- Back to Home »
- Cerpen »
- Kepastian Mu
Posted by : Unknown
Monday, September 29, 2014
Awal tahun
yang kelabu. Disambut dengan awan mendung dan cuaca yang tak bisa diandalkan.
Tapi kemeriahan masih saja menyelimuti umat manusia sampai ke pelosok dunia.
Letusan kembang api bagaikan upacara wajib di setiap awal tahunnya, sangatlah
indah mewarnai langit gulita. Tapi tetap saja, kilauan bintang 2014 masih jauh
lebih indah mewarnai langit meski nampak redup tertutup awan kelabu.
Sorak-sorai gembira masyarakat pada antusias menyambut 2014 dan melepaskan
tahun indah 2013. Tidak hanya di lingkungan saja, jejaring sosial pun seperti
Facebook, Twitter, Instagram, BBM, Path, WeChat juga rame dengan berbagai
harapan, ucapan selamat tahun baru, dan macam-macam pose dari berbagai foto
yang terunggah. Semua itu hanya untuk sekedar meramaikan tahun baru sekaligus
menyambut libur panjang.
Semua
meramaikannya dengan begitu rapi dan melebihi upacara adat saja. Kegembiraan,
kebersamaan, ketenangan, canda tawa seakan terlampiaskan jua menemani tahun
2014 ini, tapi tidak denganku. Awal tahun ini sangatlah sepi, kesedihan
menyelimuti kalbu, rasanya tahun ini amat sangat jauh berbeda dengan tahun
kemarin. Hanya sedikit senyuman yang dapat ku kutip di awal tahun ini.
Terlalu banyak
basa-basi gini, jadinya kelupaan deh ngenalin diri. Namaku Chaca Azhari. Lahir
di kota Palu tanggal 23 April 1999. Orang yang terlahir di keluarga sederhana,
dibaluti dengan berbagai macam karakter, pintar, rajin shalat, baik, tidak
banyak omong, lugu, sopan, juga cantik (kata orang sih gitu). Aku sekarang
kelas 3 SMP.
Dahulu, aku
mempunyai 5 orang sahabat yang setia menemaniku, menjagaku, membuatku
tersenyum, menghapus air mataku, yang selalu siap sedia memberikan bahunya
tempatku bersandar disaat ku terjatuh. Selain itu banyak teman yang selalu ada
untuk membantuku mengerjakan PR dan mengajariku berbagai hal. Tak lupa juga
seseorang yang selalu menemani siang dan malamku, menjagaku, melindungiku,
memberi support, segalanya yang kubutuhkan dia juga selalu ada, itulah Ari. Ari
adalah kekasihku yang sekaligus bagaikan sahabat sejati dan orangtua untukku.
Hidupku begitu indah, tak dapat ku merangkumnya satu per satu. Kesenangan
selalu berpihak kepadaku. Sampai-sampai air mata tak pernah lagi menetes di
pipiku. Ku rasa, seisi dunia sangat menyayangiku hingga mereka tak rela
melihatku bersedih dan seakan-akan dunia selalu ingin melihat senyumku
terpancarkan. Jika senyumku tak nampak, langit begitu bersedih hingga hujan pun
juga mengiringi hari kesedihanku. Mungkin itulah penyebab awal tahun ini yang
tak jarang diguyuri hujan tiap minggunya.
Ya, memang
tahun ini kesedihan sedang melandaku. Semuanya meninggalkanku, entah salahku
ada dimana sehingga tuhan menjadikanku seperti sosok sebatang kara yang hanya
hidup dalam kesendirian di bumi ini. Sahabat dan seorang lelaki yang dekat
denganku kini telah menjauh dari hidupku. Entah dimana mereka kini berlabuh,
semuanya tak lagi terlihat oleh kacamata. Mereka pergi, sekarang keadaanku juga
mulai memburuk. Penyakit yang dulu kini kembali mengerogoti kesehatanku.
Terkadang aku
hanya bisa mengoceh tak jelas juga mencaci tuhan. “Menurutku tuhan tidak adil,
tuhan sangatlah jahat padaku, tuhan mungkin tak ingin lagi menganggapku sebagai
hambanya, menurutku tuhan sangatlah egois!” itu selalu terlintas dalam benakku,
entah berapa banyak setan dan iblis yang menggodaku untuk mengatakan itu hingga
aku tak lagi menghiraukan sebanyak apa dosa yang ku perbuat. Beribadah pun
jarang ku laksanakan, ummi dan abi pun ku lihat telah bosan menyuruhku.
