Tanpa Judul

“Apa artinya sebuah jabatan atau cap unggulan dari banyak orang? Kalau itu hanya membuatmu lupa dengan dirimu sendiri”
Sesosok wanita yang berada di depan kelas mengingatkanku akan seseorang, Aaah… aku merindukannya. Kuingat terakhir kali ia memelukku satu tahun yang lalu, saat ia berhasil lolos test anggota Pengurus Organisasi Siswa Cerdas Olimpiade atau disingkat POSCO. Organisasi tergengsi di sekolah kami. Kewenangannya diatas OSIS dan tepat di bawah kepala sekolah. Anggotanya juga bukan siswa sembarangan. Siswa dengan IQ diatas tara-rata, cerdas, pandai, rajin dan berasal dari keluarga menengah ke atas. Termasuk perempuan yang sedang kurindukan.
Namaku Vega, aku siswa SMA Bangsa. Sekolah unggulan di pulau ini. Aku siswa kelas XI. Aku cucu dari mantan kepala sekolah di sini, Mr. Evan. Beliau sangat dihormati. Bagaimana tidak, kakekku lah yang membuat sekolah ini menjadi salah satu sekolah favorit di Indonesia. Tapi sayang beliau meminta pihak sekolah untuk meletakkanku di kelas reguler ditahun pertama dan tidak memanjakanku. Beliau ingin aku giat untuk meraih apa yang aku impikan, terbukti ditahun keduaku di sini aku dapat kelas unggulan dengan membopong banyak prestasi. Tentang POSCO, bukannya kau tak ingin ikut tapi aku mengingat kata-kata seseorang.
Kini aku benar-benar rindu padanya. Dia, sahabatku telah termakan oleh kata-katanya. Dia lupa denganku, ia bahkan menjadi sombong setelah bergabung dengan wanita-wanita yang dulu dibencinya.
Wanita yang berdiri di ambang pintu itu benar-benar dia, Rigel wanita yang kurindukan.
“Hai!” sapa Rigel
“Hmmm hai!” sapaku balik
Hai Rigel, kau tau aku sangat merindukanmu.
Aku gugup bicara dengannya.
“Aku ingin memberikan ini” Katanya “Kau butuh satu tahun untuk dapat menyamai kemampuanku satu tahun yang lalu”
“Formulir POSCO? Aku tidak akan pernah mau begabung dengan organisasi itu!” kataku
“Huh? Benar kata mereka . .”
“Kata siapa? Wanita-wanita yang dulunya kau benci? Bahkan sekarang kau sudah mempercayai mereka”
Rigel hanya diam, ia menatapku dengan tatapan kosong.
“Lagi pula ada seseorang yang bilang ‘apa artinya sebuah jabatan atau cap unggulan dari banyak orang? Kalau itu hanya membuatmu lupa dengan dirimu sendiri’ dan kini aku melihat bukti nyata. Tepat di hadapanku“ kataku.

Lagi-lagi ia menatapku dengan tatapan kosong, kemudian pergi melaluiku.
Friday, November 28, 2014
Posted by Unknown
Tag :

