Archive for September 2014

Kehidupan

Pada suatu hari ada seseorang yang bernama Bejo, dia bergabung dengan komunitas belajar. Di dinding klub tersebut terpasang daftar ranking 10 nilai terbaik m. Melihat itu bejo mulai belajar seperti setan. Dia belajar dengan keras. Namun pada akhirnya Bejo tidak berhasil masuk daftar tersebut. Karena kecewa dia akhirnya keluar dari klub tersebut.
Kemudian Bejo bergabung dengan klub Taekwondo, dia berusaha keras di bidang tersebut. Disitu dia ketemu dengan para senior yang hebat. (Dan sialnya) dia juga bertemu Junior2 yang ternyata lebih berbakat daripada dia. Akhirnya Bejo-pun menyerah. Bejo keluar dari komunitas tersebut dan berusaha menghapus impiannya.
Lalu Bejo bergabung dengan komunitas yang lain yaitu klub musik. scara dia pernah belajar gitar sebentar. Dia berusaha keras latihan (latihan 10 jam sehari). Bahkan dia selalu pulang duluan padahal sebenarnya teman2 klubnya selalu duduk2 ngobrol sebentar sebelum pulang. Jujur dalam hatinya dia ingin bergabung dg teman2nya. Namun dia berusaha menekan keinginannya. Dan berpendapat bahwa berteman tidak penting dibandingkan impiannya. Namun nampaknya kesialan menimpanya lagi. Dia tidak terpilih sebagai gitaris utama dari band perwakilan klub tersebut. GAGAL LAGI
Mendengar hal itu Bejo langsung lunglai. (Baca : limbung) Dia merasa bahwa hidupnya tidak diberi keadilan. Kerja kerasnya tidak sebanding dengan yang ia dapatkan. dia lalu pergi ke mall untuk menghibur diri. Disana dia bertemu dengan seorang gadis. Dia sangat mengenal gadis itu karena dia pernah satu klub dengan klub belajar Bejo yang dulu. Bejo pura2 tidak melihat. Namun sialnya dia dipanggil oleh gadis itu
'Hai! Bejo'
'Oh Hai Siska, gimana kabarnya. wah udah lama ga ketemu (jawab Bejo pura2 ramah)
'Baik, kamu kmn aja nih kok ga pernah main ke klub lagi' tanya Siska.
'Iya nih, aku sibuk
'Oya, sibuk apa'
'Emm yaa banyak acara di kampus'ngurusin event (Bejo emang memilih jawaban yang agak keren, padahal dia lg ga ngurusi even apa2. Dia ga mungkin cerita kalo dia gabung dengan klub musik dan klub taekwondo yang notabene dia ga berprestasi disitu)
'Tapi kamu kapan2 coba mampir dong, anak2 udah kangen lho sama kamu
Oya tentu aja kapan2 aku kesana kata bejo (dengan wajah poker face seolah-olah dia benar2 akan datang. Padahal dia sudah berencana tidak akan datang)
Bejo mikir,,, bagaimana temen2nya di klub bisa ingat dia yang notabene antisosial kayak gitu. Bejo mulai menerawang kehidupannya yang sekarang : tak ada prestasi, ga punya temen, pikiran negatif melulu dan lain lain.
Bejo mulai bimbang. Dulu dia punya pola pikir bahwasanya : kerja keras no 1, kita hidup dalam persaingan global yang kompetitif, tirulah negara Korea/Jepang, cinta itu hanya ada di sinetron dan persahabatan hanya ada di anime, hidup ini tak semudah (COCOTNYA) Mario Teguh dan lain-lain.
Dia mulai berpikir jangan-jangan selama ini pola pikirnya salah
Bejo terdiam agak lama, namun setelah agak lama terlihat senyuman di wajahnya akhirnya dia menyadari bahwa tidak semua orang yang terkenal baik itu selamanya baik dan tidak semua orang yang terkenal jahat itu jahat.
Tuesday, September 30, 2014
Posted by Unknown
Tag :

