagi. Berulang ulang orang tuanya
menasihati dan memberikan pelajaran atas apa yang di perbuatnya,kevin belum
jera juga. Malah ia tambah menjadi jadi sehingga orang tua mereka memutuskan
menggunakan cara halus untuk mendidik kelvin. anak keempatnya bernama naila
,naila adalah anak yang paling baik sabar dan suka mengalah,meskipun ia juga
termasuk anak yang lebih muda dari pada kakak kakak nya ia tidak segan segan
mengalah apabila ada sesuatu hal dengan saudara yang lebih tua.
Anak terakhirnya bernama rio.rio anaak yang
sopan,pintar,dan rajin.mereka semua memiliki karateristik yang berbeda beda
sehingga dalam keluarga mereka memiliki beragam macam warna kehidupan dan
pelajaran, mereka selalu hidup rukun . alex jarang berada di rumah karena ia
bekerja di luar negeri,sehingga angel tinggal bersama ibu bapaknya dan anak
anak terkasihnya. Angel selalu sabar dalam mendidik anak anaknya dan angel
tidak di perbolehkan bekerja oleh sang suami. Alex hanya memrintahkan angel
untuk mengurusi keluarganya saja dan angel pun menyetujui.
Kebahagiaan selalu menyelimuti keluarga mereka ,meskipun memang sebenarnya
cobaan selalu datang untuk menguji keluarga mereka,mereka dengan lapang dada
menerima segala sesuatu yang di tetapkan oleh allah sehingga tidak tampak dari
wajah alex dan angel apabila sedang diberikan suatu cobaan menampakkan
kesedihannnya di depan anak
anaknya,mereka tidak pernah bertengkar karena sang istri selalu taqdim terhadap
perintah sang suami. Itulah kunci
keluarga yang bahagia
Keinginan baik yang Salah
Pada suatu hari terdengarlah suara tangisan dari seorang
perempuan karena merasa bersalahnya kepada sang suami.
Dua belas tahun sudah ia hidup bersama dengan suaminya
namun mereka tak juga dikaruniai seorang anak.sang istri berkata kepada
suamiya”mas,maafkan aku,aku tidak bisa menjadi seorang istri yang baik dan bisa
membahagiakanmu,aku sudah gagal mas.aku rela apabila mas mau mencari wanita
lain untuk mas nikahi”menarik nafas sang suami menanggapi perkataan istrinya
“untuk apa kamu bilang seperti itu?aku tidak pernah merasa kecewa ataupun marah
ketika kita sudah bertahun-tahun bersama akan tetapi hasil cinta kita belum
berbuah,mungkin memang ini yang terbaik buat kita,TUHAN belum mengaruniai kita
anak karna tuhan tau mungkin kita belum sanggup untuk menjaga dan merawat
ciptaannya”.sang istri hanya bisa diam mendengar tanggapan sang suaminya.
Setiap hari tak ada yang direnungkan sang istri,hanya rasa
bersalahnyalah yang selalu ada dibenaknya sehingga ia mempunyai niat untuk
menghindar dan menjauh dari suaminya dengan maksud agar suaminya resah dan
jenuh sehingga ada keinginan untuk menikah lagi,akan tetapi karena kuatnya
cinta sang suami sikap dan niat istrinyapun ia abaikan.
Sehingga pada suatu pagi ketika mereka hendak sarapan,sang
istri berkata lagi pada sang suami”mas,aku sadar mas tidak akan bahagia dengan
pernikahan kita tanpa adanya buah hasil dari cinta kita,aku mau mas sekarang
menikah lagi supaya mas bisa mempunyai seorang anak,aku rela mas meskipun anak
itu terlahir dari perempuan lain aku terima”. Sekarang sang suami tidak bisa
menyanggah ataupun menanggapi dari keinginan sang istri yang sangat kuat itu.”pergilah
mas,cari wanita yang bisa mas nikahi dan bisa memberikan mas anak”lagi-lagi
sang istri berkata.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan sang suami,karena
cintanya yang sangat besar kepada istrinya dan tidak mau istrinya terus-terusan
menangis maka ia akan memenuhi dan mengabulkan permintaan sang istri.
