- Back to Home »
- Wilayah Madura »
- Rato Ebhu
Posted by : Unknown
Monday, September 15, 2014
Dikisahkan
bahwa sejak terjadinya Perang Mataram tahun 1624, Madura dikuasai oleh Sultan
Agung. Lalu ia menginginkan agar Pangeran Tjakraningrat I memerintah Madura
secara keseluruhan. Titah raja pun dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Meskipun
Madura menjadi daerah kekuasaannya, namun Pangeran Tjakraningrat justru jarang
sekali tinggal di Sampang. Apalagi Raja Mataram,Sultan Agung, masih membutuhkan
tenaganya untuk memimpin kerajaannya di tanah Jawa sehingga Pangeran
Tjakraningrat I sering tinggal di kerajaan tanah Jawa.
Wajar apabila
Ratu Syarifah lebih banyak tinggal di Kraton Sampang sendirian tanpa didampingi
suami tercintanya. Namun Ratu Syarifah adalah seorang figur wanita yang taat
dan patuh pada semua perintah suaminya. Maka untuk mengisi waktu kosongnya,
Ratu Syarifah yang lebih populer dengan sebutan Ratu Ibu tersebut lebih banyak
menghabiskan waktunya untuk bertapa di suatu bukit di Desa Buduran Kecamatan
Arosbaya. Didalam legenda sejarah Babat Madura dikisahkan, bahwa selama dalam pertapaannya,
Ratu Ibu Syarifah senantiasa memohon kepada Allah SWT. Agar keturunannya yang
laki-laki kelak bisa menjadi pucuk pimpinan pemerintahan di Madura. Ia berharap
agar pimpinan Pemerintahan tersebut dijabat hingga tujuh turunan.
Anehnya dalam
legenda tadi juga dikisahkan bahwa suatu hari di dalam pertapaannya, Ratu Ibu
Syarifah berjumpa dengan Nabi Khidlir AS. Dalam pertemuannya yang Cuma sesaat
itu, sepertinya semua permohonan Ratu Ibu akan dikabulkan. Merasa pertapaannya
sudah cukup, maka Ratu Ibu Syarifah pun kembali ke Kraton Sampang. Tidak selang
beberapa lama, suaminya yakni Pangeran Tjakraningrat I datang dari bertugas di
Kerajaan Mataram. Sebagai istri yang setia, tentu saja Ratu Syarifah menyambut
kedatangan suaminya dengan senang hati. Beliau bahkan menceritakan apa yang
dialaminya selama bertapa, termasuk adanya petunjuk bahwa permohonannya agar
turunannya kelak memimpin Pemerintahan di Madura dikabulkan juga diceritakannya
dengan runtun.
Mendengar
penuturan Ratu Syarifah tersebut, Pangeran Tjakraningrat I marah, ia sangat
kecewa dengan pernyataan istrinya. Sebaliknya Pangeran Tjakraningrat I bertanya
dengan marah,”Mengapa kamu Cuma memohon untuk tujuh turunan, sebaiknya kan
tutunan kita selamanya harus memerintah di Madura !”, tegur Pangeran
Tjakraningrat I kepada Ratu Syarifah. Wanita itupunCuma menundukkan kepala. Sepeninggal
suaminya yang bertugas ke Mataram, Ratu Syarifah kembali ke Desa Buduran untuk
bertapa. Dalam pertapaannya itulah Ratu Ibu memohon agar keinginan suaminya
untuk menjadikan seluruh keturunannya bisa menjadi pemimpin Pemerintahan di
Madura. Siang malam Ratu Ibu memohon kepada Allah.
