- Back to Home »
- Wilayah Madura »
- Sampang
Posted by : Unknown
Sunday, September 14, 2014
Menurut para
pakar sejarah, komunitas masyarakat seperti ini sudah mulai berstruktur
walaupun statusnya mudah sekali berubah-ubah. Biasanya diawali dengan Kamituwo,
lalu menjadi Kademangan, setelah itu berubah menjadi Padukuhan, dan akhirnya
berubah menjadi sebuah Kerajaan.
Sedangkan
referensinya masih berupa pitutur lisan, tetapi sudah ada yang sebagian sempat
menulis pada generasi kelima setelah komunitas tersebut atau sekitar 300 tahun
setelahnya.
Berdasarkan
bukti-bukti sejarah, raja Madura pertama yang sempat memerintah saat itu adalah
Ario Lembu Peteng sekitar abad 14 M. Dia adalah putra dari Prabu Brawijaya V
(Stamboom Van Het Geslachi Tjakra Adi Ningrat, hal 79). Lalu, berturut-turut
kerajaan Madura diperintah oleh Ario Menger, Ario Patikal, Nyai Ageng Boedo dan
yang terakhir adalah Kiai Demong sekitar tahun 1531 M.
Saat
pemerintahan dipegang oleh Kiai Demong, sekitar tahun 1531-1623 M, istana
kerajaan Madura yang awalnya berada di Madegan Polagan Sampang, dipindah ke
Pelakaran Arosbaya Bangkalan. Tetapi, sekitar tahun 1623 M ketika Madura
berhasil ditaklukkan oleh kerajaan Mataram, istana kerajaan dipindahkan kembali
ke Madegan Polagan Sampang.
Menurut
bukti-bukti sejarah, kiai Demong merupakan salah satu raja-raja keturunan
Majapahit yang sudah memeluk agama Islam. Ia adalah kakek dari Panembahan Lemah
Duwur (1531-1592), yang kemudian dikenal sebagai pendiri masjid Madegan Polagan
Sampang, yang sampai saat ini masih dikramatkan oleh sebagian besar masyarakat,
sehingga sering dijadikan tempat melakukan sumpah pocong oleh hampir semua
kalangan.
Panembahan
Lemah Duwur dikenal sebagai seorang raja yang berjasa meletakkan dasar-dasar
kepemimpinan Islam di Madura, khususnya di Kabupaten Sampang. Ia adalah ayah
dari Pangeran Tengah (1592-1621) yang beristerikan Ratu Ibu I, yang sampai saat
ini makamnya berada di makam raja-raja Madegan Polagan Sampang.
Sedangkan
Pangeran Tengah adalah ayah dari Raden Praseno yang dikenal sebagai Pangeran
Cakraningrat I (1624-1648), yang juga menantu kesayangan dari Sultan Agung.
Sebab, selain beristrikan Ratu Ibu II, salah satu puteri Sultan Agung, ia
merupakan salah seorang panglima perang Mataram yang sangat handal, sehingga ia
dimakamkan di makam raja-raja Imogiri Yogyakarta.
Sementara itu,
Candra Sangkala lain juga ditemukan di situs Pangeran Santomerto. Candra
Sangkala itu menunjukkan tahun Caka wafatnya Pangeran Santomerto yang juga
dikenal sebagai paman Raden Praseno, yang mengasuhnya sejak kecil setelah
Pangeran Tengah (ayahanda R. Praseno) gugur dalam pertempuran. Candra Sangkala
ini berupa kayu berukir angka dengan memakai hurup Arab yang menunjukkan tahun
Caka 1496 atau sama dengan tahun 1574 M.
