- Back to Home »
- Cerpen »
- Masa Depan
Posted by : Unknown
Friday, October 31, 2014
Hari ini aku
membuka mataku dengan perlahan. Aku kesiangan. Siapa yang mau memikirkan
tentang kemacetan lalu lintas dan hal-hal lainnya ketika seseorang kesiangan? Aku langsung pergi ke
shower fast, yaitu ruangan untuk mandi yang dilengkapi dengan alat alat canggih
seperti water air, alat seperti shower di masa sekarang dengan air yang
berukuran mikro tetapi kecepatannya setara dengan kecepatan udara.
Dengan
sekejap, badanku pun bersih, dan sekejap lagi, aku pun sudah rapi. Aku pergi ke
sebuah ruangan kecil lalu aku menekan tombol di ruangan ini, lalu dalam sekejap
aku sudah berada di stasiun. Ini bernama flashfast, sebuah layanan yang
disediakan oleh pemerintah untuk memudahkan kehidupan masyarakat. flashfast
hanya menuju ke suatu arah, yaitu stasiun kota. Dan, disinilah kesibukan warga
kota Esperanza dimulai. Semua berawal dari stasiun ini, stasiun yang dibangun
sejak tahun 3211. Semua layanan ini gratis. Kereta ini bergerak dengan tenaga
magnet, surya, dan nuklir. Di jalanan tak ada lagi mobil dan motor berlalu
lalang. Yang ada hanyalah kereta kereta super cepat. Segala persiapan ku dari
mulai bangun pagi sampai di stasiun memakan waktu 2 menit. Jarakku dari rumah
ke sekolah 1 km. Dan 2 menit adalah waktu yang dibutuhkan untuk setiap jarak 1
km.
Dan, akhirnya
aku sampai di sekolahku. Sains And Mathematics Future School. Beruntung, aku
belum terlambat. Karena, duel menghadapi robot adalah hukuman bagi siswa yang
terlambat. Konyol memang. Namun, robot yang dimaksud adalah robot yang dibuat
untuk bertarung melawan para scoll minew, monster kecil yang suka mengganggu
masyarakat kota Esperanza. Pemerintah kami sebenarnya sudah berupaya agar para
scoll minew menjauh dari kota Esperanza dan tak pernah kembali lagi dengan
memasang gelombang Magnetic Longitudinal, namun para minew itu hanya pusing dan
menjauh pergi, lalu pasti akan datang lagi. Maka dari itu, para guru membuat
robot ini untuk melawan scoll minew sekaligus untuk menghukum para siswa.
Aku masuk ke
dalam kelasku dan melihat banyak temanku bermain main dengan Minichic, tanaman
hidup yang bisa berbicara dan bermain. Akhir akhir ini banyak anak sekolah yang
memilikinya hanya untuk sekedar bercanda dan melepas rasa bosan. Aku tak suka
dengan minichic itu. Jadi, aku pun tak berniat memiliki nya ataupun hanya
memainkannya saja. “Hai Cassidy! Bagaimana karya ilmiah mu itu? sudah selesai?”
Tanya Lyssa, salah satu temanku. “Yeah, sebenarnya itu sudah selesai. Namun,
aku belum merekomendasikan nya ke dewan guru karena aku masih belum yakin. Aku
akan berkonsultasi ke Miss Walden terlebih dahulu. “Cassidy, kau membuat karya
ilmiah? aku baru tahu itu. Apa tema nya?” taya Venisa, temanku lainnya. “Aku
membuat sebuah alat yang memanfaatkan tenaga surya dan elektromagnetik untuk
melemahkan suatu zat. Nah, zat itu susunannya sama dengan tubuh scoll minew.”
jelasku panjang lebar. “Waw! Kau begitu pintar, Cassidy!” puji Lyssa. “Ah,
tidak juga. Aku saja masih belum tahu apakah ini sempurna atau masih perlu
diperbaiki lagi.” Kataku. “Ah, tapi nanti hasil akhir nya pasti akan sangat
menakjubkan!” Puji Venisa. “Ya, semoga saja itu benar benar terjadi.” Balasku.
“Morning
student! Cassidy Alison, please back to your chair now.” Perintah guru
matematika kelasku, Miss Courtney “Yes, I understand miss.” aku langsung
kembali ke tempat duduk ku. “Okay, let’s we study the last lessons. Please open
your book page 112. I will teach this section.” baru sampai situ, kami semua
kaget dengan sebuah erangan keras. “What is this?” tanya Miss Courtney heran.
