- Back to Home »
- Wilayah Madura »
- Bangkalan
Posted by : Unknown
Tuesday, September 9, 2014
Dalam posting kali ini saya akan menceritakan sedikit tentang Bangkalan yang berada di Madura dengan berbagai sumber yang ada. Seperti biasa akan saya persingkat agar memudahkan pembaca.
Bangkalan berasal dari kata “bangkah” dan ”la’an” yang artinya “mati sudah”. Istilah ini diambil dari cerita legenda tewasnya pemberontak sakti Ki Lesap yang tewas di Madura Barat. Menurut beberapa sumber, disebutkan bahwa Raja Majapahit yaitu Brawijaya ke V telah masuk Islam (data kekunoan di Makam Putri Cempa di Trowulan, Mojokerto). Namun demikian siapa sebenarnya yang dianggap Brawijaya ke V.
Bangkalan berasal dari kata “bangkah” dan ”la’an” yang artinya “mati sudah”. Istilah ini diambil dari cerita legenda tewasnya pemberontak sakti Ki Lesap yang tewas di Madura Barat. Menurut beberapa sumber, disebutkan bahwa Raja Majapahit yaitu Brawijaya ke V telah masuk Islam (data kekunoan di Makam Putri Cempa di Trowulan, Mojokerto). Namun demikian siapa sebenarnya yang dianggap Brawijaya ke V.
Menak Senojo
tiba di Proppo Pamekasan dengan menaiki bulus putih dari Palembang kemudian
meneruskan perjalannya ke Barat (Bangkalan). Saat dalam perjalanan di taman
mandi Sara Sido di Sampang pada tengah malam Menak Senojo mendapati banyak
bidadari mandi di taman itu, oleh Menak Senojo pakaian salah satu bidadari itu
diambil yang mana bidadari itu tidak bisa kembali ke kayangan dan akhirnya jadi
istri Menak Senojo.
Bidadari
tersebut bernama Nyai Peri Tunjung Biru Bulan atau disebut juga Putri Tunjung
Biru Sari. Menak Senojo dan Nyai Peri Tunjung Biru Bulan mempunyai anak Ario
Timbul. Ario Timbul mempunyai anak Ario Kudut. Ario Kudut mempunyai anak Ario
Pojok. Sedangkan di pihak Lembu Peteng yang bermula tinggal di Madegan Sampang
kemudian pindah ke Ampel (Surabaya) sampai meninggal dan dimakamkan di Ampel,
Lembu Peteng mempunyai anak bernama Ario Manger yang menggantikan ayahnya di
Madegan Sampang. Ario Manger mempunyai anak Ario Pratikel yang semasa hidupnya
tinggal di Gili Mandangin (Pulau Kambing). Dan Ario Pratikel mempunyai anak
Nyai Ageng Budo.
Nyai Ageng
Budo inilah yang kemudian kawin dengan Ario Pojok. Dengan demikian keturunan
Lembu Peteng menjadi satu dengan keturunan Ario Damar. Dari perkawinan tersebut
lahirlah Kiai Demang yang selanjutnya merupakan cikal bakal Kota Baru dan
kemudian disebut Plakaran. Jadi Kiai Demang bertahta di Plakaran Arosbaya dan
ibukotanya Kota Baru (Kota Anyar) yang terletak disebelah Timurdaya Arosbaya.
Namun
perkembangan kerajaan di Bangkalan justru mengkhawatirkan Belanda setelah
kerajaan itu semakin kuat, meskipun kekuatan itu merupakan hasil pemberian
Belanda atas jasa-jasa Tjakraningrat II membantu memadamkan pemberontakan di
beberapa daerah. Belanda ingin menghapus kerajaan itu. Ketika Tjakraningrat II
wafat, kemudian digantikan oleh Pangeran Adipati Setjoadiningrat IV yang
bergelar Panembahan Tjokroningrat VIII, Belanda belum berhasil menghapus
kerajaan itu. Baru setelah Panembahan Tjokroadiningrat wafat, sementara tidak
ada putera mahkota yang menggantikannya, Belanda memiliki kesempatan menghapus
kerajaan yang kekuasaannya meliputi wilayah Madura itu.