Angin dari Bukit

Sejauh mataku memandang, sejauh aku memikir, tak sebuah jua pun mengada. Semuanya mengabur, seperti semua tak pernah ada. Tapi angin dari gunung itu berembus juga. Dan seperti angin itu juga semuanya lewat tiada berkesan. Dan aku merasa diriku tiada. Dan dia berkata lagi. Lebih lemah kini, “Kau punya istri sekarang, anak juga. Kau berbahagia tentu.”
“Aku sendiri sedang bertanya.”
“Tentu. Karena tiap orang tak tahu
kebahagiaannya. Orang cuma tahu
kesukarannya saja.”
Dan dia diam lagi. Kami diam. Angin dari
gunung datang lagi menerpa mukaku. Dan
kemudian dia berkata lagi. “Sudah lima
tahun, ya? Ya. Lima tahun kawin dan punya
anak.”
Aku masih tinggal dalam diamku. Aku kira
dia bicara lagi.
“Kau cinta pada istrimu tentu.”
“Anakku sudah dua.”
“Ya. Sudah dua. Kau tentu sayang pada
mereka. Mereka juga tentunya. Dan kau
tentu bahagia.”
Dia berhenti lagi. Lalang yang ditiup angin
bergelombang menuju kami. Lalu angin
menerpa mukaku lagi. Dan aku merasa
ketiadaanku pula. Angin pergi.
“Kau ingat, Har?”
“Apa?” kutanya dia dengan gaya
suaranya.
“Sembilan tahun yang lalu.”
“Ya. Aku masih ingat. Tapi itu sudah
lama lampaunya.”
“Ya. Sudah lama. Aku tak pernah mau
mengingatnya. Tapi kini aku ingat lagi.” Dia
diam lagi. Dan memandang jauh ke arah
gunung itu. “Ketika itu seperti macam
sekarang. Kita duduk seperti ini juga. Tapi
tempatnya bukan di sini. Aku masih ingat,
sekali kau menggenggam jariku erat sekali.
Aku biarkan dia tergenggam. Dan dalam
tekanan genggamanmu, aku tahu kau mau
bicara. Dan aku menunggunya. Tapi kau tak
berkata apa-apa.”
“Masa itu, masa kanak-kanak kita,”
kataku. Tapi cepat kemudian aku jadi
menyesal telah mengatakannya.
“Ya,” katanya dengan suara tak acuh.
“Jari-jariku itu sudah tak ada lagi kini.
Kedua tanganku ini, kaulihat? Buntung
karena perang. Dan aku tak lagi dapat
merasa bahagia seperti dulu. Biar kau
menggenggamnya kembali. Mulanya aku
suka menangis. Menangisi segala yang
sudah hilang. Tapi kini aku tak menangis
lagi. Tak ada gunanya menangisi masa
lampau. Buat apa?”
Aku jadi sentimental dan hatiku berteriak,
meneriakkan seribu kenangan yang datang
mengharu biru. Kucoba membuang segala
kesenduan, tapi aku menjadi tambah
tenggelam olehnya. Dan angin meniup lebih
syahdu terasa. Serasa ada nyanyian iba
besertanya.
“Tak ada gunanya,” katanya lama
kemudian. Dan aku menunggu dia bicara
lagi. Tapi itu saja yang dikatakannya. Tak
diteruskannya. Kedua tangannya yang
buntung itu diacungkannya ke depan,
disilangkan, lalu digesek-gesekannya.
Melihat itu, aku mau tersedu. Tersedu
seperti ketika pusara Ibu mau ditimbuni.
“Kau punya anak, punya istri. Dari itu kau
punya pegangan hidup, punya tujuan
minimal. Tapi yang terpenting kau punya
tangan. Hingga kau dapat mencapai apa saja
yang kaumaui. Sebagai suami, sebagai ayah,
sebagai laki-laki, sebagai manusia juga,
seperti yang kita omongkan dulu, kau dapat
mencapai sesuatu yang kauinginkan.
Alangkah indahnya hidup ini, kalau kita
mampu berbuat apa yang kita inginkan. Tapi
kini aku tentu saja tak dapat berbuat apa
yang kuinginkan. Masa mudaku habis sudah
ditelan kebuntungan ini.”
Dan tangan itu diturunkannya lagi. Dia
memandang lebih jauh melampaui balik
gunung dari mana angin meniup. Kala itu
aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya.
Sebuah ucapan yang indah dan memberi
semangat seperti dulu sering kuucapkan
untuk anak buahku di front Barat. Tapi
bagaimana aku dapat mengatakan, kalau
semangat itu sendiri telah kulemparkan jauhjauh
pada suatu ketika.
“Dulu aku cantik juga, bukan?” katanya
pula. “Bahkan tercantik di front Barat itu.
Aku tahu semua orang mau menarik
perhatianku. Semuanya mau mati-matian
dan bekerja berat di depanku. Semuanya
mau berjuang membunuh musuh demi
mendekatiku. Tapi keitika musuh datang,
aku kebetulan tak ada disana, mereka habis
lari kehilangan keberanian.
Kalau pemimpin yang datang di front, di
waktu tak ada perempuan, aku menjadi
sibuk. Aku diminta mengatur tempat tidur
mereka. Dan ketika mereka mau pergi,
dicarinya aku dulu. Dijabatnya tanganku
erat-erat. Dan di ucapkannya kata-kata yang
indah berisi keharuan. ‘Kami atas nama
pemerintah dan seluruh pemimpin
perjuangan revolusi kemerdekaan
mengucapkan terima kasih kepada Saudari.
Kami sangat merasa bangga dengan adanya
patriot wanita seperti Saudari, yang
selamanya menyediakan waktu untuk
memberi semangat kepada prajurit kita.
Kami juga yakin, kalau Saudari tak di sini,
tentu front ini sudah lama di duduki musuh.’
Begitulah. Kalau ada orang sakit, aku juga
yang merawatnya. Dan di waktu malammalam
yang damai, mereka minta hiburan.
Aku bernyanyi. Mereka memetik gitar. Dan
mereka dapat melupakan segala hal-hal yang
menekan. Dan waktu itu, aku sering merasa
jumlah tanganku yang masih kurang. Aku
mau tanganku lebih banyak lagi. Kalau
boleh sebanyak jari ini.
Tapi sekali pernah juga aku berpikir-pikir,
bahwa hidup seperti itu tidaklah akan
selamanya berlangsung. Suatu masa kelak
akan berakhir juga. Dan kalau perang sudah
selesai, aku ingin bersekolah lagi. Sekolah
apa? aku tak tahu. Yang aku tahu Cuma,
tambah banyak ilmu, tambah banyak yang
dapat diperbuat. Ya, itulah semua.”
Satu demi satu ucapannya bercekauan
dalam hatiku. Dan kini kumandangnya lebih
menyayat terasa, lebih menusuk. Aku jadi
tak berani mengangkat kepalaku. Makin
lama kian terkulai keseluruhan adaku di
dekatnya.
Matahari ketika itu sangat cerahnya.
Bayangan pohon manggis bertelau-telau
pada rumput hijau. Dan di kiriku dia duduk
mengunjurkan kakinya. Kaki itu kaki yang
dulu juga. Kaki yang pernah menggodaku.