Pada suatu ketika akhirnya sang suami menemukan perempuan
yang bernama Ranty dan iapun mau menjadi istrinya serta mau menyerahkan bayinya
kepada suaminya bersama istri yang sudah diketahui sebelumnya. Mereka tinggal
dalam satu rumah,sang istri sangat akrab dengan ranty apalagi ia sudah tau
bahwa Ranty sekarang sudah mengandung anak dari suaminya.
sang istri rela melakukan dan mengabulkan setiap apa yang
dinginkan oleh Ranty demi keselamatan dan kesehatan janin yang ada pada
kandungan Ranty. Sang suami hanya bisa melihat apa yang dilakukan istrinya
kepada istri keduanya itu.
Sembilan bulan sudah Ranty hamil dan akhirnya ia melahirkan
di salah satu rumah sakit yang terletak di kawasan tempat mereka tinggal.
Betapa bahagianya sang suami dan istrinya melihat bayi yang dilahirkan ranty
akan segera memanggilnya papa dan mama.tidak lama kemudian persalinanpun
selesai dan mereka pulang bersama-sama, entah kenapa di pikiran Ranty terbesit
sesuatu yang bertentangan dari perjanjian yang ia buat bersama keluarga
suaminya itu.
Sang istri hanya bisa menangis,menangis dan
menangis.”sudahlah,,jangan menangis lagi,memang kita sudah di takdirkan hidup
bersama tampa adanya seorang putera”sang suami mencoba menghibur istrinya.
“maafkan aku mas,aku kira dengan kita memiliki anak meskipun dari perempuan
lain kita akan bahagia,ternyata aku salah mas, maafkan aku”
Dibalik Sebuah Cobaan
Namaku Aiman aku terlahir dari keluarga yang kurang mampu.
Ayahku bekerja sebagai tukang kayu, sedangkan ibuku sehari-harinya hanya
mencari imbalan cucian baju untuk menambah pendapatan demi mecukupi kebutuhan
sehari-hari. Aku mempunyai seorang kakak yang wajahnya cantik,putih dan dia
telahir sempurna. Berbeda dengan aku,aku dilahirkan kedunia dengan kekurangan
sejak lahir sampai sekarang aku tidak bisa berbicara layaknya manusia sempurna,
aku tidak tau dan ini juga bukan kehendak orang tuaku, ini sudah takdir dari
Tuhan. Dikeluargaku hanya ibu yang bisa menerima aku apa adanya dan hanya ibu
yang bisa mengerti aku. Sementara ayahku benci seakan-akan ia tiadak pernah
mengharapkan kehadiranku, dan kakakku dia sama sekali tidak pernah menoleh
kepadaku dia jijik mempunyai adik sepertiku.
Sehingga disuatu hari ibu meninggal karna penyakit yang
dideritanya, keluargaku sedih, terutama aku yang pada waktu itu sangat terpukul
atas kematian ibu. Sekarang tidak ada lagi yang mengerti aku, ayah serta
kakakku semakin benci kepadaku, “ini semua gara-gara kamu bocah
cacat,seandainya kamu tidak lahir kedunia ini semua tidak akan terjadi”kakak
berkata. Aku hanya bisa merespon melewati gerak bola mata “apa salahku kak?
Kenapa kakak bilang seperti itu”
Tidak lama kemuadian ayah beserta kakakku pergi jauh
meninggalkan aku,entah dimana mereka tinggal sekarang aku tidak tau. Aku tidak
bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan supaya keluargaku
kembali dan bisa menerima aku apa adanya.