Teman Seperjuangan


Aku mulai mengenalnya ketika aku duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Tetapi aku dengan dia tidak terlalu akrab. Barulah ketika memasuki kelas 6 SD, aku menjalin persahabatan yang erat dengan dia. Sebut saja nama sahabatku itu Andi.
Menurutku Andi adalah sosok sahabat yang baik, ceria dan perhatian. Tetapi, sifat yang ku benci dari dia adalah suka ngejahilin teman-temannya. Aku pun tak luput terkena sasaran kejahilan dia kadang aku pun merasa jengkel karena ulahnya itu. Tetapi, biarpun begitu kami tetap menjalin persahabatan yang sangat baik. Kami pun sering bermain bersama, belajar bersama dan pergi mengaji pun bersama-sama.
Ketika tamat SD, kami pun memasuki sekolah yang sama pula. Cuma bedanya adalah ketika SD kami satu kelas tetapi di SMP kami berlainan kelas. Namun, biarpun seperti itu kami, kami tidak saling melupakan. Walaupun aku dan Andi mempunyai teman-teman baru, namun persahabatanku dengannya tetap harmonis seperti dulu. Bahkan aku mempunyai banyak teman karena teman-temannya Andi menjadi temanku juga.
Begitulah hari demi hari silih berganti hingga tak terasa aku dan Andi telah duduk di bangku kelas 2 SMP. Ketika pulang sekolah, tiba-tiba Andi menghampiriku “Ehh Dani kamu nggak pulang ya?” tanya Andi padaku yang tengah berdiri di depan gerbang sekolah. “Ohh, pulang kok, cuma aku lagi nunggu ojek nih” jawabku. “Loohh, itu kan banyak ojek, kenapa kamu nggak mau naik?” tanya Andi lagi. “Hmm, nggak ah, aku takut! soalnya aku nggak berani naik ojek sembarangan, aku tuh biasanya naik ojek yang aku kenal. Oh ya, kamu pulang sama siapa Andi?” kali ini aku yang bertanya pada Andi lalu Andi pun menjawab “aku pulang sendirian dan aku juga lagi nunggu ojek yang aku kenal”. “Ohh, kalau begitu kita naik ojek berdua aja, kan jalur kita sama” usulku. “Baiklah” jawab Andi dengan senyumannya.
Rumahku dengan rumah Andi tidak terlalu jauh, rumahku berada di samping jalan yang penuh dengan keramaian dan sangat mudah untuk ditemui. Tetapi, untuk menempuh rumah Andi, kita harus menaiki tanjakan yang kadang membuat kaki kita terasa pegal. Namun sekarang aku sudah jarang bermain ke rumah Andi.
Keesokan harinya, Andi tidak masuk sekolah bahkan sampai seminggu lamanya. Aku pun khawatir, aku takut terjadi apa-apa dengan dirinya. Aku ingin sekali menemui dan menanyakan kabarnya tetapi tidak sempat karena, pekerjaan rutinku di rumah sangat banyak. Ketika aku sedang menyapu di halaman rumah, tiba-tiba terlihat olehku Yuni, temanku yang jarak rumahnya dekat dengan Andi. Barangkali dari Yuni aku bisa mendapatkan informasi tentang keadaan Andi. Lalu aku pun bergegas menghampirinya, tanpa basa basi aku pun langsung menanyakan bagaimana keadaan Andi “Yun, kenapa sih Andi jarang masuk sekolah? emangnya dia kenapa?” tanyaku. Lalu Yuni menjawab “ohh, dia sedang sakit”. “Haah? dia sakit apa?” tanyaku lagi dengan ekspresi terkejut. “Aku juga nggak tau apa