Aku dan teman teman ku pun ikut heran dengan suara tersebut. “Suara apa, itu?
keras sekali?” tanya Christine, teman sebangku ku. “Hei, apakah mungkin itu
suara Scoll Minew?” tanya ku balik. “I don’t know. Setiap scoll minew datang,
kita disuruh mengungsi bukan?” jawab Christine. “Iya, benar. Aku sendiri tidak
tahu. Aku hanya menebak.” jawabku. “Oh, No! That’s scoll minew’s voice. Don’t
be panic! Keep calm, student! I will check it, first. Why no one told us?” kata
Miss Courtney dengan sedikit panik lalu langsung mengunci pintu kelas.
Lyssa dan
Venisa langsung memalingkan pandangannya padaku. “Hey, Cassidy! tunjukanlah
karya ilmiahmu itu pada mereka!” pinta mereka berdua. “Hey, dengar aku ini
masih belum tahu dan yakin apakah alat ini berfungsi dengan baik atau tidak.
aku takut nanti akan membahayakan warga kota!” Jelasku. “Memang kau tak pernah
mencobanya di rumah ya?” Christine bertanya padaku. “Mana mungkin aku
mencobanya kalau tak ada Minew!” kataku kesal. “Cassidy, lihat dirimu! Kau itu
adalah gadis yang berbakat! Kenapa kau selalu tidak percaya diri?” Kata Venisa.
“Venisa, aku bukan tidak percaya diri, tapi aku hanya..” sampai situ
pembicaraanku terputus karena Miss Courtney datang bersama Miss Walden.
“Students, Scoll Minew come again in our town. Mereka datang dengan membawa
pasukan yang lebih banyak dan membawa senjata. Robot robot dan gelombang kita
tak dapat menghentikan mereka semua. Kini kalian ikut kami ke bawah tanah untuk
berlindung. Dan, janganlah merasa takut dan panik.” Kata miss Walden. “Miss
Walden! Cassidy memiliki karya ilmiah yang sangat hebat dan mampu untuk
membunuh semua scoll minew itu!” Kata Lyssa tiba tiba. Aku sangat kaget dan
menarik narik baju Lyssa agar dia berhenti berteriak teriak di depan guru.
“Diam, Lyssa!!” Kataku berulang ulang. “Cassidy, apa benar yang dikatakan Lyssa
itu?” tanya Miss Walden. “Ummm, itu benar miss, tapi aku masih belum tahu
apakah itu sempurna atau tidak.” kataku ragu ragu. “Baiklah, ayo tunjukan pada
kami. Tak peduli alat mu seperti apa, yang perting bisa untuk membasmi semua
minew itu.”
Aku pun
menunjukan mereka tempat ku menaruh karya ilmiahku. Aku memang sengaja
menaruhnya di sekolah agar lebih mudah saat menunjukannya pada dewan guru. Miss
Walden memperhatikan alatku. Lalu dia berkata “Ini sempurna! Tapi, aku masih
belum tahu cara kerjanya. Sebaiknya kau saja yang menggunakannya nanti,
Cassidy. Aku harap kau siap untuk menghadapi Minew.” Kata Miss Walden.
Aku pun
berjalan tegang menuju jalanan kota ditemani dewan guru. Aku tak percaya, ini!
Aku melihat minew dengan mata kepalaku sendiri! Mereka memang kecil, namun
menakutkan. Mereka memiliki wajah yang aneh. Sudahlah, aku tak ingin memandangi
minew terus menerus. Itu membuatku semakin takut. Aku segera menyalakannya lalu
membuat semua minew minew itu lumpuh. Yeah! Akhirnya aku berhasil mengalahkan
minew yang telah mengganggu penduduk kota! Minew itu kabur dan berjanji tak
akan kembali lagi ke kota kami. Senangnya! Semua penduduk kota pun menjadi
senang. Begitu juga teman teman dan guruku. Mereka begitu bangga padaku. Juga
orang tua ku. Aku diwawancarai dan masuk ke dalam televisi. Aku sering diminta
membuat karya ilmiah lainnya. Dan, lebih hebatnya lagi, aku mendapat beasiswa
sampai ke perguruan tinggi dan berhak bersekolah di sekolah favorit di
negaraku. Senang sekali rasanya. Semua berakhir bahagia.