Satu tahun dua tahun aku hidup dengan belas kasih orang, tak
ada kabar sedikitpun mengenai keluargaku. Dan pada suatu ketika ada seorang
kakek yang terkena penyakit sudah lama kakek itu menderita penyakit yang
dideritanya namun sampai sekarang belum ada yang bisa menyembuhkan penyakitnya
itu, kemudian entah kenapa keluarga kakek itu pergi kerumah dan memintaku untuk
menyembuhkan penyakitnya, aku menolak-nolak dengan bahasa isyarat “aku tidak
tau, apa yang harus aku lakukan? Aku bukan dokter dan aku juga bukan tuhan”
akan tetapi orang itu tetap saja ngotot memintaku untuk menyembuhkan penyakit
kakek. Dan akhirnya aku pergi kerumah kakek itu dan melihat kakek itu dengan
penyakit yang dideritanya. Aku mencoba mendekat dan menyentuh kakek itu serta
sambil berdoa kepada tuhan supaya tuhan memberikan kesembuhan kepada kakek ini.
Keesokan harinya kakek beserta keluarganya datang menemui
aku,dan mereka mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepadaku. Aku diam seraya
menjawab dari ucapan mereka “jangan berterima kasih kepadaku, berterima
kasihlah kepada Tuhan, dialah yang sudah menyembuhkan kakek dari penyakitnya
hanya karna mungkin perantaranya aku”.
Kabar ini cepat didengar oleh semua orang bahwa aku bisa
menyembuhkan orang sakit dengan bantuan Tuhan. Hampir setiap hari ada orang
datang kepadaku dan meminta supaya aku menyembuhkan orang yang sedang sakit,
dan alhamdulillah dengan pertolongan dan kuasa Tuhan semua orang bisa sembuh
dari penyakitnya.
Pada suatu hari ayahku terkena penyakit yang kemungkinan
tidak bisa disembuhkan lagi, kakakku mendengar berita dari orang bahwa ada
bocah yang bisa menyembuhkan semua penyakit dan namanya itu Aiman. Kemudian
kakak dan ayahku datang kepadaku,dan betapa terkejutnya aku ketika melihat
mereka,”namun ayah kenapa?”
Tiba-tiba kakak mendekat kepadaku, ia berkata”adikku Aiman,
kamu adikku kan yang dulunya aku sangat benci kepadamu,yang dulunya aku gak
sudi punya adik sepertimu” mataku berkaca-kaca, kemudian kakak melanjutkan
“kakak minta maaf Aiman dulu kakak jahat kepadamu dan maafin ayah juga karna
kakak dan ayah sudah menyalahkan kamu atas kepergian ibu dan maafkan kita karna
sudah meninggalkan kamu sendirian Aiman” sambil meneteskan air mata, aku juga
tak bisa menahan jatuhnya air mata ketika aku mendengar pengakuan dari kakak.
“sekarang ayah lagi sakit parah, dia tidak bisa jalan, dia tidak bisa ngomong
bahkan dia tidak bisa mendengar suara apapun dan bergerakpun ia tidak bisa”.
Kemudian aku mendekat dan memeluk ayah sambil menangis dengan suara hati “ ayah
Aiman sayang ayah, Aiman tidak mau kehilangan ayah, Tuhan Aiman mau ayah sembuh”
dan sesaat ayah bergerak dan menyentuh pipiku, “anakku, maafkan ayah, ayah
sudah meninggalkan kamu sendirian, ayah adalah ayah yang paling jahat yang
tidak bisa menjaga dan menghidupi anaknya dengan baik, maafkan ayah nak....”
dan hembusan terakhir ayah tepat berada dipelukanku. “ayah....jangan pergi”
Sepasang Kaos Kaki
“Kita ini sepasang kos kaki, aku kaos aki bermotif kamu
kaos kaki polos, kita memang berbeda tetapi kita adalah pasangan”
Aku rindu kamu, saat kamu mengatakan kalimat manis itu,
senyum yang kamu selipkan begitu istimewa. Sangant jelas, ingatan itu melekat
di dalam pikiranku. Air dari langit itu menerjangku serta anginnnya yang
menususk kurasakan seperti waktu itu dimana kalimat itu terlahir dari mulut
manismu. Kamu sebagai sahabat.