Sekarang kaki itu terhampar begitu saja. Dan
aku tak dapat memandangnya lama-lama,
karena kaki itu tidak berbicara apa-apa lagi
bagiku kini. Dan perasaanku tidak seperti
dulu lagi. Justru itulah yang menyebabkan
aku merasa dipilukan perasaanku sendiri.
Hendak kuelus hatinya, hendak kuceritakan
sejarah hidup Helen Keller. Bahkan hendak
kukatakan juga, bahwa aku mau
memeliharanya. Memelihara dia? Tidak.
Dan aku sudah punya dua anak. Agus dan
Hafni. Ketika aku sadar jalan itu buntu, aku
menyesali diriku sendiri. Juga menyesali
segala yang sudah terjadi. Dan aku tak bisa
berdoa untuknya. Doa serasa tak berharga
kini. Tiap-tiap orang punya doa. Dan doa
sekadar doa, tak ada gunanya. Maka aku
merasa segalanya jadi terbang.
“Apa yang kaupikirkan?” tanyanya tibatiba.
Aku jadi gugup dan tersentak dari
keterbanan perasaanku. Dan aku katakan,
bahwa aku sedang memikirkannya.
“Masa dipikirkan lagi,” katanya. “Apa
perlunya? Semua sudah sewajarnya, bukan?”
“Apa?” tanyaku ragu-ragu.
“Kau memikirkan aku, kan?”
“Tidak setepat itu benar. Aku sedang
memikirkan apa yang hendak kulakukan.”
“Untuk apa?”
“Untukmu.”
“Sia-sia saja.”
Tiba-tiba kuingat pada pusat rehabilitasi di
Solo. Dan lalu kukatakan kepadanya. Lama
ia terdiam, dan matanya seperti melangkaui
segala apa yang dapat dilihatnya.
“Bagaimana? Setuju? Kalau kau setuju
jangan kaupikir apa-apa. Aku yang uruskan
semua.”
Tapi dia masih tiada memberi reaksi. Dan
aku mendesak lagi.
“Kalau perlu …Ah, tidak, Aku sendiri
yang akan mengantarkan kau. Barangkali
tidak lama kau di sana, kau sudah bisa
pulang lagi. Dan selanjutnya kau sudah bisa
berbuat sesuatu lagi, seperti dulu.”
Lalu ia memandang padaku. Dan
tersenyum. Tapi senyumnya ini menusuk
hatiku. Aku jadi gugup.
“Mengapa kau tersenyum?” tanyaku
dalam kehilangan keseimbangan diriku.
“Mungkinkah orang seperti aku ini dapat
berbuat sesuatu?” tanyanya dengan suara
yang lain sekali bunyinya. Begitu pahit.
Dan aku jadi ragu-ragu untuk
meyakinkannya lagi. Lalu aku pura-pura tak
mendengarkan apa katanya. Aku beri dia
semangat yang bernyala-nyala, yang aku
sendiri pada dasarnya sudah tak percaya
akan semangatku sendiri. Dan dia tahu itu
rupanya. “Kau sendiri tak yakin dengan
ucapanmu. Bagaimana mungkin aku
meyakinkannya?” katanya.
“Tapi sedikitnya, kau lebih bisa berbuat
banyak nantinya.”
“Ya. Tentu saja. Seperti juga dulu, kan?
Seperti dulu, seolah-olah kalau tidak ada
aku, semuanya seperti tidak akan sempurna,
semua pekerjaan seolah takkan selesai.
Semua orang memerlukan tenagaku. Semua
orang jatuh cinta padaku. Semua orang haus
akan segala yang ada padaku. Tapi setelah
itu, setelah itu apa lagi?”
Aku tak merasa terpaan angin dari gunung
itu lagi. Yang kurasakan terpaan ucapannya
pada mukaku, karena terasa sebagai
umpatan yang pahit tapi dicelup dengan
tengguli.
“Kau kasihan padaku, bukan?”
“Kenapa tidak?”
“Ya. Tentu saja kau kasihan padaku.
Karena kau merasa berdiri di tempat yang
sangat tinggi, sedang aku jauh di bawahmu.
Lalu dari tempat yang itu, kau memandang
kepadaku, ‘Oh, alangkah kecilnya kau, Nun,
katamu’.”
Aku mau membantah. Tapi sebelum aku
dapat memilih kata, dia berkata lagi.
“Seperti tadi saja. Kalau bukan aku yang
menyapamu, kau takkan tahu siapa aku,
bukan? Sedang mata pertamamu melihat aku
tadi, kau seolah melihat pengemis yang
dijijiki. Alangkah cepatnya segalanya
berubah. Dan lebih cepat lagi seseorang
melupakan seseorang lainnya, meski pernah
orang itu dicintanya.”
Aku ingin memandangnya tepat, hendak
mencoba menyatakan bahwa segalanya
mempunyai alasan-alasan tertentu. Ingin aku
menentang matanya, hendak
meyakinkannya, seperti pernah kulakukan
dulu kepadanya.
“Meski bagaimana, aku tahu kau baik,”
katanya lagi.
“Ni Nun, Uni Nuuun,” tiba-tiba seorang
gadis kecil memanggil-manggil. Dan
panggilan yang tiba-tiba itu mencairkan
impitan yang memberat antara kami.
“Ke mana Uni Nun? Melalar saja. Tidak
tahu dibuntung awak,” gadis kecil berkata
lagi sambil memandang padaku dengan
curiga dan kebencian. Aku jadi kaget, kalau
gadis kecil semanis ini bisa bertingkah begitu
terhadap Nun. Inikah lingkungan hidup
Nun, pikirku. Di mana sedari kecil anakanak
telah memandang Nun sebagai
manusia tak berguna, manusia yang sial.
Kupandang wajah Nun yang berubah-ubah.
Tapi cepat-cepat disembunyikannya
wajahnya itu dari pandanganku.
“Nenek memanggil. Cepatlah!” gadis itu
memamer lagi.
“Tolong tegakkan aku. Aku mau ke
Nenek,” Nun berkata padaku dengan suara
dalam lehernya. Dan kutolong dia berdiri.
Tapi waktu itu aku jadi sentimental lagi,
melebihi tadi.
“Nenek sudah tua benar. Sudah lupa
segalanya. Selain aku. Dan kalau aku tak di
dekatnya, Nenek merasa kehilangan
nyawa,” katanya pula dan lalu pergi
meninggalkan aku yang tercenung. Ketika ia
mau membelok ke arah jalan raya, dia
membalikkan badannya lagi ke arahku dan
berkata pula. “Nenek tak bisa berpisah
denganku. Antara kami berdua ada
perpaduan nasib. Dan Nenek ingin hidup
lebih lama, karena dia tak hendak
membiarkan aku hidup sendirian.”
Dia melangkah lagi. Tapi sebentar
kemudian dia memaling lagi dan berkata,
“Tapi kalau Nenek sudah tak ada lagi, aku
juga tidak memerlukan apa-apa pula.”
Lalu dia melangkah. Tapi sebelum dia
hilang di balik belukar yang bergoyang ria
ditiup angin dari gunung itu, kukatakan
kepadanya, “Besok aku datang lagi ke sini,
Nun.”
Tapi dia tidak menoleh lagi. Hilang di
balik belukar itu. Dan belukar itu bertambah
ria menari ditiup angin dari gunung. Angin
dari gunung yang meniup belukar hingga
bergoyang dan menari ria itu, angin itu juga
yang meniup aku, meniup Nun, dan meniup
gadis kecil itu.