penyakitnya, ada yang bilang demam, ada juga yang bilang kalau penyakitnya itu datang dari makhluk halus soalnya dia sering nggak sadarkan diri, maksudku dia sering kesurupan” jawab Yuni dengan muka serius. “Astaga, kok bisa begitu ya? semoga aja dia cepat sembuh, oh ya tolong sampaikan ke dia, maaf aku nggak bisa pergi jenguk soalnya pekerjaan rumah numpuk, nanti kalau ada waktu, aku pasti datang ke rumahnya”. “Iya deh ntar aku sampaikan, ya udah aku buru-buru nih, aku pulang dulu ya Dani”. “Iya, hati-hati Yun” jawabku.
Keesokan harinya, tanggal 5 Oktober 2012, bertepatan denga hari Jum’at, aku pergi ke sekolah dengan sikapku yang biasa saja. Ketika aku sampai di depan pos penjaga sekolah, aku melihat banyak sekali teman yang sekelas dengan Andi tengah asyik mengobrol. Lalu, aku pun menghampiri mereka “Hai, kalian sudah tau nggak bagaimana kabarnya Andi?” tanyaku pada mereka, lalu salah seorang dari mereka menjawab “belum tahu, soalnya dia nggak pernah ada kabarnya”. “Lalu, mengapa kalian tidak pergi ke rumahnya untuk memastikan keadaannya?” tanyaku lagi. “Kami tidak tahu alamat rumahnya”. “Lohh, bukannya kalian punya teman yang bernama Ida? Ida itu kan teman dekatnya Andi, aku yakin, Ida pasti tahu rumahnya Andi” kataku. “Oh iya bener juga, ntar kita tanyakan pada Ida”.
Setelah pulang sekolah, aku pun berbaring sebentar sembari menuungu adzan zuhur, setelah itu aku bergegas mengambil air wudhu dan sholat. Setelah selesai sholat, aku pun berniat hendak tidur siang. Namun tiba-tiba, aku mendengar kabar bahwa Andi telah meninggal dunia. Mendengar kabar itu, aku langsung terkejut. Seketika tubuhku terasa ringan bagaikan kapas, lunglai bagai tak bertulang, hatiku terpaku, lidahku pun terasa kelu hingga tak mampu untuk mengucapkan sepatah katapun. Tak terasa, butir-butir air mengalir dari kedua kelopak mataku.
Aku benar-benar tidak percaya bahwa Andi akan mengalami takdir kematian secepat itu. Rasanya baru kemarin aku bertemu dengannya, mengajaknya berbicara. Tapi, apa mau dikata, semua itu sudah menjadi kehendak yang Maha Kuasa. Aku hanya berdoa semoga Andi mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.
Lalu sekitar jam 3 sore, aku pergi ke rumah Andi untuk melayatnya dan menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga Andi. Aku pun masuk ke dalam rumah Andi. Aku melihat Andi terbaring dengan tubuh ditutupi kain batik berwarna coklat. Aku pun tak sanggup melihatnya, lalu aku pun keluar dengan berurai air mata.
Rasa sedih dan kecewa bercampur jadi satu. Aku benar-benar merasa kehilangan sosok sahabat terbaik dalam hidupku. Lalu aku pun pergi ke tempat dimana Andi akan dimakamkan, agar aku bisa menyaksikan sekaligus melepas kepergiannya untuk terakhir kali sebelum ia menghadap kepada Sang Ilahi, serta mendoakan agar ia diterima di Sisi Allah yang Maha Kuasa.
“Selamat jalan Andi, semoga kamu bahagia di alam sana”
Monday, September 29, 2014
Posted by Unknown
Tag :