Andai dari dulu kamu katakan semuanya aku akan menghargai
waktuku saat bersamamu kawan. Seorang pria yang saat itu tersesat mencari
kelasnya, yah siswa baru. Wajah polos dengan mata yang lebar berwarna cokelat
terang tanpa imut ditambah bibir yang merah dan suara lembut yang
bahkanmengalahi suara wanita pada umumnya. Melihatnya saja aku merasa nyaman
sekali, dia pria ideal dari segi fisik dan hati dia yang sempurna. Dia siswa
baru saat itu, juga teman baru untuk kelas kami, aku beruntung mengenalnya
bahkan menjadi sahabatnya. Entahlah, aku tak pernah bahwa dia mengatakan kalau
aku ini sahabatnya tapi aku anggap dia sahabatku. Dia selalu bercerita tentang
kehidupannya padaku. Aku merasa, aku adalah orang yang tau semua tentangnya.
Keluarga, sahabat, teman sampai wanita yang pernah disukainya dia ceritakan padaku.
Aku sangat menyayanginya. Aku takut kehilangan dirinya.
Sampai akhirnya ketakutanku menyerang, dia menghilang
seakan lenyap ditelan bumi. Tak satupun kabar burung kudengar, ia benar-benar
menghilang tanpa jejak. Saat aku beranjak tidak memikirkan kepergiannya aku
melihat sosok seperti dia, pria tinggi yang mengenakan T-shirt hitam putih dan
Jeans di depan gerbang sekolah dikerumuni beberapa siswa, itu benar-benar dia.
Tapi kenapa dia tidak mengenakan seragam?
Dia menghampiriku, saat aku terpaku melihat keberadaannya,
wajahnya pucat, pandangannya layuh dan . ., kenapa suaranya tak semerdu dulu?
“Hai, sahabat!”. Dia . . . dia . . .
mengatakannya dia menganggapku sahabat, aku senang. Rasanya aku ingin menangis
tapi tidak, aku takkan menangis! Tidak sekarang!. “Maaf untuk kepergianku,
harusnya aku pamit lebih awal!” Apa maksudnya? “Aku harus pergi! Hmmm . . .
Kamu tau? Senang rasanya berbagi cerita dengan teman sekaligus sahabat baru”
Katanya, ia tersenyum. Aku sengaja bercerita semuanya padamu, karena kamu
terlihat istimewa, tak ada yang harus ditutupi dari hidup ini, biarkan dunia
tau! Iyakan?” Aku hanya mengangguk sedih, apa naksudnya “Harusnya aku ikuti
prinsipmu dari dulu, maaf! Aku baru bisa membiarkan dunia tau, tapi sebelum
dunia mengetahui, aku ingin kamu tau lebih dulu” Ia tersenyum lagi, senyum ini
sangat manis.
“Besok aku harus pergi untuk operasi! Do’akan berhasil
yah?” katanya dengan tersenyum. “Kamu sakit apa?” Tanyaku kaget yang sebenarnya
dari tadi terdiam “Entahlah, namanya terlalu panjang dan ribet, intinya
penyakit jahat yang bersarang di kepalaku, penyakit ini penyakit langka,
gara-gara dia aku pernah lupa dengan segalanya tentang hidupku termasuk kamu!
Tapi kurasa Tuhan terlalu sayang kepadaku kemudian mengembalikan ingatanku!
Hmmm . . . Maaf yah? Ini terlalu terlambat untuk kuceritakan” Aku tidak tahan,
air mata yang dari awal kubendung kini membasahi pipiku dan saat itu pula
langit ikut menangis. Semua orang menepi untuk berteduh kecuali aku dan dia.
“Lalu? Apakah setelah itu kau akan kembali?” Tanyaku sambil tereduh, dia hanya
tersenyum sambil menaikkan pundak dan menurunkannya lagi.
Tangisanku semakin jadi, aku menunduk dan menutup mulutku
dengan kedua tanganku, aku tak ingin dia mendengar tangisanku. “Ini buat
hadiah” katanya sambil menyodorkan sebuah kotak yang dibalut dengan kantung
plastik, ia meraih tanganku kemudian diletakkan kotak itu di telapak tangan
mungilku dan digenggamnya seraya berkata.
