- Back to Home »
- Wilayah Madura »
- Pamekasan
Posted by : Unknown
Wednesday, September 10, 2014
Pada posting
kali ini saya akan menceritakan sedikit tentang Pamekasan yang berada si
Madura. Seperti biasa dari bergai sumber yang telah ada akan saya persingkat
sehingga lebih memudahkan pembaca.
Kabupaten
Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup panjang. Istilah Pamekasan
sendiri baru dikenal pada sepertiga abad ke-16, ketika Ronggosukowati mulai
memindahkan pusat pemerintahan dari Kraton Labangan Daja ke Kraton Mandilaras.
Memang belum cukup bukti tertulis yang menyebutkan proses perpindahan pusat
pemerintahan sehingga terjadi perubahan nama wilayah ini. Begitu juga munculnya
sejarah pemerintahan di Pamekasan sangat jarang ditemukan bukti-bukti tertulis
apalagi prasasti yang menjelaskan tentang kapan dan bagaimana keberadaannya.
Begitu juga
ketika politik etis diberlakukan, rakyat Madura telah diperkenalkan akan
pentingnya pendidikan dan industri, tetapi disisi lain, keuntungan politik etis
yang dinikmati oleh rakyat Madura termasuk Pamekasan harus ditebus dengan
hancurnya ekologi Madura secara berkepanjangan, atau sedikitnya sampai masa
pemulihan keadaan yang dipelopori oleh Residen R. Soenarto Hadiwidjojo. Bahwa
pencabutan hak apanage yang diberikan kepada para bangsawan dan raja-raja
Madura telah mengarah kepada kehancuran prestise pemegangnya yang selama
beberapa abad disandangnya.
Pergaulan
tokoh-tokoh Pamekasan pada tingkat nasional baik secara perorangan ataupun
melalui partai-partai politik yang bermunculan pada saat itu, ditambah dengan
kejadian-kejadian historis sekitar persiapan kemerdekaan yang kemudian disusul
dengan tragedi-tragedi pada zaman pendudukan Jepang ternyata mampu mendorong
semakin kuatnya kesadaran para tokoh Pamekasan akan pentingnya Negara Kesatuan
Republik Indonesia, yang kemudian bahwa sebagian besar rakyat Madura termasuk
Pamekasan tidak bisa menerima terbentuknya negara Madura sebagai salah satu
upaya Pemerintahan Kolonial Belanda untuk memecah belah persatuan dan kesatuan
bangsa.
Melihat dari
sedikitnya, bahkan hampir tidak ada sama sekali prasasti maupun inskripsi
sebagai sumber penulisan ini, maka data-data ataupun fakta yang digunakan untuk
menganalisis peristiwa yang terjadi tetap diupayakan menggunakan data-data
sekunder berupa buku-buku sejarah ataupun Layang Madura yang diperkirakan
memiliki kaitan peristiwa dengan kejadian sejarah yang ada. Selain itu
diupayakan menggunakan data primer dari beberapa informan kunci yaitu para
sesepuh Pamekasan.