Aku bingung
salahku ada dimana. Aku tak melakukan sesuatu yang tuhan benci, tapi kenapa
tuhan menakdirkan kepadaku sesuatu yang aku tak suka. Kehilangan
sahabat-sahabatku, kekasihku, teman-teman pun menjauhiku, juga penyakit itu
berjumpa lagi denganku bahkan labih parah dan melemahkan organ hatiku. “Oh,
tuhan! Apa salahku padamu hingga kau membuatku menderita seperti ini?” keluhku
dalam kesah.
Di liburan
kali ini, aku hanya menghabiskan waktuku di dalam kamar, bercengkerama dengan
tembok, berhadapan dengan TV, membaca berbagai buku, bersandar di ranjang, juga
bermain dan berteman dengan bermacam-macam jenis obat dokter. Tak ada keseruan
sama sekali yang mampu mengembalikan senyumku yang dulu. Tak ada cinta lagi
yang dapat ku rasakan, tak ada lagi kesetiaan yang mampu menjagaku dalam
gelapku, tak ada lagi cahaya yang mampu menyinari hatiku, tak ada lagi canda
tawa yang mampu menghiburku, dan tak ada lagi kasih yang tertorehkan untukku.
Hidupku begitu hampa, membuatku semakin yakin bahwa hidupku bukan disini lagi.
Entah dimana harus ku tempatkan tubuhku yang hanya dibalut dengan kesedihan
ini, entah harus kubawa kemana kenangan indahku bersama kalian, sahabat dan
sosok pria yang mampu memenangkan hatiku.
Dua minggu
liburan awal tahun telah berlalu, waktunya kembali ku tampakkan wajahku pada
sang mentari, menampakkan wajah lesu, sedih, dan tak berdaya seperti ini ke hadapan
milyaran pasang mata di dunia ini. Ingin rasanya ku tutup rapat-rapat kesedihan
dan masalah yang ku hadapi, tapi tetap saja semuanya seakan menampakkan
identitasnya bahwa aku sedang bersedih dan ditimpa masalah buruk. Dulu setelah
libur seperti ini, detik-detik memasuki waktu sekolah adalah hal yang paling ku
rindukan, kini semuanya berbeda. Rasanya aku ingin secepat mungkin berhenti
sekolah, aku tak ingin melihat dan dilihat banyak orang dengan kondisiku yang
sekarang. Tapi, aku harus sekolah! Aku ingin memperlihatkan kepada Tuhan bahwa
aku bisa hidup tanpa bantuannya. Aku tetap melaksanakan kewajibanku sebagai
pelajar.
Seminggu telah
berlalu, ku rasa dalam waktu ini aku telah berhasil menaklukkan takdir buruk
Tuhan kepadaku. Meskipun aku tetap berjalan tanpa Sahabat dan Pujaan hatiku.
Semuanya ku pendam sendiri, aku juga tak memberitahukan kepada orang-orang
bahwa aku sedang sakit parah.
Hari Senin,
upacara pengibaran bendera Merah Putih terlaksanakan. Ternyata aku pingsan. 15
menit kemudian, mataku pun perlahan ku buka. Aku sekarang ada di UKS hanya
sendiri tanpa seorang pun menemaniku. Air mataku tak dapat ku bendung sudah,
kini ia mengalir begitu hebatnya. Tak lama kemudian, seorang wanita bercadar
nampak kedua bola matanya sedang menatapku. Tiap langkahnya membuatku takut dan
curiga padanya. Entahlah, pikiran negatif sempat terlintas di fikiranku saat
melihat penampilannya, mengira dia seorang wanita pembom bercadar yang di
TV-TV. Aku langsung terbangun dan mulai ingin berjalan ke luar ruang, aku
sempat terjatuh kehilangan keseimbangan dan wanita itu membantuku untuk berdiri
kembali. Dia adalah petugas UKS baru, namanya Ibu Nisa. Dia wanita yang baik,
ingin sekali ku menatap wajahnya itu, bagaimanakah rupa wajah di balik cadar
hitam itu? Dia pasti cantik, ya.. Secantik amal ibadahnya.