Kepastian Mu



Awal tahun yang kelabu. Disambut dengan awan mendung dan cuaca yang tak bisa diandalkan. Tapi kemeriahan masih saja menyelimuti umat manusia sampai ke pelosok dunia. Letusan kembang api bagaikan upacara wajib di setiap awal tahunnya, sangatlah indah mewarnai langit gulita. Tapi tetap saja, kilauan bintang 2014 masih jauh lebih indah mewarnai langit meski nampak redup tertutup awan kelabu. Sorak-sorai gembira masyarakat pada antusias menyambut 2014 dan melepaskan tahun indah 2013. Tidak hanya di lingkungan saja, jejaring sosial pun seperti Facebook, Twitter, Instagram, BBM, Path, WeChat juga rame dengan berbagai harapan, ucapan selamat tahun baru, dan macam-macam pose dari berbagai foto yang terunggah. Semua itu hanya untuk sekedar meramaikan tahun baru sekaligus menyambut libur panjang.
Semua meramaikannya dengan begitu rapi dan melebihi upacara adat saja. Kegembiraan, kebersamaan, ketenangan, canda tawa seakan terlampiaskan jua menemani tahun 2014 ini, tapi tidak denganku. Awal tahun ini sangatlah sepi, kesedihan menyelimuti kalbu, rasanya tahun ini amat sangat jauh berbeda dengan tahun kemarin. Hanya sedikit senyuman yang dapat ku kutip di awal tahun ini.
Terlalu banyak basa-basi gini, jadinya kelupaan deh ngenalin diri. Namaku Chaca Azhari. Lahir di kota Palu tanggal 23 April 1999. Orang yang terlahir di keluarga sederhana, dibaluti dengan berbagai macam karakter, pintar, rajin shalat, baik, tidak banyak omong, lugu, sopan, juga cantik (kata orang sih gitu). Aku sekarang kelas 3 SMP.
Dahulu, aku mempunyai 5 orang sahabat yang setia menemaniku, menjagaku, membuatku tersenyum, menghapus air mataku, yang selalu siap sedia memberikan bahunya tempatku bersandar disaat ku terjatuh. Selain itu banyak teman yang selalu ada untuk membantuku mengerjakan PR dan mengajariku berbagai hal. Tak lupa juga seseorang yang selalu menemani siang dan malamku, menjagaku, melindungiku, memberi support, segalanya yang kubutuhkan dia juga selalu ada, itulah Ari. Ari adalah kekasihku yang sekaligus bagaikan sahabat sejati dan orangtua untukku. Hidupku begitu indah, tak dapat ku merangkumnya satu per satu. Kesenangan selalu berpihak kepadaku. Sampai-sampai air mata tak pernah lagi menetes di pipiku. Ku rasa, seisi dunia sangat menyayangiku hingga mereka tak rela melihatku bersedih dan seakan-akan dunia selalu ingin melihat senyumku terpancarkan. Jika senyumku tak nampak, langit begitu bersedih hingga hujan pun juga mengiringi hari kesedihanku. Mungkin itulah penyebab awal tahun ini yang tak jarang diguyuri hujan tiap minggunya.
Ya, memang tahun ini kesedihan sedang melandaku. Semuanya meninggalkanku, entah salahku ada dimana sehingga tuhan menjadikanku seperti sosok sebatang kara yang hanya hidup dalam kesendirian di bumi ini. Sahabat dan seorang lelaki yang dekat denganku kini telah menjauh dari hidupku. Entah dimana mereka kini berlabuh, semuanya tak lagi terlihat oleh kacamata. Mereka pergi, sekarang keadaanku juga mulai memburuk. Penyakit yang dulu kini kembali mengerogoti kesehatanku.
Terkadang aku hanya bisa mengoceh tak jelas juga mencaci tuhan. “Menurutku tuhan tidak adil, tuhan sangatlah jahat padaku, tuhan mungkin tak ingin lagi menganggapku sebagai hambanya, menurutku tuhan sangatlah egois!” itu selalu terlintas dalam benakku, entah berapa banyak setan dan iblis yang menggodaku untuk mengatakan itu hingga aku tak lagi menghiraukan sebanyak apa dosa yang ku perbuat. Beribadah pun jarang ku laksanakan, ummi dan abi pun ku lihat telah bosan menyuruhku.