***
Wednesday, November 26, 2014
Posted by Unknown
Tag :

Tidak Tau

Apalagi yang luput untuk diceritakan? Gelas-gelas kosong, isak tangis surut, pelayat beringsut meninggalkan rumah duka dan ayat-ayat suci menguap di udara. Jenazah masih berbaring kaku, asing dari keajaiban.
Suasana berkabung dengan air mata dan doa-doanya terlalu menyedihkan. Aku memandang Togar, teman lamaku sejak kecil, dari kejauhan. Dia setengah mati menahan diri untuk tidak menangis. Padahal dia berhak untuk itu. Kami berdua dan adiknya; Ranto, yang menjadi jenazah sekarang, tak pernah luput satu sama lain semenjak kecil. Aku pun mestinya menangis, tapi tidak. Tuhan—dan Anda juga nanti—tahu aku adalah orang yang menyedihkan. Tidak perlu air mata untuk membuktikan itu.
Para pelayat mulai surut; tinggal keluarga inti, beberapa kerabat dekat dan kekasih yang ditinggal pergi. Aku meminta diri. Togar mengerti lalu mengantar sampai ke pintu. Jabat tangan kami berlanjut jadi pelukan erat. Aku merasakan cairan hangat merembes di punggungku. Samar sebuah isak lolos dari pengawasannya, kemudian dia melepas lengannya dariku dengan wajah seperti yang selalu kulihat: air muka keras dengan keangkuhan yang khas serta segaris senyum yang jarang luput dipasang. ”Sering-sering main ke sini,” katanya. ”Pasti,” jawabku. Kami saling bertukar salam dan dia kembali menyelinap dalam kesedihannya.
Aku berbalik menelusuri jalan pulang. Pukul dua. Fajar tinggal beberapa jam lagi. Purnama masih bergelayut di mana dia semestinya berada. Begitu pucat, begitu pasi. Begitu mati. Aku terus melangkah tanpa menoleh ke arah rumah duka untuk terakhir kalinya. Aku tidak bisa kembali melihat kesedihan itu. Tidak setelah air mata Togar merembes di punggungku. Aku tidak pernah menyambanginya lagi setelah malam itu.
Mungkin kematian bukanlah hal yang menyenangkan untuk memulai sebuah cerita, tapi sebuah cerita tetap harus dimulai dengan cara apa pun itu. Yang barusan kau baca bukanlah kematian pertama dan, aku bisa memastikan, bukanlah yang terakhir yang pernah bersentuhan denganku. Enam bulan setelahnya, kakek meninggal. Nenek benar-benar terpukul dan nampak kehilangan sebagian besar porsi kehidupannya. Satu tahun kemudian, beliau menyusul. Sebelum kusadari, aku mulai menandai waktu dengan kepergian orang-orang di sekelilingku. Mungkin aku terkesan terlalu muram; terlalu melebih-lebihkan, tapi seperti sudah kubilang sejak awal, pada dasarnya aku memang orang yang menyedihkan.
***
Selepas kuliah aku mulai mengendus rupiah sebagai freelance graphic designer. Nama yang kedengarannya cukup upbeat—mungkin karena ditulis dalam cetak miring—tapi biar aku luruskan terlebih dahulu: kemilau graphic design nyaris hanya sebatas nama. Sebagian lulusan sekolah graphic design terdampar menjadi pengusaha jasa printing kelas menengah dan sebagian besar ilmu yang dibayar dengan harga mahal tersesat tak tersalurkan. Sebagian lain bekerja mati-matian untuk memenuhi tuntutan industri kemasan sekaligus harus berhadapan dengan klien keras kepala, pesaing picik dan perlombaan dengan waktu.
Lama-kelamaan kau akan kelelahan dan ketika rasa lelah itu merongrong batok tengkorakmu, fakta yang tak terelakkan menendang bokongmu: kreativitas yang awalnya kau harapkan akan membantu mendaki tangga karier tak membawamu ke mana-mana. Kreativitas hanya kemampuan membongkar-pasang idiom-idiom klise lawas dari tempat sampah untuk menghasilkan sesuatu yang—nampaknya—baru. Yang benar-benar kau butuhkan adalah kecerdasan sosial.
Secara finansial mungkin pekerjaan ini tidak terlalu memuaskan, tapi tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Aku juga butuh makan dan orangtuaku tidak bisa terus-terusan memanggul tanggung jawab itu. Bekerja adalah hal yang semestinya dilakukan selepas kuliah. Untuk itulah orang rela membuang uang demi pendidikan. Semua orang tahu: lahir, sekolah, kerja, menikah, punya anak, kerja lagi, dan akhirnya, mati.
Hari-hari berlalu. Banyak cerita yang luput. Lima tahun setelah pemakaman Ranto aku berusia dua puluh enam dengan pekerjaan tetap dalam media massa. Wanita datang-pergi, dua tahun ini bernama Asri. Satu tahun lebih muda, cerdas, manis, dan punya senyum menawan ala iklan pasta gigi.
***
Kematian menghadang suatu pagi. Tak diduga dan tak dikenal, bergelimpang begitu saja di tengah jalan dengan sayur-mayur, tangis bocah dan sepeda motor tua. Sebuah truk melanggar sebuah keluarga kecil yang berboncengan di atas motor di perempatan. Sang ibu hanya luka kecil, begitu juga dengan kedua anaknya—bocah laki-laki sekitar lima tahun dan gadis cilik selisih beberapa tahun lebih tua, keduanya berseragam SD. Namun tidak dengan sang bapak. Wajahnya rusak terhantam trotoar dan tubuhnya remuk tergilas roda truk. Dia tewas seketika. Puluhan orang mengerubung, polisi merapikan lalu lintas yang kusut. Beberapa orang ditagih keterangan. Sopir truk bermata merah diamankan. Aku urung bekerja hari itu.
Ibu terkejut melihat kepulanganku, hari masih pagi dan aku sudah pulang dengan awan hitam menggantung di atas ubun-ubun. Aku bilang sedikit tidak enak badan, dia percaya lalu pergi ke kamar mandi. Di atas kasur aku mereka ulang kejadian; bapak menjemput ibu di pasar lalu mengantar kedua anaknya bersekolah. Lampu lalu lintas berubah merah, tapi kedua anaknya sudah hampir terlambat. Tak ada kendaraan lewat di depan. Dia tancap gas. Lalu sopir truk: pertengkaran dengan istri membuatnya tak bisa tidur semalaman, matanya berat meski segelas kopi kental sudah disikat. Lampu kuning, dia mengusap mata dan menggeleng keras mengusir kantuk. Gas diinjak dalam karena kecepatan bisa membuatnya tetap terjaga. Sepeda motor melengang dengan suara terbatuk. Kantuk diusir panik. Rem sempat diinjak, tapi terlambat tetap terlambat.