Satu jam mata
pelajaran terlewatkan lantaran aku asyik berbincang-bincang dengan Bu Nisa.
Sempat pula ku ceritakan keadaanku dengan kesedihan yang selalu menemani
hari-hariku. Tak kuasa menahan tangisku, air mata ini bercucuran. Bu Nisa kini
berhasil menenangkan perasaanku dan membuatku kembali bersemangat menjalani
hidup bak sebatang kara. “Kamu harus tegar, kita diciptakan bukan untuk sekedar
menikmati kebahagiaan saja, tapi kita juga dituntut untuk tegar menjalani cobaan
dan melewatinya dengan hati yang sabar, Tuhan tak akan memberikan cobaan diluar
batas kemampuan hambanya” ujar Bu Nisa sambil memelukku. Perasaanku sudah
tenang dan badanku juga udah enakan, ku putuskan untuk pamit sama Bu Nisa dan
mengucapkan banyak terima kasih pada Bu Nisa.
Teng.. Teng..
Teng.. Suara bel pun berbunyi, sekarang waktunya pulang ke rumah yang sangat
membuatku seperti tahanan polisi. Oh Tuhan, haruskah sekuat ini ku jalani
cobaanmu? sampai kapan? apa aku akan mati dengan kondisi seperti ini?.
Sesampaiku di rumah, ku lihat Ummi dan Papa sedang bertengkar. Kepalaku pusing,
tubuhku kehilangan keseimbangan, ingin ku hentikan pertengkaran yang terjadi,
tapi seketika itu juga tubuhku melemah dan jatuh pingsan.
Sejam berlalu,
saat ku buka mataku, ternyata dugaanku benar. Ternyata aku sudah berbaring di
rumah sakit dengan dibaluti selang infus, bantuan oksigen dan berbagai macam
kabel yang entah apa gunanya. Mataku sempat menatap berbagai wajah yang tidak
asing bagiku, iya.. itu adalah Kelima Sahabatku, Mantan Kekasihku (Ari), Kedua
orangtuaku juga Dokter Gaffar (dokter kepercayaan keluargaku) yang didampingi
dengan dua suster yang cantik. Kesedihan sedang menyelimuti wajah mereka.
“Ummi, Papa, ada apa? Kok pada nangis?” tanyaku sambil menangis. Tapi mereka
hanya bisa menangis dan menghiraukan pertanyaanku. “Kalian kenapa kesini? Apa
kalian masih ingat sama aku? Kalian kan benci sama aku. Ari? Kamu juga? Kenapa
kesini.. apa kamu mau ngeliat aku mati juga?” tanyaku perlahan. “Aku sayang
kamu. Kamu harus sembuh, apapun caranya. Kami disini ada untuk kamu” jawab Ari
sambil menyembunyikan kesedihannya, matanya terlihat berkaca-kaca. “Bukannya
kalian memutuskan untuk menjauhiku? Dan kamu…” ujarku. Nafasku mulai menyempit,
Dr. Gaffar pun memberhentikan percakapan dan menyuruhku untuk beristirahat. Aku
tertidur pulas, dan tak menyangka sebulan sudah ku pejamkan mata ini.
Ternyata Bu
Nisa selalu ngejenguk aku setiap hari, dan sekarang Bu Nisa ada di sampingku
sambil mambacakanku lantunan ayat suci Al-Qur’an. Semuanya menangis saat ku
bangun, aku hanya bisa senyum seadanya saja. Dan benar saja, Kelima sahabatku
dan Ari pun juga hadir disini.
Aku hanya bisa
berkata “tersenyumlah! Waktu yang akan menjawab semuanya, kini aku telah berada
di ujung waktu. Itulah takdirku”, Ummi dan Papa langsung memeluk erat tubuhku
yang perlahan semakin melemah. Dr. Gaffar pun datang dan tersenyum padaku dan
ingin memeriksa keadaanku. “Tak usah Dok, kini memang telah waktunya” ujarku
sambil meneteskan air mata. Bu Nisa langsung mendekatkan bibirnya ke dekat
telingaku dan melafadzkan kalimat syahadat. Perlahan ku coba mengikuti apa yang
Bu Nisa ucapkan, tapi tetap saja terbata-bata, hingga akhirnya disitu pula
waktuku terhenti dan ku hembuskan nafasku perlahan dan tersenyum di hadapan
mereka.