Aku bingung salahku ada dimana. Aku tak melakukan sesuatu yang tuhan benci, tapi kenapa tuhan menakdirkan kepadaku sesuatu yang aku tak suka. Kehilangan sahabat-sahabatku, kekasihku, teman-teman pun menjauhiku, juga penyakit itu berjumpa lagi denganku bahkan labih parah dan melemahkan organ hatiku. “Oh, tuhan! Apa salahku padamu hingga kau membuatku menderita seperti ini?” keluhku dalam kesah.
Di liburan kali ini, aku hanya menghabiskan waktuku di dalam kamar, bercengkerama dengan tembok, berhadapan dengan TV, membaca berbagai buku, bersandar di ranjang, juga bermain dan berteman dengan bermacam-macam jenis obat dokter. Tak ada keseruan sama sekali yang mampu mengembalikan senyumku yang dulu. Tak ada cinta lagi yang dapat ku rasakan, tak ada lagi kesetiaan yang mampu menjagaku dalam gelapku, tak ada lagi cahaya yang mampu menyinari hatiku, tak ada lagi canda tawa yang mampu menghiburku, dan tak ada lagi kasih yang tertorehkan untukku. Hidupku begitu hampa, membuatku semakin yakin bahwa hidupku bukan disini lagi. Entah dimana harus ku tempatkan tubuhku yang hanya dibalut dengan kesedihan ini, entah harus kubawa kemana kenangan indahku bersama kalian, sahabat dan sosok pria yang mampu memenangkan hatiku.
Dua minggu liburan awal tahun telah berlalu, waktunya kembali ku tampakkan wajahku pada sang mentari, menampakkan wajah lesu, sedih, dan tak berdaya seperti ini ke hadapan milyaran pasang mata di dunia ini. Ingin rasanya ku tutup rapat-rapat kesedihan dan masalah yang ku hadapi, tapi tetap saja semuanya seakan menampakkan identitasnya bahwa aku sedang bersedih dan ditimpa masalah buruk. Dulu setelah libur seperti ini, detik-detik memasuki waktu sekolah adalah hal yang paling ku rindukan, kini semuanya berbeda. Rasanya aku ingin secepat mungkin berhenti sekolah, aku tak ingin melihat dan dilihat banyak orang dengan kondisiku yang sekarang. Tapi, aku harus sekolah! Aku ingin memperlihatkan kepada Tuhan bahwa aku bisa hidup tanpa bantuannya. Aku tetap melaksanakan kewajibanku sebagai pelajar.
Seminggu telah berlalu, ku rasa dalam waktu ini aku telah berhasil menaklukkan takdir buruk Tuhan kepadaku. Meskipun aku tetap berjalan tanpa Sahabat dan Pujaan hatiku. Semuanya ku pendam sendiri, aku juga tak memberitahukan kepada orang-orang bahwa aku sedang sakit parah.
Hari Senin, upacara pengibaran bendera Merah Putih terlaksanakan. Ternyata aku pingsan. 15 menit kemudian, mataku pun perlahan ku buka. Aku sekarang ada di UKS hanya sendiri tanpa seorang pun menemaniku. Air mataku tak dapat ku bendung sudah, kini ia mengalir begitu hebatnya. Tak lama kemudian, seorang wanita bercadar nampak kedua bola matanya sedang menatapku. Tiap langkahnya membuatku takut dan curiga padanya. Entahlah, pikiran negatif sempat terlintas di fikiranku saat melihat penampilannya, mengira dia seorang wanita pembom bercadar yang di TV-TV. Aku langsung terbangun dan mulai ingin berjalan ke luar ruang, aku sempat terjatuh kehilangan keseimbangan dan wanita itu membantuku untuk berdiri kembali. Dia adalah petugas UKS baru, namanya Ibu Nisa. Dia wanita yang baik, ingin sekali ku menatap wajahnya itu, bagaimanakah rupa wajah di balik cadar hitam itu? Dia pasti cantik, ya.. Secantik amal ibadahnya.