***
Keputusan itu datang begitu saja. Mendadak menelusup masuk ke kepalaku ketika ia terpelanting di atas bantal. Aku harus keluar dari tempat ini, sangkar yang menjadi tempatku kembali sampai sekarang. Memalukan, kata orang, masih tinggal bersama orangtua. Tapi bukan itu yang jadi alasan. Kejadian di jalan beberapa hari lalu terus menghantui kepalaku. Darah di jalan, anak-anak menangisi kematian ayah di dekapan ibu mereka—begitu intim. Begitu tragis.
Seperti foto di dinding: ibu—dengan gaun merah dan rambut disisir ke belakang—di sebelah kiri; memangku adik yang tidak sempat bersiap untuk difoto, ayah mengenakan jas hitam dan sebuah kumis tipis berdiri kaku di samping ibu, aku di depannya, tujuh tahun, dengan setelan kemeja putih dan tawa lebar. Waktu membuat foto itu usang. Kenangan di dalamnya terasa berjarak. Di dalam bingkai itu aku menemukan sebuah keluarga. Begitu intim. Ketika aku mendapati diriku sendirian di meja makan untuk makan malam: begitu tragis.
Tidak ada drama ketika aku pergi karena aku tidak pergi jauh. Rumahku hanya empat puluh lima menit dari rumah. Ibu masih tertidur waktu aku mengangkut barang terakhir, adik sudah pergi kuliah sedari pagi dan ayah pun tak ada di rumah. Tempat tinggal baruku benar-benar sederhana. Satu ruang tamu, dua kamar tidur, satu kamar mandi dan satu dapur. Sedikit perabotan… paling tidak aku bisa menyebutnya rumah.
Dua tahun kemudian aku dan Asri menikah.
Hari-hari yang baru menunggu di depan sana. Aku mencintai Asri dan mungkin dia juga begitu. Kebahagiaan-kebahagiaan kecil terus menyisip dari balik selimut, kopi pagi, dan telepon di jam istirahat.
***
Suatu malam aku terbangun dengan keringat dingin. Mimpiku pasti buruk sekali, mujur aku lupa ketika terjaga. Mimpi itu masih menyisakan teror yang merayap di balik kulit. Merobek dinding tipis yang memisahkannya dari realitas dan mengintip dari celah sempit. Mengintai dengan tajam matanya yang entah, menunggu waktunya tiba. Aku tidak tahu apa. Asri tidur meringkuk memunggungiku. Tersesat dalam mimpinya sendiri. Saat seperti inilah, pembaca yang budiman, kesepian nyata-nyata menyelimuti dan kau bisa menggapai tanganmu untuk merangkulnya.
”Jatuh tertidur sungguh mengerikan,” celetuk Patricia Franchini. ”Tidur memisahkan manusia. Meski kau sedang tidur bersama seseorang, kau tetap sendiri.”
Hey, siapa Patricia Franchini? Apa urusan dia di cerita ini?
Aku bangkit menuju dapur untuk sekaleng bir lalu duduk di ruang tamu. Dua pasang mata di dinding memandangiku tanpa berkedip. Tapi bukan aku benar yang mereka pandang. Tatapan itu terlempar jauh ke depan, menantang masa depan dan segala kejutan yang disimpannya tanpa bersenjata apa-apa. Mungkin tanpa senjata sama sekali pun tidak sepenuhnya benar. Keduanya membersitkan cinta. Kau bisa melihatnya dari mata Asri yang sedikit sembap karena haru. Hari pernikahan kami benar-benar melepaskan kodratku sebagai makhluk yang—pada dasarnya—menyedihkan. Sampai sekarang pun aku masih merasa asing di depan foto pernikahan kami.
Inikah jawabannya—jalan keluar dari kehilangan dan kematian yang bertubi-tubi? Tiba-tiba aku bertanya-tanya. Cintakah? Kalau benar, apakah benar aku mengalaminya?
Cintakah Ferdinand dan Mariane, Samsul Bahri dan Siti Nurbaya—cintakah strangers in the night yang begitu sendu dinyanyikan Frank Sinatra? Kalau bukan, kenapa aku menitikkan air mata untuk mereka, seperti aku menitikkan air mata ketika Asri mengatakan ’iya’ untuk lamaranku?
Aku tidak menemukan jawabannya. Cuma ada tanah basah dan nisan dingin. Kaleng bir lolos dari genggamanku lalu menghantam ilalang. Gila, hidupku hanya perjalanan dari satu pemakaman ke pemakaman lain. Selalu tentang kematian dan kehilangan. Pikiran ini sudah cukup untuk menerormu seumur hidup.
Aku bersimpuh di depan nisan kakek. Nenek dan Ranto nampak tersenyum satu meter di bawah tanah. Dengan pengap dan belatung yang menggerogoti tubuh bagaimana mereka bisa tersenyum—seperti apa wujud tengkorak ketika sedang tersenyum?
Aku menemukan diriku terkapar. Peluh merangkak dari ujung mataku. Tak mengapa. Tak mengapa, tegasku meyakinkan diri sendiri.
Samar lagu mengalun. Sebuah tangan menuntunku untuk berdiri. Senyum pasta gigi itu menemukan pertahanan terakhirku dan meremukkannya dengan hangat. Tangan kanannya menyelinap di pinggangku dan jemari tangan kirinya menyelinap dalam jemariku.
”Sudah lama kita tidak berdansa dengan lagu ini.”
Sudah lama kami tidak berdansa dengan lagu ini. Aku bahkan sudah lupa bagaimana caranya berdansa, tapi perlahan aku menemukan ingatanku dalam setiap langkah.
Aku tidak lagi berjalan gontai dari satu pemakaman ke pemakaman lain. Aku berdansa. Kami adalah dua orang asing yang berdansa tengah malam di atas alunan strangers in the night Sinatra. Tak jauh dari kami Ferdinand dan Mariane berdansa, begitu juga Samsul Bahri dan Siti Nurbaya. Tak ada yang tahu letak cinta, tapi cinta tahu untuk siapa dia ada. Mungkin.

