Posted by : Unknown Monday, September 29, 2014


Aku mulai mengenalnya ketika aku duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Tetapi aku dengan dia tidak terlalu akrab. Barulah ketika memasuki kelas 6 SD, aku menjalin persahabatan yang erat dengan dia. Sebut saja nama sahabatku itu Andi.
Menurutku Andi adalah sosok sahabat yang baik, ceria dan perhatian. Tetapi, sifat yang ku benci dari dia adalah suka ngejahilin teman-temannya. Aku pun tak luput terkena sasaran kejahilan dia kadang aku pun merasa jengkel karena ulahnya itu. Tetapi, biarpun begitu kami tetap menjalin persahabatan yang sangat baik. Kami pun sering bermain bersama, belajar bersama dan pergi mengaji pun bersama-sama.
Ketika tamat SD, kami pun memasuki sekolah yang sama pula. Cuma bedanya adalah ketika SD kami satu kelas tetapi di SMP kami berlainan kelas. Namun, biarpun seperti itu kami, kami tidak saling melupakan. Walaupun aku dan Andi mempunyai teman-teman baru, namun persahabatanku dengannya tetap harmonis seperti dulu. Bahkan aku mempunyai banyak teman karena teman-temannya Andi menjadi temanku juga.
Begitulah hari demi hari silih berganti hingga tak terasa aku dan Andi telah duduk di bangku kelas 2 SMP. Ketika pulang sekolah, tiba-tiba Andi menghampiriku “Ehh Dani kamu nggak pulang ya?” tanya Andi padaku yang tengah berdiri di depan gerbang sekolah. “Ohh, pulang kok, cuma aku lagi nunggu ojek nih” jawabku. “Loohh, itu kan banyak ojek, kenapa kamu nggak mau naik?” tanya Andi lagi. “Hmm, nggak ah, aku takut! soalnya aku nggak berani naik ojek sembarangan, aku tuh biasanya naik ojek yang aku kenal. Oh ya, kamu pulang sama siapa Andi?” kali ini aku yang bertanya pada Andi lalu Andi pun menjawab “aku pulang sendirian dan aku juga lagi nunggu ojek yang aku kenal”. “Ohh, kalau begitu kita naik ojek berdua aja, kan jalur kita sama” usulku. “Baiklah” jawab Andi dengan senyumannya.
Rumahku dengan rumah Andi tidak terlalu jauh, rumahku berada di samping jalan yang penuh dengan keramaian dan sangat mudah untuk ditemui. Tetapi, untuk menempuh rumah Andi, kita harus menaiki tanjakan yang kadang membuat kaki kita terasa pegal. Namun sekarang aku sudah jarang bermain ke rumah Andi.
Keesokan harinya, Andi tidak masuk sekolah bahkan sampai seminggu lamanya. Aku pun khawatir, aku takut terjadi apa-apa dengan dirinya. Aku ingin sekali menemui dan menanyakan kabarnya tetapi tidak sempat karena, pekerjaan rutinku di rumah sangat banyak. Ketika aku sedang menyapu di halaman rumah, tiba-tiba terlihat olehku Yuni, temanku yang jarak rumahnya dekat dengan Andi. Barangkali dari Yuni aku bisa mendapatkan informasi tentang keadaan Andi. Lalu aku pun bergegas menghampirinya, tanpa basa basi aku pun langsung menanyakan bagaimana keadaan Andi “Yun, kenapa sih Andi jarang masuk sekolah? emangnya dia kenapa?” tanyaku. Lalu Yuni menjawab “ohh, dia sedang sakit”. “Haah? dia sakit apa?” tanyaku lagi dengan ekspresi terkejut. “Aku juga nggak tau apa penyakitnya, ada yang bilang demam, ada juga yang bilang kalau penyakitnya itu datang dari makhluk halus soalnya dia sering nggak sadarkan diri, maksudku dia sering kesurupan” jawab Yuni dengan muka serius. “Astaga, kok bisa begitu ya? semoga aja dia cepat sembuh, oh ya tolong sampaikan ke dia, maaf aku nggak bisa pergi jenguk soalnya pekerjaan rumah numpuk, nanti kalau ada waktu, aku pasti datang ke rumahnya”. “Iya deh ntar aku sampaikan, ya udah aku buru-buru nih, aku pulang dulu ya Dani”. “Iya, hati-hati Yun” jawabku.
Keesokan harinya, tanggal 5 Oktober 2012, bertepatan denga hari Jum’at, aku pergi ke sekolah dengan sikapku yang biasa saja. Ketika aku sampai di depan pos penjaga sekolah, aku melihat banyak sekali teman yang sekelas dengan Andi tengah asyik mengobrol. Lalu, aku pun menghampiri mereka “Hai, kalian sudah tau nggak bagaimana kabarnya Andi?” tanyaku pada mereka, lalu salah seorang dari mereka menjawab “belum tahu, soalnya dia nggak pernah ada kabarnya”. “Lalu, mengapa kalian tidak pergi ke rumahnya untuk memastikan keadaannya?” tanyaku lagi. “Kami tidak tahu alamat rumahnya”. “Lohh, bukannya kalian punya teman yang bernama Ida? Ida itu kan teman dekatnya Andi, aku yakin, Ida pasti tahu rumahnya Andi” kataku. “Oh iya bener juga, ntar kita tanyakan pada Ida”.
Setelah pulang sekolah, aku pun berbaring sebentar sembari menuungu adzan zuhur, setelah itu aku bergegas mengambil air wudhu dan sholat. Setelah selesai sholat, aku pun berniat hendak tidur siang. Namun tiba-tiba, aku mendengar kabar bahwa Andi telah meninggal dunia. Mendengar kabar itu, aku langsung terkejut. Seketika tubuhku terasa ringan bagaikan kapas, lunglai bagai tak bertulang, hatiku terpaku, lidahku pun terasa kelu hingga tak mampu untuk mengucapkan sepatah katapun. Tak terasa, butir-butir air mengalir dari kedua kelopak mataku.
Aku benar-benar tidak percaya bahwa Andi akan mengalami takdir kematian secepat itu. Rasanya baru kemarin aku bertemu dengannya, mengajaknya berbicara. Tapi, apa mau dikata, semua itu sudah menjadi kehendak yang Maha Kuasa. Aku hanya berdoa semoga Andi mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.
Lalu sekitar jam 3 sore, aku pergi ke rumah Andi untuk melayatnya dan menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga Andi. Aku pun masuk ke dalam rumah Andi. Aku melihat Andi terbaring dengan tubuh ditutupi kain batik berwarna coklat. Aku pun tak sanggup melihatnya, lalu aku pun keluar dengan berurai air mata.
Rasa sedih dan kecewa bercampur jadi satu. Aku benar-benar merasa kehilangan sosok sahabat terbaik dalam hidupku. Lalu aku pun pergi ke tempat dimana Andi akan dimakamkan, agar aku bisa menyaksikan sekaligus melepas kepergiannya untuk terakhir kali sebelum ia menghadap kepada Sang Ilahi, serta mendoakan agar ia diterima di Sisi Allah yang Maha Kuasa.
“Selamat jalan Andi, semoga kamu bahagia di alam sana”

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Translate This Blog

Visitors

Follow Me On Facebook

Powered by Blogger.

Copyright © 2014 - 2015 Amir Sayonara - All rights reserved. | Powered by Blogger