“Kita ini sepasang kaos kaki, aku kaos kaki bermotif kamu
kaos kaki polos, kita memang berbeda tetapi kita adalah pasangan”
Air mataku kini meraung, terimakasih Tuhan telah membiarkan
langit ikut menangis. Ku coba menatap matanya, matanya seindah dulu tapi agak
layu, yah aku tau ia sedang sakit. Perlahan ia menjauh , menjauh, dan menjauh,
kini aku menatap punggungnya, punggung pria ideal, sahabatku.
Berbulan-bulan tak kudengar kabarnya hari setelah kejadian
itu, hari dimana air mata pertamaku untuknya mengalir merupakan hari yang cukup
berat, aku menatap kaos kaki pemberiannya, yah seperti yang dikatakannya kaos
kaki bermotif dan kaos kaki polos, disetiap kaos kaki itu terdapat sepasang
mata boneka dan mulutnya nampak manis.
Sampai pada suatu hari kudengar kabar burung bahwa engkau
telah kembali teapi tanpa ingatan masa lalumu termasuk aku. Sahabat
perjuanganmu untuk membiarkan dunia tahu tentang apa adanya dirimu saja itu
lebih dari hal yang luar biasa. Aku akan menunggu ingatanmu kembali sampai
salah satu dari kita telah tiada.
Aku cinta kamu, kaos kaki bermotif.
J-O-M-B-L-O
Kata dengan
enam huruf ini memang termasuk salah satu hal yang paling ditakuti dan selalu
dihindari oleh semua makhluk, oh tidak, sebagian makhluk di muka bumi ini,
khususnya remaja. Enam huruf yang sering membuat orang sedih, bingung, putus
asa, atau bahkan stress, pokonya semua rasa campur aduk deh. Temen-temen pada
tau ndak,, Pasalnya, predikat jomblo akan membuat seseorang tidak Pe-De karena
merasa jelek dan akan dianggap tidak laku setelah nggak bisa mendapatkan
pasangan di saat sahabat-sahabat remaja yang lain sudah memilikinya bahkan dari
satu.
Selain itu,
seseorang dengan predikat jomblo akan sering merasa kesepian dan merana karena
tak ada tempat bersandar dan berbagi. Dan yang terpenting, ia tidak akan masuk
golongan mayoritas dari remaja yang sudah memiliki pasangan, tapi golongan
minoritas. Pasalnya, hampir keseluruhan remaja di negeri ini sudah memiliki
pasangan dan tidak akan mau memopulerkan dirinya menjadi jomblo. Dengan
sendirinya ia (si jomblo) akan merasa terkucilkan dari pergaulan
sahabat-sahabat remajanya yang lain. Hmm… sedihnya…!
Tidak salah
memang. Jika dilihat sekilas, nampaknya berbagai alasan tersebut benar adanya
dan bukan hanya rumor belaka. Tapi pada hakikatnya, jika ditelisik lebih jauh
lagi tidak selamanya jomblo merupakan momok yang menakutkan. Jika dikatakan
`tidak laku`, bukankah itu karena kita tidak sembarang menerima orang sebagai pasangan jiwa kita.
Dengan menjadi jomblo disaat remaja, itu juga berarti telah menunjukkan betapa
mandirinya dan independen serta tingginya harga diri kita, karena tidak
membutuhkan pasangan disaat semua sahabat-sahabat kita tidak bisa menjalani
hidup tanpa pasangan. (keren banget tuh…). Kalau hanya untuk bersandar dan berbagi , masih ada sahabat-sahabat kita yang mau dan selalu bersedia menjadi
tempat kita bersandar dan berbagi. Apakah itu belum cukup ??? ( jangan mau jadi
orang rakus yang selalu merasa kekurangan , Allah tidak suka itu ).
J-O-M-B-L-O .