Senyum pasta gigi Asri melumer, tinggal partikel kristal yang berkilauan di sela deretan giginya. Begitu asing. Setelah sekian lama aku hanya jadi penonton dalam hidupku sendiri, aku baru sadar aku tidak pernah sendiri. Selalu ada tangan-tangan yang siap mengangkatku kalau aku jatuh dan aku tak pernah peduli. Aku selalu penuh dengan diriku sendiri. Aku lebih banyak menggunakan ’aku’ kalimatku. Aku tak tahu apa pun tentang Asri. Aku tak menyisakan banyak kalimat untuk menggambarkan betapa cantik senyumnya, molek kulitnya, bagaimana matanya menyihir kata-kata sampai kehilangan makna. Tentang kesedihannya, kehilangannya… dia pantas untuk itu. Begitu juga dengan Ranto, nenek dan kakek. Ayah, ibu, adik, Togar—
Sunday, November 23, 2014
Posted by Unknown
Tag :

Selalu Saja

Selalu Begitu
            Selalu saja begitu, kau akan menangis saat bercerita tentang teman priamu yang menyebalkan itu. Dan selalu saja begitu, aku tak hentinya mengejekmu hingga tangismu kian menjadi, dan akhirnya kau berlari ke kamar sambil membanting pintu. Namun akhirnya, aku mengejarmu dan membujuk agar kau keluar dari kamar. Dan pasti, kau akan keluar dengan memasang wajah yang semrawut, dan aku paling tahu bagaimana cara mengatasinya—chocolate ice cream.
            Karena kau selalu saja begitu.
***
            Paginya, kau bangun dengan mata merah karena menangis semalaman. Tak nafsu makan, dan berangkat kuliah dengan lunglai, tanpa menyapaku. Saat itu, aku hanya memandangimu dengan heran tanpa berkomentar apapun. Dan selalu saja, beberapa menit kemudian kau akan berlari-lari kembali menuju kosan, mengambil makalah yang tertinggal. Dan selalu saja, aku tertawa puas melihat tingkahmu dan berkomentar dengan bangga, bahwa kau kekanakan dan akulah yang bersikap dewasa. Setelah itu, aku berangkat ke kampus sambil menahan tawa.
***
            Malam harinya, kau kembali bercerita tentang teman priamu itu. Dan tak ada perubahan tentang komentarku mengenai ceritamu itu.
Kubilang “Jangan terlalu berharap lebih pada seseorang karena mereka tidak dapat seratus persen dipercaya.”.
Dan jawabanmu selalu sama “Kau berkata seperti itu karena tidak pernah menyukai seseorang.”.
Dan pastinya aku tidak mau kalah, “Tidak ada cinta sejati, tidak ada sahabat sejati, tidak ada keluarga sejati. Yang ada hanyalah kepentingan sejati.”
Saat aku memulai ceramahku, selalu saja kau terlelap bagai bayi.
            Entah mengapa kita bisa sangat akrab dengan segala perbedaan. Kau yang kekanakkan selalu saja bercerita tentang hal-hal yang menurutku tak terlalu penting. Dan aku yang kau sebut ‘si nenek tua’, selalu bercerita masalah-masalah berat menyangkut politik, agama, HAM dan yang lainnya. Kita akan berebut tv saat jam lima sore. Kau menyembunyikan remote karena tak ingin acara drama koreamu terganggu, dan aku tak kalah ide, berusaha mengganti channel ke acara berita politik. Dan selalu saja begitu, kau akhirnya menjulurkan lidah jika aku tak berhasil menemukan remote tv.
            Karena kau, selalu saja begitu.
***
            Hingga saat menginjak semester lima perkuliahan, kita harus terpisah karena keadaan. Beasiswamu dicabut!. Kau sangat bingung saat itu, aku juga tak kalah bingung. Jelas tak ada harapan lagi jika beasiswa itu benar-benar dicabut, keluargamu tak akan mampu membiayai. Aku sangat tahu itu. Selalu saja begitu, kau menangis selama dua hari dan tak ingin makan. Kali ini tak ada komentar dariku. Ini masalah besar, masa depanmu dipertaruhkan. Aku tahu benar, betapa beratnya menceritakan kenyataan ini pada emak bapakmu di kampung. Mereka terlalu berharap besar, dan kau pun terlanjur bermimpi besar.
            Kau pergi ke kampung halamanmu di tanah Minang sana. Meninggalkan segala kenangan di kota hujan ini, kau berjanji akan sering menelpon dan berkirim email padaku. Dan selalu saja begitu, kau pergi dengan mata merah karena menangis semalaman. Sebelum itu, kau mengeluarkan remote tv yang seminggu lalu kau sembunyikan. Kita pun tertawa berdua.
***
            Setiap hari aku menelponmu, dan setiap hari pula kau berkirim email padaku. Kau bercerita sangat banyak melalui surat elektronik itu, dan akupun membalas tak kalah panjang di sana. Selang beberapa bulan, kau bilang handphone-mu tidak aktif dan kita hanya bisa berkomunikasi lewat email. Dunia nyata kita kini pudar, dan yang ada hanyalah dunia maya di depan mata. Kau menandai foto terbarumu lewat facebook,dan aku pun menandai foto kosan kita, karena kau bilang ingin melihatnya.