Satu jam mata pelajaran terlewatkan lantaran aku asyik berbincang-bincang dengan Bu Nisa. Sempat pula ku ceritakan keadaanku dengan kesedihan yang selalu menemani hari-hariku. Tak kuasa menahan tangisku, air mata ini bercucuran. Bu Nisa kini berhasil menenangkan perasaanku dan membuatku kembali bersemangat menjalani hidup bak sebatang kara. “Kamu harus tegar, kita diciptakan bukan untuk sekedar menikmati kebahagiaan saja, tapi kita juga dituntut untuk tegar menjalani cobaan dan melewatinya dengan hati yang sabar, Tuhan tak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambanya” ujar Bu Nisa sambil memelukku. Perasaanku sudah tenang dan badanku juga udah enakan, ku putuskan untuk pamit sama Bu Nisa dan mengucapkan banyak terima kasih pada Bu Nisa.
Teng.. Teng.. Teng.. Suara bel pun berbunyi, sekarang waktunya pulang ke rumah yang sangat membuatku seperti tahanan polisi. Oh Tuhan, haruskah sekuat ini ku jalani cobaanmu? sampai kapan? apa aku akan mati dengan kondisi seperti ini?. Sesampaiku di rumah, ku lihat Ummi dan Papa sedang bertengkar. Kepalaku pusing, tubuhku kehilangan keseimbangan, ingin ku hentikan pertengkaran yang terjadi, tapi seketika itu juga tubuhku melemah dan jatuh pingsan.
Sejam berlalu, saat ku buka mataku, ternyata dugaanku benar. Ternyata aku sudah berbaring di rumah sakit dengan dibaluti selang infus, bantuan oksigen dan berbagai macam kabel yang entah apa gunanya. Mataku sempat menatap berbagai wajah yang tidak asing bagiku, iya.. itu adalah Kelima Sahabatku, Mantan Kekasihku (Ari), Kedua orangtuaku juga Dokter Gaffar (dokter kepercayaan keluargaku) yang didampingi dengan dua suster yang cantik. Kesedihan sedang menyelimuti wajah mereka. “Ummi, Papa, ada apa? Kok pada nangis?” tanyaku sambil menangis. Tapi mereka hanya bisa menangis dan menghiraukan pertanyaanku. “Kalian kenapa kesini? Apa kalian masih ingat sama aku? Kalian kan benci sama aku. Ari? Kamu juga? Kenapa kesini.. apa kamu mau ngeliat aku mati juga?” tanyaku perlahan. “Aku sayang kamu. Kamu harus sembuh, apapun caranya. Kami disini ada untuk kamu” jawab Ari sambil menyembunyikan kesedihannya, matanya terlihat berkaca-kaca. “Bukannya kalian memutuskan untuk menjauhiku? Dan kamu…” ujarku. Nafasku mulai menyempit, Dr. Gaffar pun memberhentikan percakapan dan menyuruhku untuk beristirahat. Aku tertidur pulas, dan tak menyangka sebulan sudah ku pejamkan mata ini.
Ternyata Bu Nisa selalu ngejenguk aku setiap hari, dan sekarang Bu Nisa ada di sampingku sambil mambacakanku lantunan ayat suci Al-Qur’an. Semuanya menangis saat ku bangun, aku hanya bisa senyum seadanya saja. Dan benar saja, Kelima sahabatku dan Ari pun juga hadir disini.
Aku hanya bisa berkata “tersenyumlah! Waktu yang akan menjawab semuanya, kini aku telah berada di ujung waktu. Itulah takdirku”, Ummi dan Papa langsung memeluk erat tubuhku yang perlahan semakin melemah. Dr. Gaffar pun datang dan tersenyum padaku dan ingin memeriksa keadaanku. “Tak usah Dok, kini memang telah waktunya” ujarku sambil meneteskan air mata. Bu Nisa langsung mendekatkan bibirnya ke dekat telingaku dan melafadzkan kalimat syahadat. Perlahan ku coba mengikuti apa yang Bu Nisa ucapkan, tapi tetap saja terbata-bata, hingga akhirnya disitu pula waktuku terhenti dan ku hembuskan nafasku perlahan dan tersenyum di hadapan mereka.
Posted by Unknown
Tag :

Translate This Blog

Visitors

Follow Me On Facebook

Powered by Blogger.

Copyright © 2014 - 2015 Amir Sayonara - All rights reserved. | Powered by Blogger