Enam huruf ini justru dapat membawa dampak positif jika kiita mau menyikapinya
dengan bijak dan dewasa. Bukankah segala hal yang diciptakan Allah di bumi ini tak akan pernah terlepas dari dua
sisi yang berbeda : posiif dan negatif . Tergantung bagaimana kita menyikapinya
. Ketika seserorang masih jomblo tentu saja ia akan lebih bebas melalukan apa
saja tanpa perlu mempertimbangkan pendapat orang lain yang tak lain adalah
pasangannya . Ketika sudah memiliki pasangan,tentu ia masih harus memadukan
kedua pendapat ,dari dirinya dan pasangannya. Tambah ribet dan ruwet kan ..??
Naaah… apalagi
buat yang masih peljar mending jomblo aja oke
! Selain karena kita akan lebih cerdas dan bebas berekspresi ,kita juga
akan lebih konsentrasi terhadap pelajaran,tanpa harus memikirkan yang bukan –
bukan . Bukan sesuatun yang mustahil ketika seseorang yang sudah memiliki
pasangan atau dengan istilah “pacar”, aka lebih sering memikirkan pacarnya itu
daripada pelajaran. Otaknya hanya akan selalu memikirkan si dia dan si dia .
Sedangkan untuk pelajaran no way !.
Sedang apa ya
dia disana ? kira- kira ingat aku tidak yaa ? Apakah dia tengah memikirkan aku
sekarang ? Atau “ Hmmm..kangen banget nich ma dia ,pasti dia juga lagi kangen
aku..”
Naah,pasti
kalu sudah begini terus kapan belajarnya coba' ?? Di dalam pikirannya hanya dia dan si dia. Belum lagi, kalau
misalnya nanti harus putus di tengah jalan , bukan bahagia yang akan didapat ,
tapi sebaliknya . Jika tidak kuat iman, ia akan stres berkepanjangan atau
mungkin bisa bunuh diri . Apa untungnya coba ? Inilah salah satu problem yang
sedang dihadapi oleh umat islam saat ini. Ketika remaja yang menjadi generasi
bangsa hanya memikirkan tentang cinta tanpa berusaha untuk mementingkan
pelajaran, maka kemunduran yang dialami oleh dunia islam akan semakin tidak
terlesaikan. Krisis generasi bangsa akan tetap menjadi problem akut yang
berlarut-larut. Memang.
Telah jelas
dalam Al-Qur’an bahwa laa taqrobu azzina . Dan pacaran merupakn salah satu hal
yang mendekati zina yang jelas-jelas dilarang dalam islam. Nah, remaja yang
mengaku dirinya islam tentu tidak akan memiliki keberanian untuk berpacaran dan
akan lebih memilih jomblo, apalagi di saat-saat masih dalam tahap belajar .
Jomblo adalah pilihan terbaik bagi para remaja kalau tidak ingin tingkah laku
dan hidupnya rusak dan sesat serta keluar dari koridor yang telah digariskan
oleh islam ( Hayoo…mau pilih yang mana ?).
Hal pertama
dan utama yang harus dilakukan oleh kita sebagai generasi bangsa ialah
menumbuhkan kesadaran dalam diri kita masing- masing . Jomblo bukanlah satu hal
yang harus ditakuti dan dihindari. Justru predikat enam huruf itu seharusnya
menjadi kebanggaan tersendiri buat kita sebagai kaum remaja , tapi bukan
berarti kita akan jomblo selamanya . Dengan predikat itu, semoga kita akan
termasuk generasi yang memiliki komitmen yang kuat terhadap agama yang telah
kita yakini , bahwa tak ada istilah pacaran dalam islam . Generasi islam harus
memegang teguh prinsip yang telah menjadi keyakinannya. Jadi JOMBLO adalah
pilihan terbaik dalam kacamata islam. Dengan ,menjadi jomblo, kita telah mampu
mempertahankan keimanan yang kita miliki. Jarang – jarang kan ada generasi muda
yang seperti itu ? So, jangan mau jadi golongan mayoritas yang tidak baik ,
tapi jadilah golongan minoritas yang istimewa.