            Kudengar, kau telah bekerja di sana dan memiliki penghasilan yang lumayan, walau kau tak pernah bercerita tentang hal itu kepadaku—aku mendengarnya dari Dina, teman sekampungmu. Tak dapat diceritakan semuanya jika hanya lewat email, aku maklum. Dari ceritamu, kau hanya bilang sedang mengumpulkan uang agar bisa kuliah lagi. Kau bertanya padaku bagaimana cara mendapat uang yang cepat sekarang ini, dan aku menjawabnya dengan gurauan. Kita pun tertawa di tempat yang berbeda. Aku tak peka saat itu, bahwa kau benar-benar sedang sangat membutuhkan uang.
***
            Dua tahun terlewati, dan kita tak pernah putus komunikasi. Walaupun hanya dunia maya, aku tak peduli, karena bagiku sahabatku begitu nyata. Pernah kuminta nomor handphone-mu saat ini, karena sudah hampir dua tahun tidak mendengar suaramu.
Tapi kau bilang “Aku tidak punya uang untuk membeli handphone.”,
Aku mengernyitkan dahi membaca alasanmu itu. Bagaimana tidak? Teman sekampungmu yang kuliah di kota hujan ini mengatakan bahwa kau telah mendapat pekerjaan yang mapan. Kau berhasil membeli mobil, dan menyulap rumah reyod emak bapakmu menjadi bangunan layak huni berlantai dua, juga kau berniat untuk menaikkan haji emak bapakmu tahun ini. Aku turut senang mendengar keberhasilanmu, walau agak mengherankan. Pekerjaan apa yang kau dapatkan, dengan hanya berbekal ijazah SMA, hingga dapat berlimpah harta seperti ini? dalam waktu kurang dari dua tahun pula.
            Kupendam segala pertanyaan ini, tak banyak yang bisa diharapkan dari surat dunia maya ini.
***
            Sebulan kemudian, kau mengatakan tidak akan berkirim email dulu. Aku menanyakan alasannya, tapi tak ada jawaban. Kau selalu saja begitu, berdiam diri saat memiliki masalah. Pikirku, apa mungkin sekarang kau sedang mengurung diri di kamar?
***
            Pada senja yang berwarna jingga, aku berangkat ke tanah Minang untuk menemuimu. Aku masih menyimpan alamat lengkapmu. Sepanjang perjalanan, bayangan masa kuliah selalu saja muncul. Tak ada yang menyembunyikan remote lagi sekarang ini. Seberkas senyuman hadir kembali setiap kuingat masa itu.
***
            Terjadi kerusuhan di tanah Minang saat ini, sepanjang jalan dipenuhi oleh mobil patrol polisi. Menurut kabar, sedang terjadi penggrebekkan gudang narkoba di daerah sini, dan Bandar narkobanya belum juga ditemukan. Aku terpaku sesaat, kudengar nama “Soraya” disebut-sebut sebagai Bandar narkoba itu. Dia seorang gadis muda, umurnya kurang lebih dua puluh empat tahun. Ciri-ciri fisiknya, tinggi 166 cm, berkulit putih, berwajah oriental, dan memiliki tahi lalat di atas alis sebelah kanan.
            Soraya? Pikiranku tertuju pada sahabatku itu. Nama yang sama, ciri-ciri fisik yang sama. Soraya sahabatku memang berwajah oriental, karena ayahnya adalah keturunan Tionghoa sedangkan ibunya darah Minang asli.
Ah, bukankah banyak sekali orang bernama soraya di Indonesia ini. Aku melanjutkan langkahku, walau dengan hati tak menentu.
***
            Tiba-tiba terdengar suara tembakan, sangat dekat. Aku berbalik ke belakang, kudapati para polisi berjejer radius empat meter di depanku. Dan betapa kagetnya aku, saat kudapati seseorang yang terkulai lemah di tengah jalan.
Wajah itu—perasaanku mulai tak karuan. Wanita yang terkena tembakan peringatan di kaki kirinya itu mengangkat wajah. Mata merah itu memandangiku, menatap nanar ke arahku. Mata merah itu, persis sama seperti dua tahun lalu.
            Tak terasa mataku basah, mata merah itu memang sama, sahabatku.
Nyatakah ini?
Ataukah masih di dunia maya?
Ya, mungkin ini hanya fantasi dunia maya. Bukankah kita sedang berkirim email?
Aku terus membuat alibi bagi sahabatku.
***
Besoknya, di senja yang berwarna jingga, kukirimkan sebuah pesan ke email-mu. Entah kapan kau akan membacanya. Kupikir untuk waktu yang lama kita memang tidak akan berkomunikasi lagi, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
            Mesin terbang ini mulai meluncur, meninggalkan tanah Minang.
            Sementara itu, dibalik jeruji besi, di tempat lain di tanah Minang ini, dua bola mata merah memandang nanar. Mata yang memang sama.
            Kau selalu saja begitu kekanakkan, kau selalu saja begitu. Kau memang pemilik mata merah itu, sahabatku.

***
Tuesday, November 18, 2014
Posted by Unknown
Tag :

Kepiluhannya

Terdapat anak yang bernama ravida ,dia bersekolah di salah satu SMA Negeri Di jakarta .ia biasa di  panggil vida ,ia tidak pintar ,ia  tidaklah pintar tetapi ia berusaha untuk selalu belajar.
Ravida memiliki sahabat yang amat setia menemani nya di kala suka maupun duka bernama epha.mereka bersahabat dari duduk di bangku sekolah dasar sampai sekarang ini. Setelah vida duduk di bangku sekolah menengah atas vida mendapat begitu banyak sahabat salah satunya Dila dan risna. Tidak hanya mereka yang menjadi sahabatnya tetapi juga tomi. Ia orang yang humoris, ia juga juara kelas dan ia juga ramah pada setiap orang.
Ravida bersahabat dengannya dari mos awal masuk sekolah sma. Kesan pertamanys dengan tomi, ia orangnya lucu dan misterius. Kemisteriusannya itu ia sembunyikan di balik kacamatanya.
Waktu terus bergulir dan hari terus berganti. Awalnyavida hanya sekedar teman biasa yang memiliki rasa ingin tahu dengan sifatnya. Semua itu bermula dari tujuh bulan yang lalu tepatnya bulan November. mereka sering bercerita lewat pesan singkat, banyak cerita duka dan suka yang vida ceritakan denganya. Banyak pertanyaan yang vida ajukan untuknya.
Dari kesukaanya hingga alasan ia melepas kaca matanya ketika ia berada di luar kelas dan di rumah. Bahkan dia member vida begitu banyak nasehat “ jangan merubah diri kamu hanya karena hal yang tidak penting”. pesannya
Sayangnya ke dekatan dan persahabatian mereka di warnai gosip dan desas-desus yang menyatakan vida menyukainya, padahal di antara mereka hanyalah ada sebuah tali persahabatan. Desas desus itu heboh di kalasnya. Puluhan pesan singkat vida tak mendapat tanggapan darinya. Parahnya lagi tiap mereka tidak sengaja bertemu tak ada sedikt senyum di wajahnya dan tak ada sedikit pun kata terucap di bibir manisnya itu. Yang ada hanyalah tatapan mata yang kosong namun indah.
Ravida binggung dengan apa yang harus ia perbuat.vida sedih jika selamanya mereka harus begini. Hatinya sakit bagaikan di tusuk seribu jarum.vida berdo’a “ Aku mohon kepada MU jangan ambil sahabatku. Engkau dapat mengambil semua yang ku miliki tapi jangan kau ambil sahabatku. Karena sahabat menurutku amatlah berarti dalam hidup ini .Jika aku boleh meminta pada MU. kembalikanlah sahabatku seperti dikala pertama kali aku mengenalnya. Aku hanya ingin jika aku kelak bertemu dengannya aku dapat melihat senyuman manisnya dan mendengar kata sapaan dari bibirnya yang merah. entah kapan semua itu terjadi yang jelas aku akan selalu menjadikan ia sahabat terbaikku. aku yakin itu semua akan terjadi.” Rintihnya.

Jarum jam terus berputar begitu pula harapan vida yang semakin lama luntur karena prilakunya. Vida menyadari mungkin itu semua terjadi karena kesalahannya  juga. Yang pada suatu ketika menulis kalimat permohonan maaf dan kata-kata bahwa vida  tidak mau memutus tali silaturami di frendstervida. ia berkata melalui temannya bahwa vida membuat steres dirinya. bahkan di luar dugaanvida, ia berkata untuk tidak saling menggangu biar sama-sama enak. padahal di hati kecilku vida hanya ingin menyambung tali silaturami dengannya. vida sedih dengan perkataannya itu, yang membuat vida sedih kenapa pertemanan yang diawali dengan baik harus di akhiri seperti ini.
Friday, November 14, 2014
Posted by Unknown
Tag :

Translate This Blog

Visitors

Follow Me On Facebook

Powered by Blogger.

Copyright © 2014 - 2015 Amir Sayonara - All rights reserved. | Powered by Blogger